Pesona Keindahan Objek Wisata “ABANGAN” Desa Pringgarata

Pesona keindahan salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Lombok Tengah terletak di sebuah Desa yang berada di Kecamatan Pringgarata Lombok Tengah, tepatnya berada di Desa Pringgarata.
SONY DSC
SONY DSC
Merupakan objek wisata unggulan di Desa Pringgarata yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal setiap hari libur, tak terkecuali pada saat libur sekolah tiba. Objek wisata ini selain digunakan sebagai tempat pemandian para wisatawan, juga digunakan sebagai tempat berkemah bagi mereka yang senang dengan keindahan asri alam sekitar.
SONY DSC
SONY DSC
Dengan keindahan alam yang masih asri menjadikan objek wisata ini sebagai pilihan yang tepat bagi sebagian wisatawan yang ingin berakhir pekan. Selain disuguhi akan pesona alam pedesaan, di objek wisata ini juga terdapat sebuah air terjun yang berada di bawah bendungan.
Pesona alam pedesaan dengan hamparan sawah nan hijau memanjakan mata bagi setiap mereka yang sudah mengunjungi objek wisata ini, selain itu, para wisatawan juga akan disuguhi dengan berbagai macam jenis pepohonan yang ada disekitar lokasi wisata.
Biasanya hari libur menjadi hari yang tepat untuk mengunjungi objek wisata ini, karena selain ramai juga ada banyak jajanan khas yang selalu dijajaki oleh para pedagang yang berasal tidak jauh dari lokasi wisata.
Objek wisata ini merupakan sebuah lokasi peninggalan bangunan sejarah yang dahulunya dibangun oleh tentara Jepang ketika masih menduduki NKRI. Para penjajah saat itu memanfaatkan para penduduk sekitar sebagai tenaga pekerja untuk membangun bendungan air tersebut, sehingga sampai pada tahun 2010 pemerintah setempat, yakni pemerintah Desa Pringgarata melakukan pembugaran tempat ini dan meresmikannya sebagai sebuah objek wisata di Desa Pringgarata. Setiap tahunnya, berdasarkan data dari pengelola objek wisata ini, tidak kurang dari 1.000an lebih wisatawan mengunjungi tempat ini.

SONY DSC

Itulah sedikit tentang sebuah objek wisata yang menjadi icon dan kebanggaan masyarakat Pringgarata yang terletak di Gumi Tatas Tuhu Trasna Lombok Tengah.
(Red. RG)

LEARNING RUSSIAN LANGUAGE IS FUN

mawa-kawa_7311359-29060_640x360Поздравляем Вас с Днем рождения!
Будьте здоровы и жизнерадостны.
Пусть всё и всегда у Вас получается.
Мы Вас любим!

Ini adalah ucapan selamat ulang tahun dalam bahasa Rusia. Artinya adalah

“Kami mengucapkan selamat ulang tahun! Semoga selalu sehat dan berbahagia. Semoga tercapai selalu semua yang anda cita-citakan. We all love you!”

Di halaman ini, saya ingin menunjukkan cara belajar Bahasa Rusia semudah mungkin. Semoga kalian semua tertarik untuk belajar bahasa Rusia.

Alfabet Rusia terdiri atas 33 huruf. Lebih banyak daripada alfabet bahasa Indonesia.

А а dibaca seperti huruf a

Б б dibaca seperti huruf b

В в dibaca seperti huruf v, dengan menempelkan gigi atas ke bibir bawah. Terkadang juga dibaca seperti huruf w

Г г dibaca seperti huruf g

Д д dibaca seperti huruf d

Е е dibaca seperti bunyi ye

Ё ё dibaca seperti bunyi yo

Жж dibaca seperti zhe, dengan merapatkan gigi bagian depan atas dan bawah

З з dibaca seperti bunyi ze

И и dibaca seperti huruf i

Й й dibaca seperti bunyi iy, contoh seperti kata Sergey

К к dibaca seperti huruf k

Л л dibaca seperti huruf l

М м dibaca sepeti huruf m

Н н dibaca seperti huruf n

О о dibaca seperti huruf o

П п dibaca seperti huruf p

Р р dibaca seperti huruf r

С с dibaca seperti huruf s

Т т dibaca seperti huruf t

У у dibaca seperti huruf u

Ф ф dibaca seperti huruf f

Х х dibaca seperti bunyi kh, seperti pada kata Khairul

Ц ц dibaca seperti bunyi ts, seperti kata lalat tse-tse

Ч ч dibaca seperti bunyi ch

Ш ш dibaca seperti bunyi sh, seperti pada kata Sharukh Khan

Щ щ dibaca seperti bunyi shy, seperti pada kata syalalala

Ъ ъ tidak dibunyikan, hanya sebagai tanda pengeras

Ы ы dibaca seperti bunyi euy, seperti orang Sunda

Ь ь tidak dibunyikan, hanya sebagai tanda pelunak

Э э dibaca seperti huruf e, seperti pada kata bebek

Ю ю dibaca seperti bunyi yu

Я я dibaca seperti bunyi ya

Bagaimana? Menarik tidak? Untuk mempermudah mengingat huruf-huruf yang ada dalam alfabet Rusia, cobalah untuk menulis namamu dengan huruf-huruf tersebut. Misalnya nama kamu adalah Rizka Sanggar Darmawan, maka nama tersebut dalam huruf Rusia menjadi Ризка Санггар Дармаван. Misalnya namamu adalah Bayu Murtiawan, maka tulisan huruf Rusianya menjadi Баю Муртиаван. Coba deh.

Kosakata dalam bahasa Rusia.

Слова [slαva] ‘kata-kata’

Untuk memulai pelajaran mengenai kata-kata dalam bahasa Rusia, yang paling mudah adalah kata benda. Kata benda bahasa Rusia mengenal 3 jenis kelamin (род), yaitu:

Мужской род [muškoj rot] ‘maskulin’. Kata benda berjenis maskulin biasanya diakhiri dengan konsonan, Contohnya стул [stul] ‘meja’, человек [čιlαv’ek] ‘orang’, студент [stud’ιnt] ‘mahasiswa’.

Женский род [ženskij rot] ‘feminim’. Kata benda berjenis feminim biasanya diakhiri dengan vokal -а atau –я. Contohnya машина [mαš’inα] ‘mobil’, девушка [d’evuškα] ‘gadis’, студентка [stud’entkα] ‘mahasiswi’.

Средний род [srednij rot] ‘netral’. Kata benda berjenis netral biasanya diakhiri dengan vokal –е atau о. Contohnya окно [αkno] ‘jendela’, кофе [kof’ι] ‘kopi’, кино [kιno] ‘bioskop’.

Benda-benda di sekitar kita

Kursi               стол [stol]

Komputer        компютер [kαmp’jut’ιr]

Gadis kecil      девочка [d’evαčkα]

Lampu             лампа [lampα]

Pintu                дверь [dver’]

Rumah             дом [dom]

Pemuda           молодой человек [mαlαdoj čιlαv’ek]

Wanita             женшина [ženš’inα]

Kemeja            рубашка [rubaškα]

Tangan            рука [rukα]

Gedung           здание [sdan’ι]

Radio              радио [rad’ια]

Kertas             бумага [bymagα]

Buku               книга [kn’igα]

Sebagai penanda kata jamak dalam bahasa Rusia, akhiran pada suatu kata benda berubah. Kata jamak diakhiri dengan huruf и atau ы. Contohnya стулы [stuly] ‘meja-meja’, студенты [stud’ιnty] ‘mahasiswa’, учебники [učepn’ik’i] ‘buku buku pelajaran’, машины [mαš’iny] ‘mobil-mobil’, девушки [d’evuški] ‘gadis-gadis’, студентки [stud’entki] ‘mahasiswi-mahasiswi’, окно [αkno] ‘jendela’, кофе [kof’ι] ‘kopi’, кино [kιno] ‘bioskop’.

