PTK SOSIOLOGI

Kata Pengantar

 

Assalamu’alaikum. Wr. Wb…

Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberikan semua nikmat serta karunia-Nya, sehingga kita masih bisa merasakan nikmat-nikmat – Nya sampai saat sekarang ini.

Kedua kalinya marilah kita bershalawat dan bersalam keharibaan junjungan Alam Baginda Rasulallah saw yang telah menyatukan ummat islam dari ujung masyrik sampai ujung magrhib serta merubah peradaban dunia dari Zaman kekafiran menuju zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dan juga sebagai salah seorang The Best Leader di Dunia sampai akhirat .yang sampai saat sekarang ini dan nanti menjadi panutan semua ummat manusia wabil khusus kita sebagai orang islam.

      Penelitian ini kamii lakukan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar dan menjadi bukti kesadaran kami sebagai seorang Guru untuk bagaiman meningkatkan kinerja kami.

Akhirnya, kami berharap penelitian ini dapat menjadi salah satu tolok ukur dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya pada mata pelajaran Sosiologi. Namun penelitian ini sangatlah jauh dari kata kesempurnaan oleh karena itu kami mengharapkan kritikan dan konstribusi yang membangun guna kemajuan kita bersama.

Sekian

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

 

Mataram, 24 November 2012

 

 

 

 

 

Daftar Isi

Halaman Judul ……………………………………………………………………………………………………………….

Kata Pengantar ………………………………………………………………………………………………………………

Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………………………………..

BAB  I:PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………………………….

  1. Latar Belakang Penelitian …………………………………………………………………………
  2. Identifikasi Penelitian ……………………………………………………………………………….
  3. Pembatasan Penelitian …………………………………………………………………………….
  4. Perumusan Penelitian ………………………………………………………………………………
  5. Kegunaan Penelitian ………………………………………………………………………………..

BAB  II :LANDASAN TEORITIK…………………………………………….. ……………………………………..

  1. Landasan Teoritis …………………………………………………………………………………….
  2. Kerangka Berpikir Tindakan ………………………………………………………………………
  3. Hipotesis ………………………………………………………………………………………………..

BAB III :KERANGKA METODOLOGI PENELITIAN………………….. ………………………………….

  1. Tujuan Penelitian …………………………………………………………………………………….
  2. Tempat dan Waktu Penelitian ……………………………………………………………………
  3. Metode Penelitian ……………………………………………………………………………………
  4. Sumber Data …………………………………………………………………………………………..
  5. Langkah-Langkah Penelitian ……………………………………………………………………..
  6. Teknik Kalibrasi Keabsahan Data ………………………………………………………………
  7. Teknik Analisa Data …………………………………………………………………………………

BAB IV  : HASIL PENELITIAN………… ………………………………….………………………………………….

  1. Kondisi Madrasah ……………………………………………………………………………………

BAB V    : PENUTUP ………………………………………………………………………………………………………

  1. Kesimpulan …………………………………………………………………………………………….
  2. Saran-saran ……………………………………………………………………………………………

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Penelitian

Pada dasarnya  manusia adalah makhluk yang dapat berpikir dan memerlukan pendidikan, manusia memerlukan pendidikan agar dapat berpikir terarah sesuai harapan, sehingga menurut Ali Saifullah definisi pendidikan adalah bahwa : Pendidikan adalah suatu proses dengan mana pikiran, rasio, disiplin mental manusia dan dikembangkan). Menurut para psikolog bahwa pendidikan adalah “Education is a process of growth in wich the individual is helped to developed his powers, his talent, his abilities, and his interest” (Pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan di dalam mana individu dibantu mengembangkan daya-daya kemampuannya, bakatnya, kecakapannya dan minatnya).

Kedua pengertian di atas menunjukkan bahwa pendidikan merupakan suatu proses dalam kaitannya dengan pembentukan internal dalam diri manusia yang berupa pikiran, rasio, mental, disiplin, daya-daya kemampuan, bakat, kecakapan, kreativitas, dan minatnya yang harus dikembangkan.

Pengertian pendidikan dalam arti luas merupakan suatu usaha manusia dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang hidup. Sebagaimana yang dikemukakan Hendersen bahwa pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. Pendapat lain mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses dimana manusia membina pembangan manusia lain secara sadar dan sistematik. Pendidikan adalah suatu proses kegiatan secara khusus dalam mengarahkan perkembangan kepribadian dan kemampuan, baik pada orang lain maupun pada diri sendiri. Pengarahan oleh orang lain maupun oleh diri sendiri     tidak dapat berlangsung dengan sendirinya, yaitu: melalui pengaruh dari orang lain maupun dari lingkungan selalu ada. Pendidikan merupakan usaha sadar yang disengaja dan terencana untuk membentuk perkembangan potensial anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang pribadi dan sebagai anggota masyarakat. Kegiatan yang dilakukan dalam usaha pendidikan dapat berjalan dengan baik, maka masalah pendidikan tidak hanya tergantung pada baiknya suatu program yang telah disusun dan tersedianya peralatan atau media pendidikan yang lengkap dan adanya guru   yang terdidik. 

Salah satu faktor yang tidak kalah pentingnya dalam kegiatan pendidikan adalah anak didik itu sendiri, serta anak didik atau peserta didik pada akhirnya menjadi suatu pencapaian tujuan yang akan dibentuk atau yang dicita-citakan.   Dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 5 dikemukakan bahwa  peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

Upaya yang perlu dilakukan dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik, baik potensi kognitif, afektif, psikomotorik, kecakapan, maupun kreativitasnya diperlukan guru yang mampu menempatkan kedudukan dan fungsinya sebagai tenaga profesional dengan tuntutan masyarakat yang terus berkembang dan semakin maju. Guru sebagai orang yang mewakili orang tua peserta didik di sekolah, membimbing, mengarahkan, memandu peserta didik ke arah kedewasaan dan kemandirian. Guru sebagai pengabdi dan pelayan intelektual, seorang guru merupakan sosok pribadi yang berfungsi memberikan, mentransfer dan meningkat seperangkat nilai-nilai dalam pengetahuan, sikap, dan ketrampilan peserta didik menjadi manusia yang memiliki kreativitas dan mandiri.

Kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan guru bersama murid harus dilaksanakan secara terencana, terarah, dan sistematis guna mencapai tujuan. Guru sebagai ujung tombak terdepan dihadapan peserta didik diharapkan mampu berbuat dan peran yang besar dalam mempersiapkan peserta didik untuk menjadi manusia dengan memiliki pengetahuan, aktif, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidupnya di masa depan.

Khususnya, situasi dan kondisi di lapangan menunjukkan bahwa guru-guru di MA NW Pringgarata dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran masih menggunakan metode atau pendekatan konvensional, yakni hanya menggunakan metode ceramah atau metode pemberian tugas saja. Sehingga kondisi ini berdampak negatif kepada peserta didik, yakni menjadikan peserta didik tidak kreatif atau peserta didik menjadi pasif.

Hal ini berarti menjadi tantangan yang berarti bagi para guru di MA NW Pringgarata dalam membangitkan dan meningkatkan kreativitas peserta didik. Maka kondisi di atas dapat dikatakan bahwa guru belum mampu mengembangkan atau membangkitkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan bagi peserta didik, melainkan guru masih menjadi pusat pembelajaran bagi siswa. Seharusnya, pembelajaran berpusat pada peserta itu sendiri. Karena dalam proses belajar mengajar, guru sebagai fasilitator dan pembuat skenario pembelajaran melalui rancangan langkah-langkah proses belajar mengajar. Dari skenario pembelajaran tersebut peserta didik harus merasa memiliki waktu dan situasi belajar adalah miliknya. Serta, menjadikan peserta didik untuk berperan aktif, memiliki kreativitas yang tinggi, efektif dalam belajar, dan menyenangkan bagi peserta didik itu sendiri.

Hal ini harus disadari oleh para guru untuk terus berupaya mencapai tujuan yang diharapkan, yakni: peserta didik yang memiliki kreativitas belajar.    Kondisi yang terjadi sangatlah bergantung pada penerapan manajemen proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Apakah manajemen proses belajar mengajar (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi) yang dilakukan oleh guru telah memenuhi standar proses yang telah ditetapkan ?. Apakah pengembangan silabus, rencana pembelajaran, bahan ajar dan metode telah dilaksanakan guru untuk menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas bagi peserta didik ?. Hal ini harus mampu dijawab dan sekaligus merupakan perhatian khusus bagi setiap guru yang profesional dalam menumbuhkan kreativitas  peserta didik.

Namun pada kenyataanya masih ada siswa MA NW Pringgarata,  yang kreativitasnya rendah,  kurang terampil seperti minimnya minat belajar, kurang perhatian dalam belajar, kuarng mau dalam komunikasi dalam belajar, kurang keberanian bertanya, kurang keberanian dalam menjawab, kurang menghargai perbedaan pendapat, dan lain sebagainya.

Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul “upaya guru dalam meningkatkan kreativitas siswa melalui metode diskusi di MA NW Pringgarata”.

 

B.   Identifikasi Penelitian

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas, maka penulis berusaha untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang ada. Adapun diidentifikasi penelitian adalah sebagai berikut :

1.      Bagiamanakah metode diskusi yang dirancang oleh guru dalam meningkatkan kreativitas siswa di MA NW Pringgarata ?

2.      Bagaimanakah rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dirumuskan dan dibuat oleh guru dalam meningkatkan kreativitas siswa di MA NW Pringgarata?

3.      Bagaimanakah pengembangan bahan ajar yang dipersiapkan guru dalam meningkatkan kreativitas siswa di MA NW Pringgarata?

4.      Bagaimanakah pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan guru dalam meningkatkan kreativitas siswa di MA NW Pringgarata ?

5.      Bagaimanakah upaya guru dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa melalui metode diskusi ?

6.      Dan masih ada faktor- faktor lain yang dapat mempengaruhi kreativitas siswa dalam belajar.

 

C.  Pembatasan Penelitian

Berdasarkan pada identifikasi penelitian yang telah dijelaskan di atas, peneliti melakukan pembatasan masalah dalam penelitian ini. Mengingat, waktu yang ada, ilmu, pengetahuan, kesempatan, dan biaya yang dimiliki.

Dari berbagai identifikasi masalah di atas,  penulis akan membatasi penelitian tindakan kelas ini yaitu: upaya guru dalam meningkatkan kreativitas siswa melalui metode diskusi di MA NW Pringgarata.

Yang di maksud dengan kreativitas adalah kemampuan mental hasil  interaksi individu dengan lingkungan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis seperti: fantasi, imajinasi, ide-ide, dan apersepsi guna memecahkan masalah.

Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pembelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk kreatif berkomunikasi ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai pemecahan masalah dengan berinteraksi satu sama lain, baik secara individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, guna mendapatkan jawaban atau pengertian dan perilaku.

 

D.  Perumusan Penelitian

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, penulis dapat merumuskan  masalah yang akan diteliti, yaitu : “Bagaimanakah upaya guru dalam meningkatkan kreativitas siswa melalui metode diskusi ?” .

 

E.  Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat berguna bagi peneliti, para guru, sekolah dan semua pihak yang berkepentingan terhadap peningkatan kemampuan dan kreativitas siswa, maka yang diharapkan adalah sebagai berikut :

a.       Dapat memberikan sumbangan pemikiran pada lingkungan pendidikan secara umum, dan bagi guru bidang studi Sosiologi (Sosiologi);

b.      Dapat membantu peserta didik yang masih mengalami kesulitan belajar dalam bidang studi Sosiologi (Sosiologi);

c.       Dapat mengetahui berbagai kebutuhan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran Sosiologi (Sosiologi) sesuai karakteristik yang dimiliki;

d.      Dapat mendorong peningkatan kreativitas guru Sosiologi guna meningkatkan ketrampilan mengajar secara profesional; dan

e.       Penelitian ini menjadi masukan bagi penelitian selanjutnya.

 

E. Sistematika Pembahasan

BAB I  Pendahulun terdiri dari: Latar belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Kegunaan Penelitian, dan sistematika Pembahasan.

BAB II Landasan teoretis terdiri dari: Landasan Teoritis Penelitian, kerangka berpikir dan Hipotesis.

BAB III Kerangka Metodologi  Penelitian terdiri dari : Tujuan penelitian, Tempat dan waktu Penelitian, Metode Penelitian, Sumber data, Teknik dan alat pengumpul data, Langkah langkah penelitian, Teknik Kalibrasi keabsahan data, dan teknik analisa data.

