UPAYA ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN MINAT ANAK MELAKSANAKAN IBADAH DI DUSUN PRINGGARATA BARAT UTARA DESA PRINGGARATA, KEC-PRINGGARATA-LOMBOK TENGAH

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang.

Ibadah (عبادة) secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain:

  • Ibadah : taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya, (yang digariskan) melalui lisan, contoh dari para Rasul-Nya.
  • Ibadah : merendahkan diri kepada Allah, tingkatan ketundukan yang tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang tinggi pula.
  • Ibadah :  sebutan yang mencakup seluruh yang dicintai dan diridhai Allah, berupa: ucapan, perbuatan, yang dzahir maupun bathin. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Ibadah terbagi menjadi ibadah: hati, lisan, anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan): ibadah qalbiyah (berkaitan dengan hati). Sedangkan: shalat, zakat, haji, dan jihad: ibadah badaniyah (fisik), masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan dan badan.

Ibadah, menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah. Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya. Karena ketergantungan mereka kepada Allah, mereka menyembah-Nya sesuai dengan aturan syari’at-Nya (Qur’an dan Hadits). Siapa yang menolak beribadah kepada Allah: sombong. Siapa yang menyembah-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya: mubtadi’ (pelaku bid’ah), pelaku tambahan, memalsu. Dan siapa yang hanya menyembah-Nya dan dengan syari’at-Nya, dia adalah mukmin muwahhid (yang meng-Esa-kan Allah).

Ibadah adalah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, dengan jalan mentaati segala perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diinginkan Allah. Ibadah itu ada yang umum dan ada khusus; yang umum ialah segala amalan yang diizinkan Allah. Yang khusus ialah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah dan cara-caranya yang tertentu. Allah  berfirman.

Pada masa sekarang, masa dimana globalisasai tidak bisa dihindari, akan
tetapi adanya perkembangan zaman itulah yang harus diterima dengan cara
memfilter apa yang seharusnya dipilih untuk maslahah bersama.

Belakangan ini banyak ditemukan pendidikan yang bobrok, realita ini
banyak ditemukan di wilayah kota-kota besar. Memang dalam keilmuan non
agama bisa dikatakan unggul, akan tetapi nilai spiritual yang ada sangatlah tidak
cocok bila dikatakan sebagai seorang muslim.

Pendidikan Islam adalah salah satu cara untuk merubah pola hidup
mereka. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah pendidikan Islam itu seperti apa.

Ilmu Pendidikan Islam  Ilmu Pengetahuan  Perbedaan dengan Ilmu pengetahuan yang lain  penggongan-penggolongan suatu masalah dan pembahasan masalah demi masalah di dalam pendidikan.  pendidikan Islam memerlukan beberapa metodologi pengembangan, antara lain ;

Test, pendidik memberikan test kepada anak didiknya untuk mengetahui perkembangan anak didik.

Dari berbagai literatur terdapat berbagi macam pengertian pendidikan
Islam. Menurut Athiyah Al-Abrasy, pendidikan Islam adalah mempersiapkan
manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap
jasmaninya, sempurna budi pekertinya, pola pikirnya teratur dengan rapi,
perasaannya halus, profesiaonal dalam bekerja dan manis tutur sapanya.

Sedang Ahmad D. Marimba memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.

Sedangkan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan adalah
suatu proses penamaan sesuatu ke dalam diri manusia mengacu kepada metode
dan sistem penamaan secara bertahap, dan kepada manusia penerima proses dan
kandungan pendidikan tersebut.

Jadi definisi pendidikan Islam adalah, pengenalan dan pengakuan yang
secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia, tentang tempat-
tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga
membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di
dalam tatanan wujud dan kepribadian. Jadi pendidikan ini hanyalah untuk
manusia saja.

Pendidikan keluarga merupakan bagian integral dari sistem Pendidikan Nasional Indonesia. Oleh karena itu norma-norma hukum yang berlaku bagi pendidikan di Indonesia juga berlaku bagi pendidikan dalam keluarga.

Dasar hukum pendidikan di Indonesia dibagi menjadi tiga dasar yaitu dasar hukum Ideal, dasar hukum Struktural dan dasar hukum Operasional. Dasar hukum ideal adalah Pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum. Oleh karena itu landasan ideal pendidikan keluarga di Indonesia adalah Pancasila. Tiap-tiap orang tua mempunyai kewajiban untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila pada anak anaknya.