Setelah mengenal kata benda dalam bahasa Rusia, mari mengenal kata kerja. Kata kerja dalam bahasa Rusia, seperti juga kebanyakan bahasa Eropa, memiliki kekhasan yang disebut konjugasi. Konjugasi adalah perubahan akhiran pada kata kerja yang menandakan siapa (subjek) yang melakukannya. Contoh kata читать [čitat’] ‘membaca’. Konjugasi pada bahasa Rusia terdapat enam subyek, yaitu saya я, kamu ты, dia он/она/оно, kami мы, kalian вы, mereka они.

ЧИТАТЬ (infinitif)

Я                     читаЮ

Ты                   читаЕШЬ

Он/она/оно     читаЕТ

Мы                  читаЕМ

Вы                   читаЕТЕ

Они                 читаЮТ

Akhiran yang dibuat dengan huruf kapital adalah rumus. Artinya, untuk setiap kata kerja infinitif dengan akhiran –АТЬ, konjugasi yang terjadi seperti di atas.

Contoh penggunaannya dalam kalimat adalah:

Я читаю                                  Saya membaca

Ты читаешь                            Kamu membaca

Марина читает                      Marina membaca (Marina = dia)

Мы читаем                             Kami membaca

Вы читаете                             Kalian membaca

Папа и мама читают             Papa dan mama membaca (papa dan mama = mereka)

Selain kata читать, contoh lain yang merupakan dasar pada pengenalan konjugasi adalah kata kerja говорить.

ГОВОРИТЬ (infinitif)

Я                     говорЮ

Ты                   говорИШЬ

Он/она/оно     говорИТ

Мы                  говорИМ

Вы                   говорИТЕ

Они                 говорЯТ

CYRILLIC

No. Kapital Kecil Latin Diucapkan kira-kira
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

А

Б

В

Г

Д

Е

Ё

Ж

З

И

Й

К

Л

М

Н

О

П

Р

С

Т

У

Ф

Х

Ц

Ч

Ш

Щ

Ъ

Ы

Ь

Э

Ю

Я

a

б

B

г

д

е

ё

ж

з

и

й

к

л

м

н

о

п

р

с

т

у

ф

х

ц

ч

ш

щ

ъ

ы

ь

э

ю

я

A

B

V/W

G

D

Ye

Yo

Zh

J

I

Iy

K

L

M

N

O

P

R

S

T

U

F

Kh

Ts

C

Sy

Shy

Euy

E

Yu

Ya

‘ayam’ dalam ‘Ayam’

‘be’ dalam ‘Babe’ (bahasa Betawi)

‘we’ dalam ‘Volvo, Violence’

‘ge’ dalam ‘Gelo’ (bahasa Sunda)

‘de” dalam ‘Desa’

‘ye’ dalam ‘O-ye’

‘yo’ dalam ‘Yo-yo’

‘zhe’ dalam ‘zzzz’ (suara orang tidur)

‘je’ dalam ‘jelek’

‘i’ dalam ‘Ini’, ‘Ibu’

‘iy’ dalam ‘Sepoi’, ‘Amboi’

‘ka’ dalam ‘Kalap’

‘el’ dalam ‘Lama’

’em’ dalam ’Malam’

’en’ dalam ’Nanti’

‘o’ ; ‘a’ (bila tanpa tekanan) dalam ‘bola’

’pe’ dalam ’Parap’

’er’ dalam ’Rumah’

‘es’ dalam ‘Desah’

‘te’ dalam ‘Tepat’

‘u’ dalam ‘Bulu’

‘ef’ dalam ‘Filsuf’

‘kh’ dalam ‘Akhir’

‘ts’ dalam ‘Natsir’

‘c’ dalam ‘Cicak’

‘sha’ dalam ‘Syarat’

‘shya’ dalam ‘Shut up!” (bahasa Inggris)

Tanda pelemah

Tanda pengeras

’eu’ dalam ’keukeuh’ (bahasa Sunda)

’e’ dalam ’enak’

‘yu’ dalam ‘Layu’

‘ya’ dalam ‘Yakin’

Catatan :

Tidak terdapat huruf “H” dalam bahasa Rusia. Nama orang “Henry” dibaca “Genry” atau “Khenry” sedangkan nama kota, misalnya, “Holiwood” dibaca “Goliwud”.

Huruf diftong “Ng” juga tidak terdapat dalam bahasa Rusia. Nama orang Indonesia misalnya “Bambang” akan dibaca (Bam-ban).

PERESEAN “Sasaq Traditional Fight”

DSC_000030Peresean

Peresean is a fight between two men armed with sticks rattan (stranding) and armored skin buffalo thick and hard (shield called ende). This tradition is carried out by the public Sasak, Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. Peresean included in the dance area of Lombok. Fighter in Peresean Pepadu usually called’ and the referee called Pakembar.

History
Peresean formerly held to train agility in Sasak repel the invaders. Background Peresean is an emotional outlet for the king in the past when it won the duel against his enemies. In addition, the first Peresean also includes media used by the Pepadu’ to train agility, toughness, and courage in matches. That said, Peresean well as ceremony pleading rain for Sasak season dry. Now, Peresean held to welcome guests or tourist who visit Lombok.

Validation Letter

  Image

The AYVP@AsiaEngage Secretariat

Office of the Deputy Vice-Chancellor(Industry and Community Partnerships),

& Executive Director, AsiaEngage (ATNEU, AUN USR&S & AYVP)

UniversitiKebangsaan Malaysia,

(The National University of Malaysia)

43600 Bangi, Selangor,

  1. Date : Monday, May 12th 2014

 

Dear Sir/Madam,

 

RE: VALIDATION LETTER TO PARTICIPATE IN ASEAN YOUTH HERITAGE LEADERS PROGRAMME.

 

Refer to the subject,

MOH. GUFRON is a student of Faculty of Teacher Training and Education English Department UNIVERSITY OF MATARAM (UNRAM). We hereby agree to release him to participate in the ASEAN Youth Heritage Leaders Program which will take place in Malaysia from the 11 of August –15 September 2014.

For further verification please contact Faculty of Teacher Training and Education English Department UNIVERSITY OF MATARAM (UNRAM).

 

Signature/validation

 

 

…………………………………………..

(signature& official stamp)

My Tribe (Sasaq Lombok)

 

Image
BAB
I

PENDAHULUAN 

A.    Latar belakang

Indonesia, sebagai sebuah bangsa, terbentuk dari aneka kultur dan struktur social yang berbeda-beda. Berbeda dengan Jepang ataupun Korea, Indonesia memiliki kultur yang tidak homogen. Bahkan, untuk wilayah Papua saja terdapat kurang lebih 132 suku bangsa dan bahasa yang berlainan. Itu belum lagi sistem sosial dan budaya yang terdapat di pulau-pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan lainnya.