BAB IV Hasil Penelitian  terdiri dari :  Kondisi Madrasah, Kegiatan Siklus, dan Pembahasan.

BAB V Penutup  terdiri dari :  Kesimpulan dan Saran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORITIK

 

A.  Landasan Teoritis

 

  1. Hakikat Kreativitas

Hakikat kata ’kreativitas’ berasal dari bahasa Inggris yaitu ’creative’. Kata ’creative’ diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata ’kreatif’, artinya memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk mencipta; bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yang-memerlukan kecerdasan dan imajinasi.]Sedangkan kata ’kreativitas’ atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata ’creativity’. Kata ’kreativitas’ memiliki pengertian kemampuan untuk mencipta; daya cipta; perihal berkreasi. Serta berhubungan dengan kata ’kreasi’, artinya hasil daya cipta; hasil daya khayal (penyair, komponis, pelukis, dsb): atau hasil buah pikiran atau kecerdasan akal manusia.

Menurut pendapat C.P. Chaplinbahwa ’creative’ (kreatif), yaitu berkenaan dengan penggunaan atau upaya memfungsikan kemampuan mental produktif dalam menyelesaikan atau memecahkan masalah, atau upaya pengembangan bentuk-bentuk artistik dan mekanis-biasanya dengan maksud agar orang mampu menggunakan informasi yang tidak berasal dari pengalaman atau proses belajar secara langsung, akan tetapi berasal dari perluasan konseptual dari sumber-sumber informasi tadi. Pengertian ’creativity’ (kreativitas) menurutnya merupakan kemampuan mencipta, daya cipta menghasilkan bentuk-bentuk baru dalam seni, atau dalam permesinan, atau dalam memecahkan masalah-masalah dengan metode-metode baru.

Selanjutnya, C.P. Chaplin membagi kreatif menjadi 4 macam kreatif, adalah sebagai berikut :

1.   Creative Fantasy (fantasi kreatif)

      (Jung) Pemecahan masalah pribadi dengan menyatukan unsur-unsur yang bertentangan.

2.      Creative Imagination (imajinasi kreatif)

Pola ide-ide yang menyertai pemecahan suatu masalah atau pengembangan suatu bentuk-bentuk baru.

3.      Creative Resutans (resutante atau gabungan kekuatan yang kreatif)

(Wundt) posisi yang menyatakan bahwa keseluruhan proses mental itu bisa lebih besar daripada penjumlahan belaka dari proses-proses elemental atau unsuriahnya.

4.      Creative Synthesis (sintesa kreatif)

(Wundt) proses dalam apersepsi, dalam mana unsur-unsurnya dikumpulkan jadi satu ke dalam bentuk relasi yang kurang lebih berarti (penuh arti), bergeser dari satu ansambel atau kumpulan kata-kata baru, sampai pada satu konsep.

Yang di maksud dengan kreativitas adalah kemampuan mental hasil  interaksi individu dengan lingkungan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis seperti: fantasi, imajinasi, ide-ide, dan apersepsi guna memecahkan masalah.

  1. Hakikat Belajar

Istilah dari kata ’belajar’ berasal dari bahasa Inggris, yaitu kata ’learning’, artinya perolehan dari sebarang perubahan yang relatif permanen dalam tingkah laku, sebagai hasil dari praktek atau hasil pengalaman, atau proses mendapatkan reaksi-reaksi, sebagai hasil dari praktek dan latihan khusus.

Hakikat belajar sebagaimana yang dikemukakan Irwanto (et.al.), bahwa belajar ialah salah satu bentuk perilaku yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses Belajar inilah manusia bertahan hidup (survived).

Belajar selalu dihubungkan pada reaksi, aktivitas dan kreativitas yang dapat membawa suatu perubahan pada setiap individu. Perubahan tersebut menyangkut perubahan pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan, Nana Sudjana mengatakan bahwa belajar adalah proses yang aktif, belajar adalah proses mereaksi terhadap situasi yang ada di sekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, memahami sesuatu.

Pengertian belajar menurut Skinner (dalam Barlow, 1985) yang dikutif Muhibbin Syah, bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif.Sedangkan, Hintzman (1978) mengatakan bahwa ’learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behavior’ (Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi oleh pengalaman diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme).

Selanjutnya, Biggs (1991) mendefinisikan belajar menjadi 3 (tiga) rumusan, adalah sebagai berikut :

1.      Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini di pandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.

2.      Secara institusional (tujuan kelembagaan), belajar di pandang sebagai proses validasi (pengabsahan) terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa telah belajar dapat diketahui dalam hubungannya dengan proses mengajar. Ukurannya ialah semakin baik mutu mengajar yang dilakukan guru maka akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai.

3.      Secara kualitatif (tinjauan mutu), belajar ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa, belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa.

Yang di maksud belajar adalah suatu perubahan sikap dari tidak mengetahui menjadi mengetahui, dari belum menguasai menjadi menguasai ilmu pengetahuan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis, seperti : motivasi, persepsi, sikap kesiapan dan kematangan.

  1. Hakikat Kreativitas Belajar

Pengertian ’kreativitas’ merupakan kemampuan untuk mencipta; daya cipta; perihal berkreasi. Serta berhubungan dengan kata ’kreasi’, artinya hasil daya cipta; hasil daya khayal (penyair, komponis, pelukis, dsb): atau hasil buah pikiran atau kecerdasan akal manusia.

Pengertian kreativitas dalam meningkatkan kreativitas siswa hendaknya merupakan bagian integral dari setiap pendidikan. Jika meninjau tujuan program atau sasaran belajar siswa, kreativitas biasanya disebut sebagai prioritas. Hal ini dapat dipahami jika kita melihat dasar pertimbangan (rasional) mengapa kreativitas perlu dipupuk dan dikembangkan.

Hal ini tidak berarti bahwa kreativitas harus dilihat terpisah dari mata pelajaran lainnya. Kreativitas hendaknya meresap dalam seluruh kurikulum dan iklim kelas melalui faktor-faktor seperti sikap menerima keunikan individu, pertanyaan yang berakhir terbuka, penjajakan (eksplorasi), dan kemungkinan membuat pilihan. Menurut De Bono sebagaimana yang dikutif Utami Munandar, bahwa ia menganjurkan dan mempraktekkan kreativitas sebagai mata pelajaran tersendiri, lepas dari bahan materi tertentu.