Landasan Struktural pendidikan di Indonesia adalah UUD 1945. Dalam pasal 31 ayat 1 dan 2 dijelaskan bahwa setiap warga berhak mendapatkan pengajaran dan pemeritah mengusahakan sistem pengajaran nasional yang diatur dalam suatu perundang-undangan. Berdasarkan pasal 31 UUD 1945 itu maka ditetapkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendldikan NasionaL Berdasarkan Bab IV, pasal 9 ayat 1 disebutkan bahwa satuan pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan di sekolah dan di luar sekolah meliputi keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan yang sejenis. Dari kutipan ini dapat disimpulkan bahwa orang tua itu mempunyai wajib hukum untuk mendidik anak-anaknya. Kegagalan pendidikan yang merupakan kegagalan dalam pendidikan. Keberbasilan anak dalam pendidikan yang merupakan keberhasilan pendidikan dalam keluarga.

Berdasarkan Tap MPR No. II/MPR/1988 seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan itu berdasarkan atas Pancasila dasar dan fa]safah negara. Di samping itu dijelaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu secara operasional pendidikan anak yang berlangsung dalam keluarga, masyarakat dan sekolah merupakan tanggung jawab orang tua juga. Pendidikan dalam keluarga berlangsung karena hukum kodrat. Secara kodrati orang tua wajib mendidik anak. Oleh karena itu orang tua disebut pendidikan alami atau pendidikan kodrat.

Sebagai wadah yang akan mempersiapkan peserta didik menjadi muslim, maka lembaga pendidikan Islam memberikan peran yang tidak dapat dianggap ringan dalam membentuk kecerdasan spiritual sebagai salah salah satu unsur yang akan mengantarkan seseorang menjadi muslim. Hal ini tentu saja sejalan dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri, yaitu membentuk pribadi muslim kaffah atau insan kamil. Untuk itulah bagi suatu lembaga pendidikan Islam, baik itu keluarga, sekolah maupun masyarakat sebagai wadah dan sarana yang memberikan bekal dan arahan kepada seseorang, memegang peran yang strategis dalam mengembangkan spiritual pada diri manusia.

Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama pada hakekatnya merupakan wadah yang tepat bagi seseorang untuk memperoleh pembinaan mental dan pembentukan kepribadian yang kemudian ditambah dan disempurnakan oleh sekolah. Dalam hubungannya dengan kecerdasan spiritual, keluargalah yang seyogyanya dapat membiasakan mendidik anak-anaknya dengan ajaran-ajaran agama dan menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini. Hal inilah yang akan berpengaruh pada tingginya kecerdasan spiritual anak.

Dari itu pulalah maka peran keluarga dalam mengembangkan kecerdasan spiritual sangat dinantikan. Apalagi orang tua sebagai keluarga terdekat mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap seorang anak di dunia dan akherat. “hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.(QS. At-Tharim : 6). Dan jika kita berangkat dari akar kata spiritual yang memiliki arti kejiwaan, maka tidak salah kiranya kalau faktor kejiwaan ini kita hubungkan pula dengan makna jiwa keagamaan. Sebab tidak jarang orang kerap mengidentikan masalah spiritual dengan keagamaan. Ini tak dapat dipungkiri karena memang spiritual yang ada pada diri manusia timbul karena dalam diri manusia itu terdapat potensi untuk mengakui satu kekuatan lain di luar dirinya yang jauh lebih besar.

Maka itulah, dalam diri manusia tidak dapat tidak- harus diakui jiwa keagamaan harus melekat pada setiap insan agar apapun langkah yang harus ditempuhnya sejalan dengan nilai-nilai ilahiah. Dan untuk penanaman jiwa keagamaan pada diri manusia ini, sulit rasanya mengabaikan peran keluarga di dalamnya. Makanya tak mengherankan jika Gilbert Highest menyatakan bahwa kebiasaan yang dimiliki anak sebagian besar terbentuk oleh pendidikan keluarga. Sejak dari bangun tidur hingga tidur kembali, anak-anak menerima pengaruh dan pendidikan dari lingkungan keluarga. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan. Untuk itulah tidak mengherankan jika Rasul menekankan tanggung jawab itu kepada orang tua. Ada semacam rangkaian ketentuan yang dianjurkan kepada kedua orang tua, yaitu mengazankan ke telinga bayi yang baru dilahirkan, mengakikahkan, memberi nama yang baik, mengajarkan membaca al-Qur`an dan shalat lima waktu. Inilah dasar bagi perkembangan jiwa keagamaan anak. Oleh karena itu tidaklah tepat jika para orang tua menggantungkan harapan penuh kepada kepala sekolah yang merupakan lembaga pendidikan formal untuk menghasilkan anak-anak yang cerdas secara intlektual, emosional, dan spiritual secara menyeluruh. Apalagi mengingat saat ini, sebagian besar lembaga pendidikan lebih menekankan pentingnya nilai sebagai prestasi akademik atau IQ saja, sehingga pendidikan tentang kecerdasan spiritual yang akan membentuk karakter dan kualitas sumber daya manusia yang handal hanyalah sekedar impian.