Indonesia merupakan sebuah ide yang dibentuk oleh para founding fathers guna mempersatukan wilayah-wilayah nusantara ke dalam ikatan nasional yang lebih besar secara politik. Tatkala seseorang mempelajari budaya Sekaten di Keraton Yogyakarta, dapat saja dikatakan bahwa ia tengah mempelajari budaya Indonesia. Atau, dikala seorang peneliti mempelajari budaya pemeliharaan tanaman hutan pada Suku Kubu di Jambi, ia juga dikatakan tengah mempelajari budaya Indonesia. Yogyakarta dan Jambi merupakan dua wilayah yang terikat ke dalam sebuah nasional yang bernama Indonesia.

Begitu juga ketika sesorang mengkaji suku sasak di pulau Lombok, itu juga termasuk telah mempelajari budaya Indonesia, karena Lombok merupakan salah satu pulau berpenghuni  yang  berada dalam lingkaran ribuan gugusan kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Berdasarkan uraian di atas, maka penulisan maaklah ini difokuskan pada masyarakat dan kebudayaan suku sasak di pulau Lombok Nusa Tenggara Barat.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas penyusun dapat merumuskan beberapa rumusan masalah yang berkenaan dengan hal tersebut, diantaranya adalah:

  Dimana suku sasak itu berada?

  Siapakah suku sasak itu?

  Bagaimana system soial masyarakat suku sasak?

  Bagaimana kebudayaan suku sasak tumbuh dan berkembang?

C.     Tujuan

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penyusunan makalah ini, diantaranya adalah:

         Untuk mengetahui tempat keberadaan suku sasak.

         Untuk mengetahui dan memahami suku sasak.

         Untuk mengetahui dan memahami system sosial masyarakat suku sasak.

         Untuk mengetahui dan memahai perkembangan dan pertumbuhan kebudayaan suku sasak.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Budaya

1.      Pengertian Budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk system agama dan politik, adat istiadat, pakaian, bahasa, dan seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.

Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan duniamakna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian,moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

2.      Unsur unsur budaya

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

1.      Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:

  Alat Alat Ekonomi.

  System Ekonomi.

  Sistem keluarga.

  Kekuasan politik.

2.      Bronislaw mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:

  Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya.

    organisasi ekonomi.

   alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama).

    organisasi kekuatan (politik).

3.      Komponen budaya

Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu :

         Kebudayaan material,

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanahliat, perhisalan, senjata, dan seterusnya.

           Kebudayaan nonmaterial 

adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

         Lembaga sosial

Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat.           

         Sistem kepercayaan

Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.

         Estetika

Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat.

         Bahasa

Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, memiliki sifat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebut. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain.

 

BAB III

MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN SUKU SASAK DI PULAU LOMBOK

A.    Pulau Lombok

Pulau Lombok  adalah sebuah pulau di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggarayang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelat barat dan Selat Alas di sebelah timur dari Sumbawa. Pulau ini kurang lebih berbentuk bulat dengan semacam “ekor” di sisi barat dayayang panjangnya kurang lebih 70 km. Luas pulau ini mencapai 5.435 km², menempatkannya pada peringkat 108 dari daftar pulau berdasarkan luasnya di dunia. Kota utama di pulau ini adalah Kota Mataram, dengan jumlah penduduk pada tahun 2001: 2.722.123 jiwa.

Pulau ini didominasi oleh gunung berapi Rinjani yang ketinggiannya mencapai 3.726 meter di atas permukaan laut dan menjadikannya yang ketiga tertinggi di Indonesia. Gunung ini terakhir meletus pada bulan Juni-Juli 1994. Pada tahun 1997 kawasan gunung dan danau Segara Anak ditengahnya dinyatakan dilindungi oleh pemerintah. Daerah selatan pulau ini sebagian besar terdiri atas tanah subur yang dimanfaatkan untuk pertanian, komoditas yang biasanya ditanam di daerah ini antara lain jagungpadikopitembakau dan kapas.

Lombok termasuk provinsi Nusa Tenggara Barat dan pulau ini sendiri dibagi menjadi 4kabupaten dan 1 kotamadya:

  Kotamadya Mataram

  Kabupaten lombok barat

  Kabupaten Lombok tenggah

  Kabupaten Lombok timur

  Kabupaten Lombok utara 

B.     Sejarah suku sasak

Era Pra Sejarah tanah Lombok tidak jelas karena sampai saat ini belum ada data-data dari para ahli serta bukti yang dapat menunjang tentang masa pra sejarah tanah lombok.Suku Sasak temasuk dalam ras tipe melayu yang konon telah tinggal di Lombok selama 2.000 tahun yang lalu dan diperkirakan telah menduduki daerah pesisir pantai sejak 4.000 tahun yang lalu, dengan demikian perdagangn antar pulau sudah aktif terjadi sejak zaman tesebut dan bersamaan dengan itu saling mempengaruhi antar budaya juga telah menyebar.

LOMB0K MIRAH SASAK ADI merupakan salah satu kutipan dari kitab Negara kertagama, sebuah kitab yang memuat tentang kekuasaan dan pemerintahaan kerajaan Majapahit. Kata Lomboq dalam bahasa kawi berarti lurus atau jujur, kata mirah berarti permata, kata sasak berarti kenyataan, dan kata adi artinya yang baik atau yang utama maka arti keseluruhan yaitu kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama. Makna filosofi itulah mungkin yang selalu di idamkan leluhur penghuni tanah lombok yang tercipta sebagai bentuk kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestariakan oleh anak cucunya.

Dalam kitab – kitab lama, nama Lombok dijumpai disebut Lomboq mirah dan Lomboq adi beberapa lontar Lomboq juga menyebut Lombok dengan gumi selaparang atau selapawis.

Asal-usul penduduk pulau Lombok terdapat beberapa Versi salah satunya yaitu Kata sasak secara etimilogis menurut Dr. Goris. s. berasal dari kata sah yang berarti pergi dan shaka yang berarti leluhur. Berarti pergi ke tanah leluhur orang sasak ( Lomboq ). Dari etimologis ini diduga leluhur orang sasak adalah orang Jawa, terbukti pula dari tulisan sasak yang oleh penduduk Lomboq disebut Jejawan, yakni aksara Jawa yang selengkapnya diresepsi oleh kesusastraan sasak.

Etnis Sasak merupakan etnis mayoritas penghuni pulau Lomboq, suku sasak merupakan etnis utama meliputi hampir 95% penduduk seluruhnya. Bukti lain juga menyatakan bahwa berdasarkan prasasti tong – tong yang ditemukan di Pujungan, Bali, Suku sasak sudah menghuni pulau Lomboq sejak abad IX sampai XI masehi, Kata sasak pada prasasti tersebut mengacu pada tempat suku bangsa atau penduduk seperti kebiasaan orang Bali sampai saat ini sering menyebut pulau Lomboq dengan gumi sasak yang berarti tanah, bumi atau pulau tempat bermukimnya orang sasak.

Sejarah Lombok tidak lepas dari silih bergantinya penguasaan dan peperangan yang terjadi di dalamnya baik konflik internal, yaitu peperangan antar kerjaan di lombok maupun ekternal yaitu penguasaan dari kerajaan dari luar pulau Lombok. Perkembangan era Hindu, Budha, memunculkan beberapa kerajaan seperti selaparang Hindu, Bayan. Kereajaan-kerajaan tersebut dalam perjalannya di tundukan oleh penguasaan kerajaan Majapahit dari ekspedisi Gajah Mada pada abad XIII – XIV dan penguasaan kerajaan    Gel – Gel dari Bali pada abad VI. Antara Jawa, Bali dan Lomboq mempunyai beberapa kesamaan budaya seperti dalam bahasa dan tulisan jika di telusuri asal – usul mereka banyak berakar dari Hindu Jawa hal itu tidak lepas dari pengaruh penguasaan kerajaan Majapahit yang kemungkinan mengirimkan anggota keluarganya untuk memerintah atau membangun kerajaan di Lomboq.