Sebagai dasar pertimbangan untuk mengembangkan kreativitas belajar siswa dapat diintisarikan sebagai berikut :

1.      Dewasa ini tampak adanya kesenjangan antara kebutuhan akan kreativitas dan perwujudannya di dalam masyarakat pada umumnya, dan dalam pendidikan di sekolah khususnya;

2.      Pendidikan di sekolah lebih berorientasi pada pengembangan kecerdasan (intelegensi) dari pada pengembangan kreativitas, sedangkan keduanya sama pentingnya un tuk mencapai keberhasilan dalam belajar dan dalam hidup;

3.      Pendidik (guru dan orang tua) masih kurang memahami arti       kreativitas-yang meliputi ciri bakat dan non-bakat-dan bagaimana mengembangkannya pada anak dalam tinga lingkungan pendidikan: di rumah, di sekolah, dan di dalam masyarakat;

4.      Masih sangat kurangnya pelayanan pendidikan khusus bagi mereka yang berbakat istimewa sebagai sumber daya manusia berpotensi unggul padahal apabila mereka diberi kesempatan pendidikan yang sesuai dengan potensinya, dapat memberikan kontribusi yang bermakna kepada masyarakatnya. Akibat banyak anak berbakat berprestasi di bawah potensi mereka; dan

5.      Dalam pelayanan pendidikan bagi anak berbakat, pengembangan kreativitas sebagai salah satu faktor utama yang menentukan keberbakatan merupakan suatu tuntutan.

Mengingat bahwa kreativitas merupakan bakat yang secara potensial dimiliki oleh setiap orang, yang dapat ditemukenali (diidentifikasi) dan dipupuk melalui pendidikan yang tepat, salah satu masalah yang kritis adalah bagaimana dapat menemukenali potensi kreatif siswa dan bagaimana dapat mengemmbangkannya melalui pengalaman pendidikan.

Kreativitas adalah hasil proses interaksi antara individu dan lingkungannya. Seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia berada, dengan demikian baik peubah di dalam individu maupun di dalam lingkungan dapat menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif.

Menurut Garry K. Himes mengungkapkan tentang sifat-sifat orang kreatif, adalah sebagai berikut :

1.      Sensitivitas terhadap lingkungan. Ada suatu kemampuan untuk melihat segala sesuatu, memperhatikan masalah-masalah atau bidang-bidang kebutuhan dan menyadari keadaan-keadaan yang menjanjikan. Ada satu kepandaian khusus untuk melakukan pengamatan-pengamatan yang luar biasa dan rinci;

2.      Fleksibel, terbuka, ingin tahu, dan selektif. Penyesuaian dengan setiap perkembangan serta perubahan baru dilakukan dengan cepat, pemecahan-pemecahan unik terhadap setiap masalah dan hubungan jauh dapat dilihat serta asumsi-asumsi terdahulu dibuang dengan adanya bukti-bukti baru. Ada suatu keingintahuan yang intensif tentang segala sesuatu. Masalah-masalah dipecahkan menjadi bagian-bagian komponennya, hubungan antara variabel dipahami dan aspek-aspek dasar serta bagian-bagian yang sangat penting dari suatu masalah ditangkap;

3.      Penilaian bebas. Ada satu keinginan untuk lain dari yang lain dan menyimpang dari praktik-praktik masa lampau meskipun jika hal tersebut berarti berdiri sendiri terhadap tekanan-tekanan yang harus diikuti. Risiko-risiko diambil jika tampak pantas menimbulkan kegagalan. Kesalahan dipandang sebagai keadaan dari mana gagasan-gagasan yang lebih baik mungkin muncul;

4.      Toleransi terhadap kesamaran. Orang-orang kreatif mentoleransi ketidak-tentuan, kerumitan dan ketidakteraturan karena keadaan-keadaan ini memungkinkan mendatangkan jawaban-jawaban yang diinginkan. Ada sedikit kebutuhan untuk menentukan struktur yang prematur dan disederhanakan; dan

5.      Fleksibilitas mental. Pikiran kreatif memperlihatkan mobilitas ketika data dan gagasan yang berhubungan dan tidak berhubungan diatur kembali, dimodifikasi dan didefinisikan kembali. Jika tidak terjadi pemikiran yang berarti bagi suatu masalah, pekerjaan dihentikan. Setelah kembali, suatu pendekatan segar muncul dengan kemudahan yang lebih besar.

Yang di maksud kreativitas belajar adalah suatu kemampuan mental untuk mencipta, daya cipta, dan perihal berkreasi yang menghasilkan bentuk-bentuk baru dalam seni, atau dalam permesinan, atau dalam memecahkan masalah-masalah dengan metode-metode baru melalui proses belajar secara langsung atau berlatih dalam menumbuhkembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

  1. Hakikat Metode Diskusi

Pengertian metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud. Istilah diskusi berasal dari bahasa Latin yaitu ‘discuss’ terdiri dari dua kata yaitu ‘dis’ artinya terpisah dan kata ‘cuture’ artinya menggoncang atau memukul. Kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘diskusi’. Diskusi merupakan pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah. Berdiskusi adalah mengadakan diskusi; bertukar pikiran. Mendiskusikan berarti membicarakan sesuatu di diskusi.

Metode diskusi menurut Nana Sudjana ialah tukar menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu. Kemudian, menurut Mansyur, bahwa diskusi adalah percakapan ilmiah yang berisikan pertukaran pendapat, pemunculan ide-ide, serta pengujian pendapat yang dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok untuk mencari kebenaran.

Sedangkan, metode diskusi dalam proses belajar mengajar adalah sebuah cara yang dilakukan dalam mempelajari atau menyampaikan materi dengan jalan mendiskusikannya, dengan tujuan dapat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku pada siswa.

Sedangkan, peranan guru dalam diskusi menurut Roestiyah NK., antara lain adalah:

(1)     Menjaga pembicaraan jangan sampai menyeleweng;

(2)     Semua anggota harus aktif berpartisipasi;

(3)     Yang pemalu harap dibimbing agar ikut;                   

(4)     Menjamin tata tertib;

(5)     Jangan sampai suasana menjadi tegang;

(6)     Murid-murid harus mengerti masalahnya; dan

(7)     Harus ada kesimpulan.