Dalam Alquran, anak dapat dikelompokkan kepada lima tipologi, yaitu anak sebagai ujian (QS. Al-Anfal [8]:28), anak sebagai perhiasan hidup dunia (QS. Al-Kahfi [18]:46), anak sebagai cahaya mata (QS. Al-Furqan [24]:74), anak sebagai musuh (QS. At-Taghabun [64]:14) dan anak sebagai amanah (QS.At-Tahrim [66]:6).

Hubungannya dengan tugas dan kewajiban orangtua, maka tipologi di atas menunjukkan besarnya peranan dan tanggung jawab orang tua (ibu dan bapak) dalam mengasuh dan mendidik anak, terutama agamanya sehingga terbentuk sebuah keturunan yang ideal (zurriyah thayyibah) atau anak saleh.

Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras; mereka tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka  dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]:6).

Dalam hadis sahih yang sudah begitu populer, Rasulullah SAW menegaskan, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Kepala Negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab terhadap nasib rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah tangganya dan dia bertanggung jawab terhadap keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab terhadap rumah tangganya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta benda majikannya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih).

Intinya, anak merupakan bagian dari amanah Allah, di mana kalangan orangtua tidak dibenarkan melalaikannya, apalagi lari dari memikul amanah besar tersebut.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat keras terhadap orangtua yang lari dari tanggung jawab ini. “Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang tidak akan diajak berbicara pada hari kiamat, tidak disucikan dan tidak dilihat.” Lalu beliau ditanya: “Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Anak yang berlepas diri dari orangtuanya dan membencinya serta orangtua yang berlepas diri dari anaknya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Imam Ibn Qayyim al-Jauziyah pernah mengatakan, “Barang siapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi anaknya dan menelantarkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orangtua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama termasuk sunnah-sunnahnya.”

Di zaman sekarang ini, orang tua pada umumnya nampak tidak mengalami banyak kesulitan dalam menyekolahkan putra-putrinya, khususnya dari segi peluang.  Lembaga pendidikan sekolah dan pesantren banyak berdiri di hampir merata tempat, pemerintah dan lembaga swasta pun banyak yang menyediakan beasiswa pendidikan. Banyak yang memperoleh semua peluang itu.

Akan tetapi, tidak sedikit orang tua yang lepas kontrol, bahkan ada yang sama sekali tidak peduli terhadap bimbingan agama dan karakter kepribadian anaknya. Akibatnya, terjadi kerusakan pada diri anak yang ditandai dengan sifat dan tingkah laku yang tidak terpuji. Nauzubillahi Min Dzalik.

Oleh sebab itu, agar dapat dianugerahi keturunan yang baik, baik dari segi intelektualitas mahupun moralitas, maka terdapat sejumlah ayat alQuran yang penting untuk dibaca dan diamalkan. Sekurang-kurangnya selepas shalat wajib lima waktu.

Di antaranya adalah surah Ali Imran ayat 38 sebagaimana berikut, “Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.” (QS. Ali Imran [3]: 38).

Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyah, nikmat terbagi dua; nikmat yang bersifat muthlak dan nikmat yang bersifat muqayyad (mengikat). Nikmat yang bersifat muthlak adalah nikmat yang akan mengantarkan seseorang pada kebahagiaan abadi, seperti kebahagiaan seseorang dalam berislam dan mengikuti sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Ta’ala berfirman;

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا.

“Dan barang siapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman sebaik-baiknya.” (An-Nisa:69).