Pengaruh Bali memang sangat kental dalam kebudayaan Lomboq hal tersebut tidak lepas dari ekspansi yang dilakukan kerajaan Bali sekitar tahun 1740 di bagian barat pulau Lomboq dalam waktu yang cukup lama. Sehingga banyak terjadi akulturasi antara budaya lokal dengan kebudayaan kaum pendatang hal tersebut dapat dilihat dari terjelmanya genre – genre campuran dalam kesenian. Banyak genre seni pertunjukan tradisional berasal atau diambil dari tradisi seni pertunjukan dari kedua etnik. Sasak dan Bali saling mengambil dan meminjam dan terciptalah genre kesenian baru yang menarik dan saling melengkapi

Gumi sasak silih berganti mengalami peralihan kekuasaan hingga ke era Islam yang melahirkan kerajaan Islam Selaparang dan Pejanggik. Islam masuk ke Lomboq sepanjang abad XVI ada beberapa versi masuknya Islam ke Lomboq yang pertama berasal dari Jawa masuk lewat Lomboq timur. Yang kedua pengIslaman berasal dari Makassar dan Sumbawa ketika ajaran tersebut diterima oleh kaum bangsawan ajaran tersebut dengan cepat menyebar ke kerajaan – kerajaan di Lomboq timur dan Lomboq tengah.

Mayoritas etnis sasak beragama Islam, namun demikian dalam kenyataanya pengaruh Islam juga berakulturasi dengan kepercayaan lokal sehingga terbentuk aliran seperti waktu telu, jika dianalogikan seperti abangan di pulau Lomboq saja khususnya di kota Mataram.Jawa. Pada saat ini keberadaan waktu telu sudah tidak kurang mendapat tempat karena tidak sesuai dengan syariat Islam. Pengaruh Islam yang kuat menggeser kekuasaan Hindu di pulau Lomboq, hingga saat ini dapat dilihat keberadaannya hanya di bagian barat.

Silih bergantinya penguasaan di Pulau Lomboq dan masuknya pengaruh budaya lain membawa dampak semakin kaya dan beragamnya khasanah kebudayaan sasak. Sebagai bentuk dari Pertemuan(difusi, akulturasi, inkulturasi) kebudayaan. Seperti dalam hal Kesenian, bentuk kesenian di lombok sangat beragam.Kesenian asli dan pendatang saling melengakapi sehingga tercipta genre-genre baru. Pengaruh yang paling terasa berakulturasi dengan kesenian lokal yaitu kesenian bali dan pengaruh kebudayaan islam. Keduanya membawa Kontribusi yang besar terhadap perkembangan ksenian-kesenian yang ada di Lombok hingga saat ini. Implementasi dari pertemuan kebudayaan dalam bidang kesenian yaitu, Yang merupakan pengaruh Bali ; Kesenian Cepung, cupak gerantang, Tari jangger, Gamelan Thokol, dan yang merupakan pengaru Islam yaitu Kesenian Rudad, Cilokaq, Wayang Sasak, Gamelan Rebana.

Suku bangsa sasak yang memdiami pulau Lomboq menggunakan bahasa daerah sasak. Pada umumnya bahasa daerah sasak dibagi dua yaitu bahasa halus dan bahasa jamaq. Bahasa halus digunakan untuk berbicara dengan yang lebih tua, orang tua dan dengan golongan bangsawan sasak. Sedangkan bahasa jamaq digunakan dalam bahasa sehari – hari terutama dalam pergaulan masyarakat biasa. Masyarakat suku sasak dalam stratifikasi sosialnya dibagi dua kelompok yaitu golongan bangsawan atau permenak dan kelompok rakyat biasa yang disebut jajar karang atau kaula. Perbedaan stratifikasi sosial sangat terlihat dalam prosesi upacara, seperti pada upacara sorong serah aji krama yaitu salah satu bagian dari upacara perkawinan adat sasak. Aji krama ( tingkat keutamaan ) golongan bangsawan mempunyai nilai yang tinggi dibandingkan golongan kaula dan pelaksanaan tata upacara lebih rumit dibandingkan tata cara perkawinan kalangan masyarakat biasa. Namun pada saat ini perbedaan stratifikasi sosial tidak seketat dulu hal ini tidak lepas dari pengaruh modernisasi.

C.     Agama Suku Sasak

Sebagian besar penduduk pulau Lombok terutama suku Sasak menganut agama Islam(pulau Lombok juga dikenal dengan sebutan pulau seribu masjid).

Agama kedua terbesar yang dianut di pulau ini adalah agama Hindu, yang dipeluk oleh para penduduk keturunan Bali yang berjumlah sekitar 15% dari seluruh populasi di sana. Penganut KristenBuddha dan agama lainnya juga dapat dijumpai, dan terutama dipeluk oleh para pendatang dari berbagai suku dan etnis yang bermukim di pulau ini.

Organisasi keagamaan terbesar di Lombok adalah Nahdlatul Wathan (NW), organisasi ini juga banyak mendirikan lembaga pendidikan Islam dengan berbagai level dari tingkat terendah hingga perguruan tinggi.

Di Kabupaten Lombok Utara, tepatnya di daerah Bayan, terutama di kalangan mereka yang berusia lanjut, masih dapat dijumpai para penganut aliran Islam Wetu Telu (waktu tiga). Tidak seperti umumnya penganut ajaran Islam yang melakukan salat lima kali dalam sehari, para penganut ajaran ini mempraktikan salat wajib hanya pada tiga waktu saja. Konon hal ini terjadi karena penyebar Islam saat itu mengajarkan Islam secara bertahap dan karena suatu hal tidak sempat menyempurnakan dakwahnya.

Terdapat juga sebuah kumpulan kecil orang sasak yang disebut Bodha (jumlah: ± 8000 orang) yang menduduki kampung Bentek dan di curam Gunung Rinjani. Agama mereka tidak mempunyai pengaruh Islam dan amalan utama mereka adalah memuja dewa-dewaanimisme. Ajaran agama Hindu dan Buddha juga dimasukkan di dalam upacara agama mereka.

Agama Bodha mempercayai adanya lima tuhan yang besar, yang paling tinggi dikenali sebagai Batara Guru. Tuhan yang lain adalah Batara Sakti dan Batara Jeneng bersama isteri mereka Idadari Sakti dan Idadari Jeneng. Namun kini, penganut agama Bodha sedang diajarkan mengenai agama Buddha yang ortodoks oleh sami-sami yang dihantar oleh persatuan besar Buddha terbesar negara Indonesia.

D.    Bahasa

Disamping bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, penduduk pulau Lombok (terutama suku Sasak), menggunakan bahasa Sasak (bahasa asli) sebagai bahasa utama dalam percakapan sehari-hari. Di seluruh Lombok sendiri bahasa Sasak dapat dijumpai dalam empat macam dialek yang berbeda yakni dialek Lombok utara , tengah, timur laut dan tenggara. Selain itu dengan banyaknya penduduk suku Bali yang berdiam di Lombok (sebagian besar berasal dari eks Kerajaan Karangasem), di beberapa tempat terutama di Lombok Barat danKotamadya Mataram dapat dijumpai perkampungan yang menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa percakapan sehari-hari.

