ANALISA TINDAKAN KOMUNIKATIF

Bahwasanya setiap bahasa apapun di bumi ini memiliki struktur yang berbeda-beda dan tidak bisa dipaksakan sama seperti bahasa yang lainnya. Walaupun ada beberapa bahasa yang berasal dari satu rumpun yang sama, namun pasti dan wajib ada elemen yang akan menjadi pembeda di dalam bahasa tersebut. Oleh karena demikian, setiap bahasa memiliki keunikan dan ciri-khasnya tersendiri.

Namun bagaimanapun juga, ada satu persamaan yang tidak bisa kita nafikan dari beberapa perbedaan tersebut, yakni Interpretasi makna. Setiap orang cenderung akan menginterpretasikan makna bahasa yang tidak dimengerti ke dalam bahasa yang dia pahami. Walaupun berbeda dari segi struktur, namun pemaknaan ini akan selalu sama pada setiap bahasa apapun. Mengingat bahwa bahasa bukan hanya sebagai alat untuk memperoleh informasi saja ataupun sebagai alat untuk menyampaikan ide kepada orang lain pada saat berkomunkasi, namun lebih dari itu juga sebagai bahan pokok dalam memaknakan suatu teks dalam berkomunikasi.

Adapun pemaknaan teks pada saat berkomunkasi tidak bisa terlepas dari tiga hal berikut, diantaranya; Memahami konteks suatu teks, Memberikan tanggapan atau feedback baik itu dalam bentuk verbal maupun non-verbal (Baca *Semiotika) dan yang terakhir adalah Intensi si penyaji suatu teks atau The intention of the speaker (Habermas, 1981).

Dalam bukunya yang berjudul The Theory of Communicative Action; The Critic of Functionalist Reason, Habermas mengemukakan suatu teori untuk menunjukkan intensi dibalik ungkapan yang disampaikan oleh seorang pembicara pada saat berkomunikasi dengan orang lain. Teori tersebut adalah Teori Tindakan Komunikatif “Communicative Action Theory” atau biasa juga dikenal sebagai Speech Act Theory. Habermas mengklasifikasikan ada empat macam elemen tindakan komunikatif yang bisa digunakan untuk mengukur makna ungkapan seorang pembicara.

Adapun pengklasifikasian dari Teori Tindakan Komunikatif tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Imperatives-Power (Kekuasaan)

Jenis ini digunakan oleh seorang pembicara untuk menegaskan pernyataannya atau menunjukkan kekuasaannya dalam memberikan perintah kepada orang lain (Baca *Pendengar). Jenis ini tidak hanya digunakan oleh seorang yang memiliki sifat otoritatif, namun juga digunakan oleh seorang yang pernyataannya selalu ingin dituruti oleh pendengarnya, dimana biasanya akan ada sanksi yang diberikan ketika pernyataan tersebut tidak dituruti oleh orang yang diperintahkan (Baca *Pendengar).

Contoh;

TUTUP PINTU ITU!

JANGAN TUTUP PINTU ITU!

Pada contoh pertama bisa kita lihat bahwa pembicara memerintahkan kepada pendengarnya untuk melakukan suatu aksi atau perbuatan. Begitupun pada pernyataan kedua, pembicara memerintahkan kepada pendengar untuk tidak melakukan suatu aksi.

  1. Constatives-Truth (Fakta/Kebenaran)

Makna dari jenis ini adalah untuk menunjukkan suatu fakta yang sedang terjadi, dimana pembicara memberitahukan kepada pendengar bahwasanya ada sebuah kebenaran yang tidak bisa disangsikan.

Contoh;

SAYA MENYATAKAN BAHWA PINTU ITU TERBUKA!

SAYA TIDAK MENGATAKAN BAHWA PINTU ITU TERBUKA!

Makna dari pernyataan di atas sudah sangat jelas sekali, bahwa baik pembicara ataupun pendengar sama-sama mengetahui jikalau tidak ada kebohongan dibalik fakta yang saat itu terjadi pada saat mereka sedang berbicara.

  1. Regulatives-Rightness/Justice (Kebenaran/Keadilan)

Habermas mendefinisakan jenis ini dengan menghubungkannya kepada interaksi sosial seorang di masyarakat yang mana untuk membangun hubungan interpersonal seseorang dengan orang lain.

Contoh;

MOHON TUTUP PINTU ITU!

SAYA BERJANJI UNTUK MENUTUP PINTU ITU!

Pada contoh ini, pembicara lebih mengedepankan norma kesopanan dalam mengutarakan pernyataannya, baik itu yang bersifat meminta bantuan kepada orang lain atau melakukan suatu aksi dengan tidak melibatkan orang lain secara langsung. Jenis ini biasa digunakan untuk mempertahankan hubungan baik diantara interlocutor (Baca *Orang yang terlibat di dalam suatu percakapan), dimana tidak ada yang diutamakan sebagai pemberi perintah atau yang melakukan suatu perintah, namun lebih kepada meminta pertolongan.