Adapun nikmat kedua yang bersifat terikat/terbatas adalah nikmat yang digambarkan dalam bentuk kesehatan, anak, kekayaan, dan istri shalehah. Menurut Ibnu Qoyyim rahimahullah, anak merupakan bentuk nikmat. Anak merupakan pemberian dari Allah Ta’ala. Pemberian ini merupakan amanah. Karenanya, setiap orang tua yang dikaruniai anak harus berusaha mengarahkan anak agar tetap terjaga fithrahnya. Yaitu, tetap terjaga tauhid atau keislamannya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

    كُلُّ مَوْ لُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَة فَأبَوَاهُ  يُهَوِّدَانِهِ أَوْ  يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan diatas fithrah (bertauhid). Maka, kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR.Bukhori, no.1384 dan Muslim, no.2658, Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Pengertian fithrah adalah tahuhid, Seperti diungkapkan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, bahwa penetapan kerububiyahan Allah adalah bersifat fithrah. Pendidikan yang salah akan menyebabkan perubahan arah pada anak. (lihat Aqidah At-Tauhid, hal:28).

Maka, menjaga agar fithrah itu tetap ada merupakan kewajiban orang tua muslim. Inilah amanah terbesar yang harus ditunaikan para orang tua. Mengawal tauhid anak agar selamat, untuk hal ini para orang tua dituntut berusaha membekali anak dengan pendidikan islam yang baik dan benar. Ditengah pertarungan budaya yang teramat tajam, mendidik anak kearah yang dicitakan tentu tak mudah, memohon kepada Allah Ta’ala, berdo’a dengan kesungguhan seraya terus berusaha tentu sebuah langkah bijak.

Menyadari anak sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya adalah langkah awal menuju pendidikan yang baik dan benar. Tanpa kesadaran ini orang tua akan semaunya dalam mendidik anak. Tentunya, di iringi dengan kejahilannya, anak akan diantarkan pada taraf pendidikan yang sekedar bertujuan pragmatis, Cuma sekedar untuk duniawinya. Adapun akhirat, terlalaikan, tidak tersentuh sama sekali.

Dan jika dilihat secara lebih seksama akan sistem pendidikan yang ada di negara kita ini, akan dijumpai adanya gejala sekularisasi pendidikan dan dikotomisasi pendidikan yang semakin tumbuh subur. Kedua hal inilah yang sesungguhnya mendesak bagi sistem pendidikan diadakan peninjauan kembali. Peninjauan untuk mengetahui, apakah unsur spiritualitas dalam sebuah sistem pendidikan yang ada masih tetap eksis? Atau justru telah jauh ditinggalkan. Sistem pendidikan di Indonesia menjurus ke arah sekularisasi pendidikan tampak dari sistem dan orientasi belajar siswa di sekolah yang sepenuhnya diarahkan untuk mengejar kesuksesan secara fiskal dan material, seperti karir, jabatan, kekuasaan dan uang. Sehingga out put generasinya pun menjadi serba materialistik, konsumeristik, dan bahkan tidak jarang menjurus ke arah hedonistik.

Ini terbukti dengan munculnya berbagai krisis di negara ini. Dan juga tidak dapat dipungkiri semua ini berawal dari krisis moral dan buta hati yang terjadi di mana-mana. Meskipun memiliki pendidikan yang sangat tinggi dan gelar-gelar kesarjanaan di depan dan di belakang namanya, mereka hanya mengandalkan logika dan membunuh suara hati yang sebenarnya dapat memberikan informasi untuk mencapai kebenaran. Kemudian hal kedua yang mewarnai sistem pendidikan kita yaitu dikotomisasi pendidikan. Ini tampak misalnya dari adanya pandangan pendidikan yang begitu dikotomis; satu sisi ada “pendidikan umum” di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional, sementara di sisi lain ada “pendidikan agama” dibawah naungan Kementerian Agama. Bahkan tidak hanya itu, materi kurikulum pun telah terjadi dikotomi yang begitu ketat. Di satu sisi jalur pendidikan agama sangat minim akan muatan IPTEK dan jalur pendidikan umum sebaliknya lebih menekankanIPTEK. Selain itu, pendidikan agama yang diberikan baik pada jalur pendidikan agama maupun umum, yang mestinya dapat diandalkan dan diharapkan bisa memberi solusi bagi permasalahan yang ada saat ini, ternyata lebih diartikan sebagai ajaran fiqih. Tidak dipahami dan dimaknai secara mendalam, lebih pada pendekatan ritual dan simbol-simbol serta pemisahan atara kehidupan dunia dan akherat. Bahkan di bangku Sekolah Dasar, Rukun Iman dan Islam diajarkan dengan cara sederhana, hanyalah sebentuk hapalan, tanpa dipahami maknanya. Padahal justru disinilah letak rahasia pembentukan kecerdasan emosional dan spiritual sebenarnya. Padahal sesungguhnya lembaga pendidikan bersama-sama keluarga dituntut untuk melihat setiap individu sebagai manusia yang memiliki potensi-potensi dimana potensi-potensi tersebut harus dikembangkan secara seimbang. Jika manusia memiliki fisik, berarti pendidikan harus mampu mengolah fisik untuk mencapai kondisi yang kuat, sehat dan terampil. Jika manusia memiliki otak, maka pendidikan harus mewujudkannya agar cerdas. Jika manusia memiliki hati, maka pendidikan harus menuntun hati untuk menjadi bersih, lembut dan peka terhadap kebaikan dan keburukan. Jika manusia memiliki ruh, maka pendidikan harus menjaga ruh tersebut agar tetap dalam keadaan fitrah-hanief sebagaimana awal penciptaanya dahulu.