E.     Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk suku Sasak berasal dari sektor pertanian dengan daerah tersebur diwilayah kabupaten lombok timur, selain itu juga dalam bidang peternakan dan hanya sebagian kecil bermata pencahariannya dari Pariwis

F.      Kebudayaan

1.      Adat istiadat

Adat istiadat suku sasak dapat di saksikan pada saat resepsi perkawinan, dimana perempuan apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan “Merarik” atau “Selarian“. Sehari setelah dilarikan maka akan diutus salah seorang untuk memberitahukan kepada pihak keluarga perempuan bahwa anaknya akan dinikahkan oleh seseorang, ini yang disebut dengan “Mesejati” atau semacam pemberitahuan kepada keluarga perempuan. Setalah selesai makan akan diadakan yang disebut dengan “Nyelabar” atau kesepakatan mengenai biaya resepsi.

2.      Presean Simbol Kejantanan Taruna (Pemuda) Sasak

Budaya Presean atau bertarung dengan rotan memang sudah dikenal masyarakat Lombok sejak lama. Namun budaya yang penuh dengan kekerasan itu berubah menjadi unik ketika dipadukan gaya bela diri yang unik dan lucu dari pemainnya.

Presean adalah salah salah satu kekayaan budaya bumi gogo rancah (lombok). Acara ini berupa pertarungan dua lelaki Sasak bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) serta berperisai kulit kerbau tebal dan keras (ende). Petarung biasa disebut pepadu. Presean bermula dari luapan emosi para prajurit jaman kerajaan taun jebot (dahulu kala) sehabis mengalahkan lawan di medan perang. Acara tarung presean ini juga diadakan untuk menguji keberanian/nyali lelaki sasak yang wajib jantan dan heroik saat itu.

Uniknya dari pertarungan presean, pesertanya tidak pernah dipersiapkan secara khusus. Pepadu atau petarung  diambil dari penonton yang mau adu nyali dan ketangguhan mempermainkan tongkat rotan dan perisai yang disediakan. Penonton/calon peserta bisa mengajukan diri atau dipilih oleh wasit pinggir (pakembar sedi). Setelah mendapat lawan, pertarungan akan dimulai dan dimpimpin oleh wasit tengah (pekembar).

Tarian rotan dari Lombok ini  sudah dikenal masyarakat Sasak secara turun temurun. Awalnya merupakan sebuah bagian dari upacara adat  yang menjadi ritual untuk memohon hujan ketika kemarau panjang. Sebuah tradisi-yang dalam perkembangan kemudian-sekaligus berfungsi sebagai hiburan yang banyak diminati. Sebagai salah satu upaya melestarikan budaya daerah, Presean Lombok pun mulai sering dilombakan. Pertandingan diakhir dengan salam dan pelukan persahabatan antar petarung. Tanda tiada dendam dan semua hanyalah permainan. Benar-benar sportif.

Adegan seperti ini sering di lakukan masyarakat pulau lombok apa bila ada acara adat, tidak heran masyarakat sangat antusias untuk menonton acara seperti ini,selain dapat menarik wisatawan mancanegara wisatawan lokal pun berbondong-bondong menyaksikan acara ini. Dalam adengan presean tidak jarang salah satu dari orang yang presean mengalami luka yang cukup parah tapi mereka tetap senang dan bergembira.

 

BAB IV

PENUTUP

A.    Simpulan

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang (masyarakat) dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sedangkan, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Pulau Lombok  adalah sebuah pulau di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggarayang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelat barat dan Selat Alas di sebelah timur dari Sumbawa. samudra indonesaia di sebelah utara dan samudra hindia disebelah seletan.

Etnis Sasak merupakan etnis mayoritas penghuni pulau Lombok, suku sasak merupakan etnis utama meliputi hampir 95% penduduk seluruhnya. Pemeluk agama islam yang taat, dengan bahsa sasak sebagai bahasa utama dalam berkomonikasi kehidupan sehari-hari. Bermata pencaharian sebagai petani.

Di daerah lombok secara umum terdapat 3 Macam lapisan sosial masyarakat, yaituGolongan Ningrat, Golongan Pruangse, dan Golongan Bulu Ketujur (Masyarakat Biasa).

Adat istiadat suku sasak dapat di saksikan pada saat resepsi perkawinan, yang dikenal dengan sebutan “Merarik” atau “Selarian“.

Budaya Presean atau bertarung dengan rotan salah satu kekayaan budaya gumi (bumi) gogo rancah (lombok).  Berupa pertarungan dua lelaki Sasak bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) serta berperisai kulit kerbau tebal dan keras (ende). Petarung disebut pepadu. Acara tarung presean ini juga diadakan untuk menguji keberanian/nyali lelaki sasak yang wajib jantan dan heroik saat itu. Awalnya merupakan sebuah bagian dari upacara adat  yang menjadi ritual untuk memohon hujan ketika kemarau panjang.

 

REFERENSI

http://lombokgilis.com/budaya-presean-simbol-kejantanan-taruna-sasak-lombok.html

www.google.com

www.wikipedia.com

PERAN PEMUDA DAN MAHASISWA DALAM MEMPERSIAPKAN GENERASI EMAS INDONESIA YANG BERAKHLAQ LOKAL DAN BERFIKIRAN GLOBAL

PERAN PEMUDA DAN MAHASISWA DALAM MEMPERSIAPKAN GENERASI EMAS INDONESIA YANG BERAKHLAQ LOKAL DAN BERFIKIRAN GLOBAL 

Oleh    :

MOH. GUFRON

Duta Mahasiswa GenRe Putra Kab. Lombok Tengah 2014

Dipresentasikan pada :

Lomba Pemilihan Duta Mahasiswa GenRe Tingkat Provinsi NTB Tahun 2014

 

BAB I

PENDAHULUAN

Mahasiswa adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani berbagai macam harapan, dan diatas pundaknyalah sebuah amanat besar untuk memimpin bangsa ini diletakkan. Hal ini dapat dimengerti karena mahasiswa diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang mengisi dan melanjutkan estafet pembangunan.

Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. “The founding leaders” Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Kita mendirikan negara Republik Indonesia untuk maksud melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut, bangsa kita telah pula bersepakat membangun kemerdekaan kebangsaan dalam susunan organisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Hukum yang bersifat demokratis (democratische rechtsstaat) dan sebagai Negara Demokrasi konstitutional (constitutional democracy) berdasarkan Pancasila.

Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, tentu banyak permasalahan, tantangan, hambatan, rintangan, dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. Masalah-masalah yang harus kita hadapi itu beraneka ragam corak dan dimensinya. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, banyak pula masalah-masalah baru yang terjadi sekarang ataupun yang akan datang dari masa depan kita, selain itu, mahasiswa dan pemuda sekarang juga harus mampu beradaptasi dengan dunia global yang semakin modern. Dari pandangan mata telanjang kita, memang fenomena-fenomena tersebut bukanlah suatu permasalahan berat yang harus dan mesti ditakuti. Namun yang perlu diwaspadai adalah virus-virus yang ditimbulkan oleh fenomena sosial abstrak tersebut, sehingga mahasiswa dan pemuda tidak hanya menjadi pemuda yang cerdas, berkualitas dan tanggguh, tetapi juga menjadi mahasiswa yang kuat, yang mampu bertahan ditengah derasnya arus kebobrokan moral yang disebabkan oleh menduanianya pengaruh barat atau westernisasi.