  1. Expressives-Sincerity (Ketulusan)

Pada jenis yang terakhir ini, seorang akan lebih menunjukkan ketulusannya dalam mengungkapkan pernyataan kepada orang lain.

Contoh;

TERIMA KASIH SUDAH MENUTUP PINTU ITU!

SAYA BERHARAP SEKALI PINTU ITU SUDAH DITUTUP!

Dari kedua pernyataan tersebut, pembicara berusaha menampakkan ketulusan yang dia miliki dalam mengutarakan pernyataannya. Jadi, pendengar kemungkinan besar tidak akan merasa ragu untuk melakukan suatu aksi yang diungkapkan oleh pembicara.

Selanjutnya adalah, kami berusaha untuk mencoba menggunakan teori Tindakan Komunikatif ini sebagai media untuk menginterpretasikan pernyataan yang disampaikan oleh *Tersangka penista agama beberapa waktu yang lalu.

Adapun potongan transkripsi dari apa yang disampaikan dan saat ini sedang menjadi permasalahan besar yang membelit negeri ini adalah sebagai berikut:

“JANGAN MAU DIBOHONGI PAKAI AL-MAIDAH 51!”

Dari potongan transkripsi pernyataan yang disampaikan diatas, kemudian menyesuaikannya dengan contoh yang sudah ada, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kalimat yang diucapakan oleh beliau (Baca *Tersangka) lebih mengarah kepada tindakan komunikatif klasifikasi bentuk pertama, yakni Imperative. Oleh karena itu beberapa kemungkinan yang bisa kita tarik dari jenis ungkapan ini adalah, ada kemungkinan besar bahwa si pembicara adalah seorang yang memiliki kekuasaan (Baca *Pemimpin) disamping memiliki kekuasaan, dia juga adalah seorang yang kemungkinan besar bersifat otoriter kepada orang lain. Karena sudah jelas sekali kita bisa membedakan mana ungkapan yang merujuk kepada Power atau Kekuasaan dan mana ungkapan yang merujuk kepada Fakta, Kebenaran ataupun Ketulusan.

Pembicara berusaha untuk menegaskan kepada orang lain tentang apa yang dia yakini benar namun hal tersebut bukanlah suatu fakta yang sudah teruji kebenarannya. Dan kalau kita hubungkan bentuk klasifikasi dari apa yang diungkapkan dengan bentuk klasifikasi yang lain, maka kita akan bisa menemukan beberapa fakta berikut:

  • Imperative Vs Constatives

Mengungkapkan secara tegas suatu pernyataan yang tidak dasari akan suatu fakta yang nyata bisa kita katakan bahwa pernyataan tersebut adalah KEBOHONGAN BESAR. Karena si pembicara berusaha untuk membohongi pendengarnya dengan ungkapan yang tidak berlandaskan fakta yang sudah diketahui oleh kedua belah pihak (Baca *Pembicara dan Pendengar).

  • Imperative Vs Regulative

Dari bentuk pernyataan tersebut, tidak ada bukti yang mengindikasikan bahwa ungkapan itu bertujuan untuk membangun hubungan baik antara si pembicara dengan orang yang mendengarkannya, malah yang terjadi adalah sebaliknya, dimana ungkapan yang disampaikan lebih mengarah kepada memancing konflik atau mengusik emosi seorang yang sedang mendengar ungkapan tersebut.

  • Imperative Vs Expressive

Seseorang yang memiliki iktikad baik untuk mengungkapkan ketulusannya kepada orang lain akan lebih memilih diksi (Baca *Pemilihan kata) yang tepat untuk mempengaruhi perasaan orang lain agar percaya bahwa dia memang benar-benar tulus mengungkapkan ucapan tersebut.

Selain menggunakan teori yang dikemukakan oleh Jurgen Habermas dalam bukunya “The Theory of Communicative Action; The Critic of Functionalist Reason”, kami juga ingin mencoba untuk menelenjangi ungkapan tersebut kedalam struktur atau tata bahasa Indonesia.

Bentuk dasar dari ungkapan tersebut adalah berasal dari:

  1. “KAMU” MAU DIBOHONGI PAKAI AL-MAIDAH 51

Bentuk ungkapan tersebut sudah sempurna menjadi sebuah kalimat, karena sudah memiliki syarat-syarat berdirinya sebuah kalimat, yakni Subjek dan Predikat. Ungkapan tersebut memang tidak memiliki objek kalimat, karena predikat yang digunakan adalah predikat yang tidak membutuhkan objek, namun sudah dilengkapi dengan pelengkap yakni Kata Keterangan (Baca *PAKAI AL-MAIDAH 51). Dan sifat dari kalimat tersebut adalah dalam bentuk kalimat positif atau pernyataan (Positive statement).