Kemudian, Roestiyah NK. Mengatakan bahwa tugas guru dalam diskusi, adalah:

(1)     Memimpin diskusi sebagai pengatur lalu lintas, yakni: menunjukkan pertanyaan pada murid; menjaga tata tertib; mencegah dikuasainya oleh beberapa murid; memberikan kesempatan dan mendorong pada pemalu; dan mengatur sehingga semua mengerti dengan jelas;

(2)     Sebagai dinding penangkis, yaitu guru tidak menjawab semua pertanyaan, tetapi dipantulkan kembali pada murid; dan

(3)     Sebagai penunjuk jalan, yakni: kalau pertanyaan siswa salah, dibertulkan; dan kalau pertanyaan buntu, guru membantu memberikan pertanyaan.

Penggunaan metode diskusi seringkali dilakukan dengan cara berkelompok, yang pada gilirannya sering disebut diskusi kelompok. Di dalam metode diskusi menurut Berlmutter dan De Montmollin (1952), menyatakan bahwa sebuah analisis penelitian menunjukkan, dalam kelompok diskusi, siswa belajar lebih cepat, dan pengalaman kelompok sering beralih ke anggota-anggota kelompok, sehingga mereka bekerja/belajar lebih efektif sekembali ke pekerjaan masing-masing.

Metode diskusi dapat digunakan untuk menyampaikan pengetahuan, namun keuntungan besar metode ini terletak pada perubahan yang             meyangkut motovasi, emosi, dan sikap. Hal ini sejalan dengan Lewis (1958) yang mengatakan, bahwa metode diskusi dapat mengubah tabiat                    sebuah kelompok dari pada tabiat perorangan. Menurut Davies (1968) mengatakan, bahwa penelitian melaporkan perubahan dalam sikap, hubungan antarpersonal, dan percaya pada diri sendiri adalah hasil dari pengalaman kelompok.

Macam-macam jenis diskusi, antara lain adalah sebagai berikut:

(1)     Diskusi panel, adalah sejumlah orang yang dipilih untuk berdiskusi, biasanya dipilih dari yang berpendirian berbeda dan orang lain yang tidak ikut diskusi mendengarkan/menyaksikan, yang dipimpin oleh moderator, dengan tujuan untuk mencari pengertian yang lebih lua dan mendalam dari berbagai pandangan;

(2) Simposium, adalah diskusi dengan memilih beberapa ahli atau berpengetahuan banyak tentang suatu masalah. Setiap peserta mempunyai pandangan yang beda atau bertentangan. Setiap peserta diberikan kesempatan memeaparkan pendiriannya. Setelah setiap pembicara selesaikan mengemukakan pendapatnya, para pendengar diberi kesempatan untuk bertanya, memberi kritik, atau menambah keterangan. Jadi, diskusi itu terjadi antara pendengar dengan pembicara, bukan antara para anggota simposium;

(3)     Lecture discussion, adalah diskusi kuliah, hanya ada seorang pembicara yang memaparkan buah pikirannya mengenai suatu pokok masalah selama 20 sampai 30 menit. Setelah itu para pendengar dapat mengajukan pertanyaan atau meminta penjelasan lebih lanjut. Tujuan diskusi ini memberi pengertian yang mendalam mengenai suatu masalah menurut pandangan seorang pembicara tertentu; dan

(4)     Diskusi formal, adalah suatu diskusi yang dilakukan menurut prosedur suatu perkumpulan/organisasi, seperti rapat Dewan Perwakilan Rakyat dan sebagainya. Segala pembicaraan diatur oleh seorang ketua, seseorang yang ingin mengemukakan pendapat harus minta izin ketua. Untuk membicarakan sesuatu dapat dibuka satu, dua, atau tiga babak, hasil pembicaraan dicatat oleh seorang sekretaris. Ketua bertugas mengatur pembicaraan, mengadakan rangkuman, merumuskan kembali segi-segi masalah, mencoba mempertemukan pendapat-pendapat yang berlainan dan akhirnya mengambil keputusan atas pemungutan suara.

Kemudian, I.L. Pasaribu dan B. Simanjuntak mengemukakan, bahwa manfaat diskusi adalah:

(1)         Dalam diskusi anak belajar berpikir tentang suatu masalah;

(2)         Mereka mendapat latihan untuk mengembangkan pendapatnya, mempertahankannya, atau menerima pendapat orang lain yang benar;

(3)         Mendapat kesempatan untuk berpikir bersama tentang suatu masalah. Setiap peserta dapat memberikan sumbangannya berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. Kesalahan-kesalahan perseorangan dapat dengan segera diperbaiki, sehingga dapat dicapai sesuatu pendapat yang dapat dipertanggungjawabakan;

(4)         Dalam diskusi anak-anak belajar bersifat toleran terhadap pendirian orang lain, lebih hati-hati dan kritis terhadap pendirian sendiri. Saling mengoreksi, saling menerima. Dengan demikian, perasaan sosial akan terpupuk, perbendahaan bahasa berkembang dan seterusnya;

(5)         Hasil belajar dengan diskusi akan lebih mantap dari pada hanya dengan hafalan. Anak akan menggunakan pikirannya dan pengetahuannya secara aktif dan efektif dalam menghadapi masalah.

Jadi, pengertian metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pembelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk kreatif berkomunikasi ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai pemecahan masalah dengan saling mempengaruhi satu sama lain, baik secara individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok guna mendapat jawaban dari permasalahan yang sedang dibicarakan guna mendapatkan pengertian dan perilaku.

 

B.  Kerangka Berpikir Tindakan

Yang di maksud kreativitas adalah kemampuan mental hasil  interaksi individu dengan lingkungan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis seperti: fantasi, imajinasi, ide-ide, dan apersepsi guna memecahkan masalah.

Yang di maksud metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pembelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk kreatif berkomunikasi ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai pemecahan masalah dengan berinteraksi satu sama lain, baik secara individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, guna mendapatkan jawaban atau pengertian dan perilaku.

Kemampuan kreativitas belajar siswa MA NW Pringgarata, saat ini menunjukkan masih rendah pada aspek-aspek sebagai berikut: minat dan perhatian dalam belajar, kemampuan komunikasi, kemampuan berinteraksi, kemampuan bersosialisasi, keberanian bertanya, keberanian untuk menjawab, menghargai perbedaan pendapat, sikap dan aktivitas dalam belajar dalam pemecahan masalah, dan sebagainya.

