Memaknai “KEGAGALAN”

Oleh : Asep Sapa’at (Praktisi Pendidikan, Direktur Sekolah Guru Indonesia)

ImageMengapa Bangsa Asia Kalah Kreatif dari Barat.?” judul buku karya Prof. Ng Aik Kwang (University of Queensland – Australia) sangat menarik untuk ditelaah. Mungkinkah bangsa Asia bisa kalahkan tingkat kreativitas bangsa Barat di masa mendatang?

Nothing impossible. Yang jadi pertanyaan, apa yang harus diubah dari budaya bangsa Asia agar bisa jadi lebih kreatif? Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (uang, mobil, rumah, dan harta lain).

Rasa kecintaan terhadap suatu bidang (passion) kurang dihargai. Apa akibatnya? Bidang kreativitas kalah populer oleh profesi yang dianggap cepat mendatangkan kekayaan semisal profesi dokter dan pengacara. 
Di sisi lain, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara memperoleh kekayaan tersebut. Tak heran jika orang suka sekali cerita, novel, film yang memperlihatkan orang miskin kaya mendadak dengan berbagai sebab, bisa karena menemukan harta karun atau dinikahi pangeran kaya raya. Bahkan, perilaku koruptif pun dianggap hal wajar. Hal menarik lainnya untuk dicermati, orang Asia takut salah dan takut kalah. Sifat eksploratif kurang difasilitasi. 
Keberanian untuk melakukan kegagalan dan mengambil resiko menjadi kurang dihargai. Gagal itu memalukan. ‘Nggak boleh gagal, kita harus selalu sukses’, pameo yang bisa merusak alam bawah sadar kita.
“Gagal dan bangkit lagi”, proses alamiah untuk membuat anak belajar dari pengalaman. Bukankah pengalaman itu adalah guru terbaik dalam proses pendewasaan dalam kehidupan? Maka, beranilah mencoba. Takut gagal hanya akan membuat kita miskin pengalaman hidup. 
Bagi para ilmuwan zaman dahulu, pengalaman ‘gagal – coba – gagal lagi – coba lagi’ sebagai cara untuk menemukan hal-hal besar yang bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia. Gagal itu sunnatullah, begitulah hukum alamya. Perjalanan yang wajib dilakoni sebagai proses pendewasaan diri. Maka, tak pernah berani berbuat dan gagal, itulah kegagalan yang sesungguhnya.
Mari telisik siklus kehidupan keluarga kaya. Kita mulai sejak kelahiran anak. Anak yang lahir, ditangani dokter spesialis kebidanan di RS mewah. Pulang dijemput dan dibawa dengan mobil mulus. Sampai di rumah, kamar bayi pun telah dihias apik. Hadiah-hadiah jangan tanya karena begitu banyaknya. Jika tak cukup satu, baby sitter bisa ditambah. 
Apapun kebutuhan si kecil dipenuhi segera. Jangan sampai si kecil jatuh hingga menangis. Orang tua bakal marah besar. Masuk play group, TK hingga SLTA merupakan sekolah favorit. Kursus bahasa disiapkan agar segera bisa kuliah di luar negeri. Di USA atau di Eropa, perguruan tinggi terkenal pun dimasuki. Singkat kata anak ini lulus dan segera kerja. Bila sudah kerja, ternyata gaji teramat sedikit dibanding uang saku bulanan. Karena tak tega, orang tua segera membuat perusahaan. Sang anak pun duduk jadi direktur, bahkan langsung melonjak jadi presiden direktur. 
Dari segi jenjang pendidikan dan jabatan, perjalanan anak kaya begitu linear. Dari satu sukses, menuju ke tangga sukses yang lebih atas. Tetapi dari segi mentalitas, apa yang terjadi sesungguhnya. Dari segi halal, bisa dipastikan karena orang tuanya merupakan saudagar kaya. Namun dari segi kethayiban, ternyata kehalalannya tak beriring. Perhatikan sejak lahir, tumbuh balita, sekolah hingga bekerja, sang anak tak pernah terlatih jatuh. Segala sesuatu disiapkan sukses. Padahal dalam setiap kegagalan, ada hikmah yang harus dipelajari. Tiap kegagalan pasti menyakitkan. Yang sukses, pasti berkali-kali jatuh dan harus menyiasati diri agar bisa bangun lagi. 
Anak kaya yang terpenuhi segala kebutuhannya, juga tak merasakan betapa sulitnya naik kendaraan umum. Dia sulit membayangkan bisa berdesak-desakan di bus dan kereta api. Berjuang berdesakan untuk mengantri di loket pembelian tiket kendaraan. Tak pernah dia menyiasati diri bagaimana masuk kantor dengan sepatu kotor terinjak, atau coba mengatasi bajunya yang kusut. Juga tak pernah harus berlari-lari menghindari genangan air becek atau hujan yang mengguyur. Dan pernahkah merasakan betapa sakitnya dompetnya dicuri? Padahal kekayaannya tinggal beberapa lembar ribuan saja di dompet itu. Bus, pasar, kereta api, terminal dan kehidupan jalanan, itulah sesungguhnya sebuah hidup. 
Artinya apa? Artinya, anak-anak kaya itu merupakan kelompok eksklusif. Anak-anak yang tak pernah sulit ini, sesungguhnya sedang dirancang untuk jadi manusia gagal. Mereka belum pernah hidup menderita seperti rakyat banyak. Mereka hidup dengan segala proteksi dan kemudahan. Kegagalan yang mereka alami, dengan segera dicari solusi oleh lingkungannya. Baik oleh orang tuanya, oleh pembantu, oleh supir dan oleh siapapun yang punya kepentingan. Seolah-olah persoalan begitu mudah selesai, dan mereka taken for granted saja. 
Masih ingat budaya apa yang harus diubah bangsa Asia agar bisa lebih kreatif dari bangsa Barat? Ya, orangtua dan guru yang ada di bangsa Asia harus tempa mentalitas anak-anaknya agar berani gagal, siap tanggung resiko, dan selalu bisa bangkit dari kegagalan. Ada cara berpikir yang mesti diubah. Ukuran sukses bukan lagi berapa banyak harta yang dimiliki, tapi berapa banyak kegagalan yang wajib dialami agar anak-anak punya mentalitas pemenang dalam kehidupan. Perasaan takut salah dan takut kalah akan hilang dengan sendirinya jika anak-anak diberi keleluasaan untuk berkreasi dan bereksplorasi dalam ketatnya kompetisi hidup. 
Jika masih ada orangtua yang beri izin anak di bawah umur dan tak punya SIM tunggangi kendaraan bermotor, itulah perilaku tak bertanggung jawab. Batas antara sayang dan gengsi begitu sangat tipis. Karena anak tetangga bersekolah naik motor, atas nama rasa sayang yang absurd, kita segera belikan motor meski pilihan untuk berhutang mesti ditempuh. Demi prestise dan kehormatan orang dewasa yang ambigu, anak-anak sekolah diberi contekan dan kemudahan untuk menjawab soal. Semua anak diluluskan meski nilai kemampuan belajar mereka ada yang masuk kategori gagal. 
Sadarilah, jika kita menutup ruang-ruang kehidupan bagi anak-anak kita untuk berjibaku menghadapi kesulitan hidup, maka kita sedang merancang kelahiran generasi instan yang tak bisa pahami makna kegagalan dan kesuksesan yang hakiki. Bukankah setelah kesulitan itu ada kemudahan? Maka, biarkanlah anak-anak kita bercengkrama dengan kesulitan hidup mereka. Apa peran orangtua dan guru? Berikan keteladanan soal ketangguhan hati, kesabaran, dan kesetiaan menjalani kesulitan hidup.  
Orangtua bisa wariskan hartanya. Jabatan presiden direktur bisa disiapkan untuk sang buah hati. Mobil mewah hadiah ulang tahun anak tinggal dipesan, langsung diantar ke rumah. Kemudahan yang berujung kesulitan hidup bagi kehidupan sang anak di masa depan.