Dalam menghadapi beraneka persoalan tersebut, selalu ada kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan-ketakutan sebagai akibat kealfaan atau kesalahan yang kita lakukan atau sebagai akibat hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan kita, seperti karena terjadinya bencana alam atau karena terjadinya krisis keuangan di negara lain yang berpengaruh terhadap perekonomian kita di dalam negeri. Dalam perjalanan bangsa kita selama 105 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 88 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 68 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 18 tahun terakhir sejak reformasi, banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. Saking banyaknya permasalahan yang kita hadapi, terkadang orang cenderung larut dalam keluh kesah tentang kekurangan, kelemahan, dan ancaman-ancaman yang harus dihadapi yang seolah-olah tidak tersedia lagi jalan untuk keluar atau solusi untuk mengatasi keadaan. Perkembangan kegiatan berpemerintahan dan bernegara setelah sepuluh tahun terus menerus bergerak cepat, memerlukan langkah-langkah konsolidasi yang tersistematisasikan. Berbagai fungsi yang bersifat tumpang tindih perlu ditata ulang. Berbagai kegiatan yang alfa dikerjakan, perlu ditangani dengan cara yang lebih baik. Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Kata Mahasiswa dibentuk dari dua kata dasar yaitu “maha” dan “siswa”. Maha berarti besar atau agung, sedangkan siswa berarti orang yang sedang belajar. Kombinasi dua kata ini menunjuk pada suatu kelebihan tertentu bagi penyandangnya. Di dalam PP No. 30 Tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi tertentu (Bab I ps.1 [6]), yaitu lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau kesenian. (Bab II ps. 1 [1]).

Dengan demikian, mahasiswa adalah anggota dari suatu masyarakat tertentu yang merupakan “elit” intelektual dengan tanggung-jawab terhadap ilmu dan masyarakat yang melekat pada dirinya, sesuai dengan “tri dharma” lembaga tempat ia bernaung.  Mahasiswa adalah anggota masyarakat yang berada pada tataran elit karena kelebihan yang dimilikinya, yang dengan demikian mempunyai kekhasan fungsi, peran dan tanggung-jawab. Dari identitas dirinya tersebut, mahasiswa sekaligus mempunyai tanggung jawab intelektual, tanggung jawab sosial, dan tanggungjawab moral.

Generasi Emas.

Generasi emas  yang diharapkan  yaitu generasi yang cerdas komprehensif, antara lain produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul.  Kenapa disebut Generasi Emas, karena emas adalah logam mulia, yang tak lekang oleh zaman.  Kemajuan bangsa ini akan ditentukan dengan adanya generasi penerus yang  bersifat mulia baik secara intelektual ataupun moral. Membentuk atau mencetak generasi emas tentulah tak semudah membalik telapak tangan. Perlu proses panjang yang bertumpu pada pembangunan karakter anak bangsa.

Peran Mahasiswa.

  • Mahasiswa Sebagai “Iron Stock”

Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.

Dalam konsep Islam sendiri, peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam Al-Maidah:54, yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai, lemah lembut kepada orang yang beriman, dan bersikap keras terhadap kaum kafir.

Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, hingga reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa.

Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran Iron Stocktersebut? Jawabannya tak lain adalah dengan memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya.

Kata iron stock sendiri mengacu pada sifat dan kodrat dari besi itu sendiri, yakni berkarat seiring dengan berjalannya jam waktu. Sehingga diperlukan pengganti dengan besi-besi baru yang lebih kuat dan kokoh. Begitulah juga dengan mahasiswa sebagai iron stock, yang suatu saat nanti akan digantikan dengan generasi penerusnya. Hal ini juga sesuai dengan kodrat manusia yang fana, yang memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran.

  • Mahasiswa Sebagai “Guardian of Value”

Mahasiswa sebagai Guardian of Value berarti mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai di masyarakat. Lalu sekarang pertanyaannya adalah, “Nilai seperti apa yang harus dijaga ??” Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus melihat mahasiswa sebagai insan akademis yang selalu berpikir ilmiah dalam mencari kebenaran. Kita harus memulainya dari hal tersebut karena bila kita renungkan kembali sifat nilai yang harus dijaga tersebut haruslah mutlak kebenarannya sehingga mahasiswa diwajibkan menjaganya.

Sedikit sudah jelas, bahwa nilai yang harus dijaga adalah sesuatu yang bersifat benar mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Nilai itu jelaslah bukan hasil dari pragmatisme, nilai itu haruslah bersumber dari suatu dzat yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.

Selain nilai yang di atas, masih ada satu nilai lagi yang memenuhi kriteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, nilai tersebut adalah nilai-nilai dari kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran ilmiah tersebut merupakan representasi dari kebesaran dan keberadaan Allah, sebagai dzat yang Maha Mengetahui. Kita sebagai mahasiswa harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan dan jaga di masyarakat.

Pemikiran Guardian of Value yang berkembang selama ini hanyalah sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada sebelumya, atau menjaga nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesigapan, dan lain sebagainya. Hal itu tidaklah salah, namun apakah sesederhana itu nilai yang harus mahasiswa jaga? Lantas apa hubungannya nilai-nilai tersebut dengan watak ilmu yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa? Oleh karena itu saya berpendapat bahwa Guardian of Value adalah penyampai, dan penjaga nilai-nilai kebenaran mutlak dimana nilai-nilai tersebut diperoleh berdasarkan watak ilmu yang dimiliki mahasiswa itu sendiri. Watak ilmu sendiri adalah selalu mencari kebanaran ilmiah.

Penjelasan Guardian of Value hanya sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada juga memiliki kelemahan yaitu bilamana terjadi sebuah pergeseran nilai, dan nilai yang telah bergeser tersebut sudah terlanjur menjadi sebuah perimeter kebaikan di masyarakat, maka kita akan kesulitan dalam memandang arti kebenaran nilai itu sendiri.

  • Mahasiswa Sebagai “Agent of Change”

Mahasiswa sebagai Agent of Change,,, hmm.. Artinya adalah mahasiswa sebagai agen dari suatu perubahan. Lalu kini masalah kembali muncul, “Kenapa harus ada perubahan ???”. Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita pandang kondisi bangsa saat ini. Menurut saya kondisi bangsa saat ini jauh sekali dari kondisi ideal, dimana banyak sekali penyakit-penyakit masyarakat yang menghinggapi hati bangsa ini, mulai dari pejabat-pejabat atas hingga bawah, dan tentunya tertular pula kepada banyak rakyatnya. Sudah seharusnyalah kita melakukan terhadap hal ini. Lalu alasan selanjutnya mengapa kita harus melakukan perubahan adalah karena perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak dan pasti akan terjadi walaupun kita diam. Bila kita diam secara tidak sadar kita telah berkontribusi dalam melakukan perubahan, namun tentunya perubahan yang terjadi akan berbeda dengan ideologi yang kita anut dan kita anggap benar.