Guna menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas siswa MA NW Pringgarata dalam belajar pada mata pelajaran Sosiologi (Sosiologi) dapat meningkatkan kreativitas siswa dengan cara menggunakan metode diskusi.

Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa pelaksanaan pembelajaran Sosiologi  melalui metode diskusi dapat meningkatkan kreativitas siswa.

 

C.  Hipotesis

Berdasarkan pandangan di atas, maka penelitian tindakan kelas ini memiliki hipotesis sebagai berikut: ”Dengan diterapkan metode diskusi oleh guru diduga dapat meningkatkan kreativitas siswa MA NW Pringgarata”.

BAB III

KERANGKA METODOLOGI PENELITIAN

 

A.  Tujuan Penelitian

Dalam penelitian tindakan kelas ini, penulis memiliki tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1)            Untuk mengetahui peningkatan kreativitas peserta didik di MA NW Pringgarata;

2)            Untuk mengetahui upaya guru dalam meningkatkan kreatvitas siswa melalui metode diskusi di MA NW Pringgarata.

 

B.  Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) ini dilaksanakan di Kelas  XI, dengan jumlah peserta sebanyak 23 siswa. Pelaksanaan penelitian yang dilakukan mengambil lokasi penelitian di MA NW Pringgarata. Penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan peneliti, yaitu pada tahun pelajaran 2004/2005 semester II mulai bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2005.

 

C.  Metode Penelitian

Classroom Action Research (penelitian tindakan kelas) merupakan bagian dari Action Research (penelitian tindakan). Action Research bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain.

Menurut Rapoport (1970) yang dikutif Hopkins (1993) dalam  Kunandar (2008), bahwa pengertian Classroom Action Reserach (penelitian tindakan kelas) adalah penelitian untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu sosial dengan kerjasama dalam rangka etika yang disepakati bersama.

Selanjutnya, Sri Rahayu Pudjiastuti dalam bukunya ‘Metode Penelitian Pendidikan’, membedakan penelitian tindakan menjadi 2 macam, yaitu Classroom Research dan Action Research.Sedangkan, Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa penelitian action research adalah salah satu jenis penelitian yang tidak memerlukan hipotesis. Sugiyono mengemukakan bahwa action research atau penelitian tindakan merupakan suatu jenis penelitian yang menghendaki perubahan dalam situasi tertentu untuk menguji prosedur yang diperkirakan akan menghasilkan perubahan tersebut.

Tujuan penelitian tindakan, yakni a) situasi; b) perilaku; dan c) organisasi. Berikut ini sebagaimana dikemukakan Kemmis dan Taggart yang dikutif Arikunto, mengatakan bahwa langkah-langkah penelitian tindakan atau action reseach, adalah:

1.   Menyusun sebuah rencana untuk mengembangkan/meningkatkan tindakan yang sudah dan sedang dilangsungkan.

2.   Melaksanakan apa yang direncanakan. Peneliti menerapkan beberapa tindakan yang telah direncanakan.

3.   Mengadakan pengamatan akibat dari tindakan yang dilakukan. Peneliti melakukan upaya pemantauan untuk melihat seberapa jauh efek tindakan yang telah dilakukan peneliti membawa perubahan ke arah yang diharapkan.

4.   Mengadakan refleksi berdasarkan atas akibat-akibat tindakan untuk membuat rencana tindak lanjut.

Berdasarkan pada berbagai pendapat di atas, bahwa Classroom Action Reserach (penelitian tindakan kelas) adalah suatu penelitian tindakan yang dilakukan guru sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau dengan orang lain (berkolaborasi) dengan jalan merencanakan, melaksanakan/tindakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas melalui suatu tindakan (treatment) tertentu dalam suatu siklus.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas, yaitu mencari gambaran secara lengkap mengenai upaya guru dalam meningkatkan kreativitas siswa melalui metode diskusi.

 

D.  Sumber Data

Peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas menetapkan subjek penelitan yaitu peserta didik Tahun Pelajaran 2004/2005 yang berada di kelas X MA NW Pringgarata sejumlah 23 orang siswa.

Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :

  1. Sumber data yang di dapat dari aktivitas siswa selama kegiatan proses pembelajaran berlangsung;
  2. Sumber data yang di dapat dari hasil belajar siswa selama kegiatan proses pembelajaran berlangsung;
  3. Sumber data yang di dapat dari guru guna melihat tingkat keberhasilan peningkatan kreativitas siswa melalui metode diskusi; dan
  4. Sumber data yang di dapat dari teman sejawat serta hasil kolaborasi  guna melihat pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan kelas secara komprehensif baik dari guru maupun peserta didik.

E   Langkah-Langkah Penelitian

Prosedur atau langkah-langkah penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui siklus I, siklus II, dan siklus III. Kesemua siklus dalam penelitian tindakan kelas ini, adalah sebagai berikut :

1)          Tahap Perencanaan

(1)       Peneliti melakukan analisis kurikulum/silabus untuk mengetahui standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran diskusi guna tercapainya kreativitas dan kemampuan rata-rata ;

(2)       Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran Sosiologi, masyarakat multikultural, Peran Indonesia dalam lingkungan Asia Tenggara dan Politik Bebas Aktif;

(3)       Membuat lembar kerja siswa;

(4)       Membuat lembar pedoman observasi dan menetapkan observer yang digunakan dalam siklus penelitian tindakan kelas; dan

(5)       Menyusun dan menetapkan soal yang akan dikerjakan peserta didik sebagai alat evaluasi pembelajaran.

2)          Tahap Tindakan/Pelaksanaan

Pada tahap tindakan ini yang terpenting adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui metode diskusi dalam upaya meningkatkan kreativitas siswa. Sedangkan tindakan yang dilakukan berupa :

(a)    Melakukan pretes untuk mengukur kemampuan siswa di awal tentang kemampuan pemecahan masalah Sosiologi serta tes kinerja untuk mengukur kemampuan psikomotorik siswa;

(b)    Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa melalui metode diskusi;

(c)    Menyajikan informasi berupa materi pokok ASEAN, Peran Indonesia dalam lingkungan Asia Tenggara dan Politik Bebas Aktif;

(d)   Mengorganisasikan siswa dalam kegiatan pembelajaran melalui diskusi;

(e)    Membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran baik individu maupun kelompok;

(f)    Melakukan evaluasi berupa postes;

(g)    Melakukan perbandingan skor (nilai) yang yang diperoleh pada saat pretes dan postes pada setiap siklus tindakan;

(h)    Memberikan penghargaan kepada siswa yang telah menunjukkan peningkatan kemampuan Sosiologi sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM); dan

(i)     Memberikan motivasi kepada siswa yang belum mencapai batas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan.