Tapi mohon maaf, bicara soal mentalitas sebagai pejuang kehidupan, memang takkan pernah bisa diwariskan orangtua kepada anak. Anak-anak harus terlibat intens secara langsung dalam setiap detik kehidupan yang berjalan. Kegagalan, cara terbaik untuk memahami esensi kehidupan. Never give up, karena tak ada kegagalan yang abadi. Episode kesuksesan dan kegagalan akan dipertukarkan, itulah warna warni kehidupan. 
“Gagal dan bangkit lagi”, itulah seni kehidupan. Beranilah mencoba dan nikmati sakitnya kegagalan. Kegagalan tak usah ditakuti. Setiap anak berhak mengalami kegagalan. Tugas kita adalah memastikan anak bisa belajar dari pengalaman gagal dan memaknai kegagalan itu untuk kehidupan di masa depan.  Memang, menjadi orangtua dan guru itu adalah sebuah pilihan.

Tapi menjadi orangtua dan guru yang baik dalam mengarifi makna kehidupan itu butuh kerja keras. So, jangan takut gagal sebagai orangtua dan guru. Teruslah berkarya dalam kehidupan. Karena bisa jadi, apa yang Anda lakukan bisa membuat bangsa Asia lebih kreatif dari bangsa Barat. Aaamiiinnn…!!!

Courtesy of http://madrasah.kemenag.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s