Perubahan merupakan sebuah perintah yang diberikan oleh Allah swt. Berdasarkan Qur’an surat Ar-Ra’d : 11, dimana dijelaskan bahwa suatu kaum harus mau berubah bila mereka menginginkan sesuatu keadaan yang lebih baik. Lalu berdasarkan hadis yang menyebutkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, sedangkan orang yang hari ini tidak lebih baik dari kemarin adalah orang yang merugi. Oleh karena itu betapa pentingnya arti sebuah perubahan yang harus kita lakukan.

Mahasiswa adalah golongan yang harus menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan dikarenakan mahasiswa merupakan kaum yang “eksklusif”, hanya 5% dari pemuda yang bisa menyandang status mahasiswa, dan dari jumlah itu bisa dihitung pula berapa persen lagi yang mau mengkaji tentang peran-peran mahasiswa di bangsa dan negaranya ini. Mahasiswa-mahasiswa yang telah sadar tersebut sudah seharusnya tidak lepas tangan begitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bangsa ini melakukan perubahan ke arah yang salah. Merekalah yang seharusnya melakukan perubahan-perubahan tersebut.

Perubahan itu sendiri sebenarnya dapat dilihat dari dua pandangan. Pandangan pertama menyatakan bahwa tatanan kehidupan bermasyarakat sangat dipengaruhi oleh hal-hal bersifat materialistik seperti teknologi, misalnya kincir angin akan menciptakan masyarakat feodal, mesin industri akan menciptakan mayarakat kapitalis, internet akan menciptakan menciptakan masyarakat yang informatif, dan lain sebagainya. Pandangan selanjutnya menyatakan bahwaideologi atau nilai sebagai faktor yang mempengaruhi perubahan. Sebagai mahasiswa nampaknya kita harus bisa mengakomodasi kedua pandangan tersebut demi terjadinya perubahan yang diharapkan. Itu semua karena kita berpotensi lebih untuk mewujudkan hal-hal tersebut.

Sudah jelas kenapa perubahan itu perlu dilakukan dan kenapa pula mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam perubahan tersebut, lantas dalam melakukan perubahan tersebut haruslah dibuat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri, lalu menyebar terus hingga akhirnya sampai ke ruang lingkup yang kita harapkan, yaitu bangsa ini.

 

Urgensi penyikapan generasi muda yang kontekstual dengan permasalahan bangsa sekarang antara lain yaitu :

  • Meningkatkan integritas moral dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam kerangka membangun ketahanan mental dan nilai-nilai budaya bangsa dari ancaman pengaruh budaya asing (westernisasi) yang semakin menggejala.
  • Memupuk idealisme, patriotisme, cinta tanah air, persatuan dan kesatuan serta solidaritas pemuda untuk memperkokoh tetap tegaknya Negara Kesatuan RI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
  • Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui penguasaan IPTEK memasuki era Globalisasi yang diwarnai dengan tingginya tingkat kompetitif antar bangsa.
  • Membangun motivasi wirausaha (entrepreneurship) pemuda dalam rangka menumbuhkan kepeloporan dan kemandirian pemuda secara sosial ekonomi.
  • Membangun tatanan kehidupan sosial budaya menuju terwujudnya masyarakat madani, yakni masyarakat yang tertib, demokratis, adil, berperadaban dan sejahtera lahir batin.

Karakteristik Pemuda dalam Perspektif Islam.

Sebagai sumber ilmu dan rujuan terbaik, al-Qur`an tidak hanya menyebutkan para pemuda tersebut sebagai sebuah kisah yang indah, tapi juga menjelaskan karakteristik sosok pemuda ideal bagi generasi berikutnya. Ia tak cukup untuk dikenang saja tapi nilai yang paling utama adalah meniru perilaku dan akhlak mereka sebagai teladan-teladan terbaik yang pernah ada.

Pertama, memiliki syaja’ah (keberanian) dalam menyatakan yang haq (benar) itu haq (benar) dan yang bathil (salah) itu bathil (salah). Karakter utama pemuda Muslim adalah siap bertanggung jawab dan menanggung risiko dalam mempertahankan keyakinannya. Teladan spektakuler telah dicontohkan oleh pemuda Ibrahim pada masa Raja Namrudz, penguasa tirani ketika itu. Dengan gagah berani Ibrahim menghancurkan sekumpulan berhala kecil, lalu menggantung kapaknya ke leher berhala yang paling besar. Ibrahim ingin memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Kisah heroik ini dikisahkan secara bertutur dalam surah Al-Anbiya [21]: 56-70.

Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Seorang pemuda Muslim tak mengenal kata berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Semakin banyak ilmu yang dimilikinya, akan menghantarkan ia menyadari betapa banyak ilmu yang belum diketahui. Firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (Al-Baqarah [2]: 260)

Ketiga, sosok pemuda Muslim selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus. Sikap mereka layaknya pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang dikisahkan Allah dalam surah al-Kahfi. Mereka berkumpul untuk merencanakan sebuah kebaikan dan saling menguatkan di dalamnya. Bukan berkelompok untuk mengadakan konspirasi jahat atau merencanakan suatu keburukan. Jadi, para pemuda Muslim berkelompok bukan sekadar untuk huru-hara, kongkow-kongkow yang tidak jelas. Tetapi mereka berkelompok dalam kerangka ta’awun ala al-birri wa at-taqwa, bukan berkerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Keempat, selalu berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada perbuatan asusila. Dalam kondisi sekarang, hal ini menjadi suatu hal yang sangat berat. Dekadensi moral yang mendera masyarakat khususnya para pemuda. Belum lagi dominasi budaya Barat yang begitu menggila di tengah masyarakat menjadikan pergaulan islami menjadi sesuatu yang sangat mahal saat ini. Kisah kepribadian Nabi Yusuf sangat layak dijadikan teladan bagi para pemuda. Kala itu Yusuf digoda oleh Zulaikha di dalam ruangan tertutup. Tak ada seorang pun yang tahu perbuatan mereka selain mereka berdua saja. Namun dengan akhlak yang terjaga serta pertolongan Allah tentunya, akhirnya sang pemuda tampan itu bisa lolos dari jeratan bujuk rayu Zulaikha yang dibisikkan oleh setan laknatullah. Allah berfirman, “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf [12]: 22-24).

Kelima, memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi. Jati diri pemuda Muslim terlihat pada sikap tidak pernah menyerah pada rintangan dan hambatan. Ia memandang berbagai kesulitan hidup adalah peluang untuk mengukir prestasi dan sarana kematangan jiwa. Kekurangan materi yang melilit kehidupan sehari-hari, kesusahan hidup yang terus melekat erat tak jarang menjadikan seseorang kehilangan semangat hidup. Alih-alih berpikir positif untuk orang lain, seringkali orang seperti ini hanya bisa berpikir pragmatis saja. Sebaliknya, orang yang punya etos kerja tinggi akan berusaha terus. Meski duka lebih sering menyapa, tapi hal itu tak menyurutkan ghirah hidupnya. Ia tetap memiliki visi yang tajam serta himmah aliyah (tekad yang tinggi). Hal itu diperagakan oleh sosok pemuda Muhammad yang menjadikan tantangan sebagai peluang untuk sukses hingga ia tumbuh menjadi pemuda yang bergelar Al-Amin (terpercaya) dari masyarakat. Segala rintangan dan kesulitan hidup hanya menjadi batu loncatan bagi pemuda Muhammad meraih kesuksesan hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Rekontruksi Gerakan Pemuda dalam Upaya mengembalikan masa depan bangsa yang di nantikan keberadaanya dalam perwujudan kehidupan bangsa dan Negara Indonesia karena pemuda merupakan pewaris sejarah Bangsa yang mempuyai kesempatan dan kemamuan yang sangat tinggi yang memiliki peran sentralnya dalam berbangai bidang untuk kemajuan  antara lain :

  • Pemuda dan Mahasiswa harus sebagai agen perubahan
  • Pemuda harus bersatu dalam kepentingan yang sama.
  • Mengembalikan semangat nasionalisme dan partriotisme di kalalangan generasi muda
  • Menguatkan semangat nasionalisme tanpa harus tanpa harus meninggalkan jati diri daerah.
  • Perlunya kesepahaman bagi pemuda atau generasi muda dalam melaksanakan agenda-agenda perubahan.
  • Pemuda menjadi aktor untuk mewujudkan demokrasi politik dan ekonomi yang sebenarnya.
  • Pemuda atau generasi muda harus dapat memaikan perannya sebagai kelompok penekan atau pressure group.