3)     Tahap Observasi

(a)    Obsedrvasi dilakukan bersamaan pada situasi dan kondisi kegiatan belajar mengajar melalui metode diskusi tentang kreativitas siswa;

(b)    Observasi pada segala perubahan yang terjadi mengenai kreativitas belajar siswa yang dicapai masing-masing sebagai dampak dari tindakan yang telah dilakukan;

(3)    Observasi tentang kreativitas siswa melaksanakan metode diskusi saat kegiatan pembelajaran berlangsung, baik berupa kreativitas siswa dalam  berkomunikasi, berinteraksi, bersosialisasi, penalaran, dan pemecahan masalah Sosiologi;

4)     Tahap Refleksi

Kegiatan pada langkah ini adalah mencermati, mengkaji, dan menganalisis secara mendalam dan menyeluruh tindakan yang telah dilaksanakan berlandaskan pada data yang telah terkumpul pada langkah observasi, baik data yang bersifat kualitatif dan kuantatif. Berdasarkan data yang ada, peneliti melakukan perenungan dan mengevaluasi untuk menemukan keberhasilan dari dampak tindakan yang telah dilakukan terhadap segala perbaikan atau peningkatan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa. Selain itu, melalui evaluasi dalam refleksi ini juga akan ditemukan kelemahan-kelemahan yang masih ada pada tindakan yang telah dilaksanakan untuk kemudian dijadikan landasan penyempurnaan rencana tindakan dari siklus I, ke siklus II dan bila memang diperlukan ke siklus III.

Penelitian tindakan kelas ini melalui proses tiga siklus, yakni siklus I berupa hal yang terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observasi), dan refleksi (reflecting). Sedangkan, siklus Imerupakan tindakan yang diorientasikan pada sosialisasi mengenai pembelajaran pemecahan masalah matematika melalui metode diskusi.

Langkah selanjutnya, berkaitan dengan rencana siklus II yang di dalamnya berupa rancangan yang pada dasarnya tidak berbeda dengan  siklus I. Siklus II ini diharapkan terjadinya beberapa perubahan yang sangat berarti ke arah penyempurnaan. Bila ada perubahan yang berarti, maka di siklus II tidak dilaksanakan lagi. Demikian pula pada langkah siklus III, langkah ini akan dilaksanakan bila diperlukan untuk menggali data lebih dalam lagi.

 

F.   Teknik Kalibrasi Keabsahan Data

Sedangkan cara atau teknik yang digunakan untuk menunjukkan keabsahan data, adalah melalui cara atau teknik mengamati, mencatat, dan mendokumentasikan terutama mengenai pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilakukan guru melalui metode diskusi, serta berbagai aktivitas dari kegiatan proses belajar mengajar yang menunjukkan kreativitas siswa selama kegiatan pelaksanaan proses belajar mengajar berlangsung.

G.  Teknik Analisa Data

Teknik analisis data yang dilakukan menggunakan analisis data inferensial, yaitu merupakan penganalisisan atau pengolahan data dengan tidak melakukan pengujian hipotesis. Tetapi, peneliti melakukan langsung pelaksanaan proses belajar mengajar melalui metode diskusi dalam upaya meningkatkan kreativitas siswa.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan pada pendapat Miles dan Huberman yang dikutif Sugiyono, adalah bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas analisis data, yaitu data reduction, data display, dan verifikasi/conclusion drawing.

Penjelasan dari Miles dan Huberman, adalah sebagai berikut adalah :

1)                              Reduksi data (data Reduction)

Mereduksi data ialah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. maka, data yang telah direduksi memberikan gambaran yang jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu dengan peralatan elektronik seperti komputer mini dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu.

2)      Penyajian Data (data display)

Penyajian data pada penelitian kualitatif adalah melalui teks yang bersifat naratif. Melalui penyajian data, maka akan lebih mudah memahami apa yang sedang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut. Disarankan, dalam melakukan penyajian data, menggunakan teks yang naratif, dan dapat pula berupa grafik, matrik, network (jejaring kerja), dan chart.

3)      Verifikasi dan Penarikan Kesimpulan (Conclusion drawing/Verification)

Teknik analisa data pada penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan cara melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi, dimulai dengan kesimpulan yang bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi, apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap pertama didukung dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel atau dapat dipercaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN

 

A.    Kondisi Madrasah

1.      Sejarah Singkat

           MA NW Pringgarata terletak di komplek Tata kota lenggah jaya Cabangbungin Pringgarata, merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Umum berciri khas Agama Islam di bawah naungan Departemen Agama, mengajarkan tidak saja ilmu-ilmu agama, seperti Qur’an Hadits, Aqidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab, juga mengajarkan kepada siswanya ilmu-ilmu umum, seperti Matematika, Bahasa Inggris, Biologi, Fisika, Bahasa Indonesia, PPKN, Sosiologi, Geografi, Ekonomi dan sebagainya. Dengan kata lain MA Negeri Cabangbungin Kabupaten Pringgarata memadukan kurikulum Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional, Dengan sistem KBK (Kurikulum berbasis Kompetensi).

           MA NW Pringgarata, merupakan lembaga  pendidikan Islam negeri di bawah naungan Departemen Agama dengan keputusan Menteri Agama Nomor : 558/2004, tahun 2004.

           Lahirnya sebuah lembaga pendidikan Islam Negeri  di Cabangbungin yang pertama ini. Sehubungan dengan perkembangan dan pertumbuhan masyarakat Cabangbungin yang sangat cepat dan seiring arus globalisasi serta mengingat adanya keseimbangan antara pendidikan umum dengan pendidkan agama setingkat SMA. Maka beberapa tokoh masyarakat Cabangbungin bersatu dalam tekad untuk mendirikan lembaga tersebut, walaupun merupakan filial dari MA Negeri Cikarang, dengan Drs.Ilin Nuryadin yang di beri tugas untuk mengurus penegerian mandiri menjadi MA Negeri Cabangbungin.