Berdasarkan pemikiran diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang upaya orang tua dalam memberikan bimbingan kepada anak agar menjalankan aktifitas ibdah kepada Allah SWT serta akhlaq karimah anak di Dusun Pringgarata Barat Utara dengan judul : “UPAYA ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN MINAT ANAK MELAKSANAKAN IBADAH DI DUSUN PRINGGARATA BARAT UTARA DESA PRINGGARATA, KEC-PRINGGARATA-LOMBOK TENGAH.”

B.     Identifikasi Masalah.

  1. Kurangnya bimbingan yang diberikan oleh orang tua agar anaknya melaksanakan ibadah dan bertutur kata yang baik.
  2. Kesibukan orang tua yang mengakibatkan kurangnya waktu untuk memperhatikan anak dalam beribadah.
  3. Perubahan perkembangan zaman serta kemajuan tekhnologi dan perubahan budaya yang ada di masyarakat, mengakibatkan berubahnya pola kehidupan pada anak seperti tata cara bergaul dan bertutur kata.

C.    Pembatasan Masalah.

Dari beberapa permasalahan, penulis hanya membatasai pada permasalahan bagaimana upaya orang tua dalam membimbing anak melaksanakan ibadah. Anak yang dimaksud disini ialah anak usia Sekolah Dasar, yaitu yang berusia enam sampai dua belas tahun. Ibadah yang penulis maksudkan dalam skripsi ini ialah ibadah madlah dan ghairu madlah. Ibadah madlah yaitu shalat dan puasa sedangkan ibdah ghairu madlah yaitu tadarus Al-Qur’an, berbicara dengan tutur kata yang baik (akhlaq karimah) di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.

D.    Perumusan Masalah.

  1. Upaya orang tua dalam membimbing anak dalam melaksanakan ibadah.
  2. Hambatan-hambatan yang dihadapi orang tua dalam membimbing anak melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.
  3. Upaya orang tua dalam mengatasi hambatan-hambatan yang dialami dalam membimbing anak melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.

E.     Tujuan dan Manfaat Penelitian.

1)      Tujuan Penelitian.

  1. Untuk mengetahui bagaimana upaya orang tua dalam membimbing anak.
  2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi orang tua dalam membimbing anak melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.
  3. Untuk mengetahui bagaimana upaya orang tua dalam mengatasi hambatan-hambatan yang dialami dalam membimbing anak melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.

2)      Manfaat Penelitian.

  1. Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya bagi orang tua sekaligus penulis sendiri dalam mendidik seorang anak untuk lebih mendekatkan diri dengan Sang Khaliq.
  2. Sebagai bahan informasi mengenai upaya apa saja yang dilakukan orang tua dalam membimbing anak melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.
  3. Untuk masyarakat atau orang tua di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah, agar dapat mengetahui sejauh mana keefektifitasan upaya yang telah dilakukan dalam membimbing anak dalam melaksanakan ibadah.
  4. Sebagai bahan evaluasi, perbaikan, serta masukan bagi orang tua dalam meningkatkan minat anak dalam melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s