Mahasiswa memiliki peran sosial yang tercermin dalam kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan. Pemikiran politik kritis mahasiswa terhadap pemerintahan sangat didambakan oleh rakyat. Di mata masyarakat umumnya, mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change) tatkala masyarakat terkungkung oleh tirani kebodohan. Demikian juga dengan potensi mahasiswa. Potensi itu dipergunakan untuk menjunjung tinggi kebaikan, namun bisa juga untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan. Demikianlah keadaan dan peran mahasiswa. Kiprah mahasiswa memang sangat didambakan dalam mengukir peradaban bangsa ini. Peranan mereka sangat didambakan oleh masyarakat sebagai pionir perubahan ke arah yang lebih baik.

 

 

Daftar Pustaka

http://www.slideshare.net

ekhfr.blogspot.com/201011peran-mahasiswa-sebagai-generasi.html

edukasi.kompasiana.com

http://ekhafr.blogspot.com/2010/11/peran-mahasiswa-sebagai-generasi.html

http://seputarkuliahan.blogspot.com/2010/10/peran-mahasiswa-sebagai-penerus-bangsa.html

http://saripedia.wordpress.com/tag/pemuda-ashabul-kahfi/

http://peran-mahasiswa.blogspot.com/

http://henydwi.wordpress.com/2012/05/02/bangkitnya-generasi-emas-indonesia-cita-cita-dalam-dunia-pendidikan/

https://rajabulgufron.wordpress.com/2014/04/06/pemuda-mahasiswa-dan-perubahan/

Pemuda, Mahasiswa dan Perubahan

Pemuda dan mahasiswa sama-sama diidentikkan dengan “agent of change”. Kata-kata perubahan selalu menempel dengan erat sekali sebagai identitas para mahasiswa yang juga dikenal sebagai kaum intelektualitas muda. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya harapan, harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang yang ada di negeri ini. Tugasnyalah melaksanakan dan merealisasikan perubahan positif, sehingga kemajuan di dalam sebuah negeri bisa tercapai dengan membanggakan.

Peran sentral perjuanganya sebagai kaum intelektualitas muda memberi secercah sinar harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi perubahan-perubahan positif di negeri ini. Tidak dipungkiri, bahwa perubahan memang tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi sinkronisasi yang mendarah daging dari tubuh dan jiwa para mahasiswa. Dari mahasiswa dan pemudalah selaku pewaris peradaban munculnya berbagai gerakan-gerakan perubahan positif yang luar biasa dalam lembar sejarah kemajuan sebuah bangsa dan negara.

Sejarah telah menorehkan dengan tinta emas, bahwa pemuda khususnya mahasiswa selalu berperan dalam perubahan di negeri kita, berbagai peristiwa besar di dunia selalu identik dengan peran mahasiswa didalamnya.

Berawal dari gerakan organisasi mahasiswa Indonesia di tahun 1908, Boedi Oetomo. Gerakan yang telah menetapkan tujuannya yaitu “kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa” ini telah lahir dan mampu memberikan warna perubahan yang luar biasa positif terhadap perkembangan gerakan kemahasiswaan untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Gerakan kemahasiswaan lainnya pun terbentuk, Mohammad Hatta mempelopori terbentuknya organisasi kemahasiwaan yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar di Belanda yaitu Indische Vereeninging (yang selanjutnya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia). Kelahiran organisasi tersebut membuka lembaran sejarah baru kaum terpelajar dan mahasiswa di garda depan sebuah bangsa dengan misi utamanya “menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan”.

Gerakan mahasiswa tidak berhenti sampai disitu, gerakannya berkembang semakin subur, angkatan 1928 yang dimotori oleh beberapa tokoh mahasiswa diantaranya Soetomo (Indonesische Studie-club),Soekarno (Algemeene Studie-club), hingga terbentuknya juga Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang merupakan prototipe organisasi telah menghimpun seluruh gerakan mahasiswa ditahun 1928, gerakan mahasiswa angkatan 1928 memunculkan sebuah idieologi dan semangat persatuan dan kesatuan diseluruh pelosok Indonesia untuk meneriakkan dengan lantang dan menyimpannya didalam jiwa seluruh komponen bangsa, kami putra putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu yaitu tumpah darah Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia , dan menjunjung bahasa satu yaitu bahasa Indonesia dan hingga kini kita kenal sebagai sumpah pemuda.

Gerakan perjuangan mahasiswa sebagai kontrol pemerintahan dan kontrol sosial terus tumbuh dan berkembang, hinggalah gerakan perjuangan mahasiswa sampai pada terjadinya peristiwa 10 tahun yang lalu yaitu tragedi trisakti mei 1998.

Lagi-lagi mahasiswa menjadi garda terdepan didalam perubahan terhadap negeri ini, gerakan perjuangan ini menuntut reformasi perubahan untuk mengganti rezim orde baru yang korupsi, kolusi, dan nepotisme serta tidak berpihak kepada rakyat dan memaksa turun presiden soeharto dari kursi kekuasaannya yang telah digenggamnya selama hampir 32 tahun.

Gerakan perjuangan mahasiswa tidak semudah yang kita bayangkan, perubahan ini harus dibayar mahal dengan meninggalnya empat mahasiswa universitas trisakti oleh timah petugas aparat yang tidak mengharapkan perubahan itu terjadi.

Sejarah panjang gerakan mahasiswa merupakan salah satu bukti, kontribusinya, eksistensinya, dan peran serta tanggungjawabnya mahasiswa dalam memberikan perubahan dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Peran mahasiswa terhadap bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu kaum, sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu kaum.

Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri didalam dada mahasiswa Indonesia baik yang ada didalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar diluar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, “ruh perubahan” itu tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia.

Gerakan perjuangan Mahasiswa Indonesia tidak boleh berhenti sampai kapanpun, gerakan perjuangan mahasiswa saat ini tidak hanya dengan bergerak bersama-sama untuk berdemonstrasi dan berorasi dijalan-jalan saja, akan tetapi wahai para “agent of change”, cobalah untuk bertindak bijak dengan intelektualisme, idealisme, dan keberanian mu untuk bisa senantiasa menanamkan ruh perubahan yang ada dalam dirimu untuk bisa memberi kebaikan dan berperan besar serta bertanggung jawab untuk memberikan kemajuan bangsa dan Negara Indonesia, sehingga seperti Hasan al Banna katakan “goreskanlah catatan membanggakan bagi umat manusia”.