  1. “KAMU TIDAK” MAU DIBOHONGIN PAKAI AL-MAIDAH 51

Bentuk ungkapan di atas itupun masih sama, yakni sudah memenuhi porsinya untuk berdiri sebagai sebuah kalimat, hanya saja sifatnya yang berbeda, yakni sebagai kalimat yang bersifat negatif (Negative statement).

  1. “TOLONG” MAU DIBOHONGI PAKAI AL-MAIDAH 51

Sifat dari ungkapan ini adalah permintaan (Request), dimana pembicara berusaha untuk memohon kepada pendengar untuk melakukan aksi dari ungkapan yang dia sampaikan. Bentuk dari pernyataan itupun masih dalam bentuk kalimat, bukan sebagai frase ataupun klausa.

  1. JANGAN MAU DIBOHONGI PAKAI AL-MAIDAH 51

Ungkapan inilah yang belakangan ini menjadi perdebatan panjang dan sudah bertransformasi sebagai konflik SARA (Baca *Suku Agama Ras dan Antar golongan) di negeri ini.

Jika kita mencoba untuk melihat ungkapan ini satu persatu, maka kita akan sedikit kebingungan untuk menyimpulkan apakah ungkapan ini sudah utuh sebagai sebuah kalimat atau tidak. Seperti yang kita ketahui, sebuah kalimat akan dikatakan sempurna apabila paling tidak sudah memiliki dua unsur utama, yakni Subjek dan Predikat. Dan yang menjadi pertanyaan besarnya adalah, DIMANAKAH LETAK SUBJEK DARI UNGKAPAN TERSEBUT?.

Pada dasarnya, ungkapan tersebut sudah shahih sebagai sebuah kalimat, walaupun yang menjadi permasalahan utamanya adalah letak subjek yang sampai saat ini belum kita ketahui. Kalau kita kembali melihat esensi dari kalimat ini yang disampaikan oleh orang pertama (Baca *Tersangka penista agama) kepada orang kedua (Baca *Pendengar) dalam kondisi komunikasi 2 arah (Baca *Ada pembicara dan pendengar) maka kita akan menemukan bahwa subjek dari kalimat adalah KAMU. Jadi kalimat utuhnya akan menjadi, JANGAN “KAMU” MAU DIBOHONGI PAKAI AL-MAIDAH 51.

Adapun sifat dari kalimat ini bukanlah sebuah kalimat postif, negatif, permintaan ataupun perintah, namun sifat dari kalimat ini adalah LEBIH KEJAM dari sifat-sifat kalimat yang lain, karena sifat dari kalimat ini adalah KALIMAT LARANGAN atau PROHIBITION. Bagaimana kita tahu bahwa kalimat tersebut adalah kalimat larangan atau bukan, jawabannya sudah sangat jelas sekali, yakni untuk membentuk suatu kalimat larangan, maka pembicara bisa membubuhkan kata yang memiliki makna untuk memerintahkan agar tidak melakukan suatu tindakan, yakni kata JANGAN atau DON’T.

Jadi kesimpulannya adalah, kami tidak sedang memperkeruh suasana yang saat ini terjadi, namun kami mencoba untuk sedikit berbagi tentang apa yang kami ketahui, yakni dengan melihat permasalahan tersebut dari dua sisi. Karena bagaimanapun juga, jikalau kalimat tersebut hanya diterjemahkan menggunakan struktur ketatabahasaan saja, maka yang akan kita temukan adalah bentuk kalimat yang sederhana dan tidak memiliki makna apapun. Namun karena esensi dari sebuah komunikasi adalah tidak hanya terbatas pada menyampaikan suatu pesan saja melainkan juga untuk memahami isi dari pesan tersebut.

Dan yang terakhir adalah, semua orang bisa menyajikan suatu interpretasi sebuah teks, namun tidak semua orang mampu melihat esensi dari teks yang dia interpretasi dengan menghubungkannya kepada konteks yang apa, dimana, kapan, siapa, mengapa dan bagaimana teks itu dihasilkan, walhasil yang akan terjadi adalah kesalahpahaman dan salah menafsiri suatu teks. Sebagai catatan, teks tidak hanya terbatas pada apa yang tertulis di atas kertas saja, melainkan semua hal yang bisa diinterpretasikan adalah disebut sebagai teks.

Untuk itu, sang penafsir juga perlu melihat teks tidak hanya dari makna yang tersirat di atas permukaannya saja (Baca *Ilmu Semantik), namun dia juga perlu menelusuri lebih jauh lagi tentang motivasi dibalik keberadaan teks tersebut atau intensi dari si empunya teks (Baca *Ilmu Pragmatik).

Wallahu’alambisshawab!

Jogjakarta, 16 November 2016

-Rajabul Gufron-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s