                        Sebagai lembaga pendidikan berbasis Sains dan Agama, MA Negeri Cabangbungin Kab. Pringgarata mencitrai dirinya sebagai “Gerbang Ilmu, spiritual dan moral”. Ini dapat dilihat dari suasana kehidupan dan penampilan siswa yang religius, kompetetif dan terkesan harus akan ilmu. Seperi, seragam sekolah dengan nuansa islami, perilaku siswa yang santun, ruang belajar yang bersih dan tertata rapih. Serta keakraban antar siswa, siswa dengan guru, dan guru dengan guru, serta dengan karyawan.

           Demikian juga dengan suasana kehidupan spiritual, seperti setiap menjelang waktu Dzuhur para siswa berbondong-bondong shalat Dzuhur berjamaah, sebelum shalat mereka mendengarkan kultum yang di sampaikan oleh siswa sendiri, terkadang oleh guru, belum lagi siraman-siraman rohani Islam yang di sampaikan para ulama dalam kegiatan hari besar Islam.

           Di samping itu berbagai kegiatan ekstrakurikuler mewarnai aktifitas belajar, mengembangkan keterampilan dan menguji kepemimpinan melalui berbagai organisasi, OSIS, PMR, Paskibra, dan Pramuka.

             Dalam perkembangan internal siswa perubahan yang terjadi secara  psiko-sosial dan biologis dari masa anak-anak menuju masa remaja sedikit banyak telah menimbulka goncangan spiritual dan moral siswa. Bila tidak dilakukan terapi secara intensif dan sistematis serta suasana yang kondusip bagi perubahan tersebut maka akan dapat menimbulkan dampak negatif pada dirinya.

          Demikian pula perubahan dean perkembangan eksternal yang terjadi dewasa ini, walaupun di suatu sisi positif, namun di sisi lain juga membawa dampak negatif pada pertumbuhan jiwa dan perilaku siswa, seperti porno gerafi, narkoba, dan sebagainya.

          Oleh karena itu tanggung jawab semua komponen warga Madrasah Aliyah bukan saja sebatas bekerja, dan belajar mengajar, tapi juga menanamkan nilai-nilai spiritual, moral serta menciptakan suasana kondusif, kompetitf, dan intelektual. Ujar Drs Ilin Nuryadin, kepala MA NW Pringgarata

         Sejak berdirinya yaitu pada tahun 2002/2003, MA NW Pringgaratatelah memiliki komitmen sebagai lembaga pendidikan yang dapat menciptakan manusia-manusia berkualitas, ilmu, iman, dan amal. Kini komitmen  tersebut lebih di pertegas lagi dalam bentuk Visi dan Misi Madrasah.

2.    Rekapitulasi Tenaga pengajar dan Personalia

           Keadaan guru dan personalia MA NW Pringgarata pada Tahun 2004/2005 , adalah sebagai berikut:

No

NAMA

TEMP. TGL LAHIR

JABATAN

1

Drs. Ilin Nuryadin

Pringgarata,05-04-1965

Kep. Madrasah

2

Haerul Ihwan, M.Ag

Pringgarata, 08-04-1968

Guru

3

Abdul Rohman, S.Pd

Pringgarata, 20-07-1968

Guru

4

Kandi Supriyadi, M.Pd

Pringgarata, 14-07-1969

Guru/Kesiswaan

5

Sarmili, S.Ag

Pringgarata, 05-03-1975

Guru

6

Syukron Rizal  S.Ag

Pringgarata, 25-02-1974

Guru

7

Nabrowi, S.Ag

Pringgarata, 03-06-1973

Guru/ Sarana

8

Kanong Suwardi, S.Ag

Pringgarata, 16-04-1974

Guru

9

Samin, S.Pd.I

Pringgarata, 18-11-1978

Guru

10

Abd. Kosim S.Ag

Pringgarata, 09-09-1970

Guru

11

Abdul Hanan, S.Pd.I

Pringgarata, 06-10-1955

Guru

12

H. Sobari DMY, S.Pd

Pringgarata, 14-04 1961

Guru

13

Dra. Hj. Nuryati

Jakarta, 16-06-1962

Guru

14

Jamhuri, S.Pd.I

Pringgarata,12-04-1966

Guru

15

Syarifudin, S.Ag

Pringgarata, 16-04-1976

Guru

16

Ahmad Arif, S.Ag

Pringgarata, 12-02-1970

Guru

17

Mahmud Fauzi, S.Pd

Pringgarata,15-06-1975

Guru

18

Nur Insan IBTH, S.Pd.I

Pringgarata, 04-01-1968

Guru

19

Pahrurroji,S.Pd

Pringgarata,

Guru

20

Asep Sugiyanto, S.Pd

Pringgarata, 12-05-1979

Guru

21

Novi Andi Jatm, S.Pt

Pringgarata,

Guru

22

Nosin, S.Ing

Pringgarata, 16-02-1968

Guru

23

Nurudin, S.Ag

Pringgarata, 18-04-1962

Ka. Ur. TU

24

Iing Mutaqin

Pringgarata, 05-04-1983

Staf TU

25

Wenah Alminah

Pringgarata, 07-09-1983

Staf TU

26

Abdul Kodir

Pringgarata, 03-04-1945

Penjaga

       

 

 

 

 

 

3.      Rekapitulasi Keadaan siswa MA NW Pringgarata

Keadaan siswa MA NW Pringgarata pada Tahun Pelajaran 2004/2005  adalah sebagai berikut:

NO

KELAS

JUMLAH SISWA

KET

L

        P

JUMLAH

1

X

15

20

35

 

2

XI

15

8

23

 

3

XII

43

54

97

 
 

JUMLAH

   

155

 

 

4.       Sarana dan Prasarana

MA NW Pringgarataberdiri di atas tanah seluas 4.250 M2 dengan luas bangunan 456 M2.

Sampai Tahun 2004/200 ini, sarana dan prasarana yang mendukung proses KBM di MA NW Pringgarata dapat di kemukakan sebagai berikut:

NO

JENIS SARANA

BANYAKNYA

 

1

Ruang belajar/ Kelas

5 buah

 

2

Ruang Kepala Sekolah

1 buah

 

3

Ruang Guru

1 buah

 

4

Ruang Tata Usaha

1 buah

 

5

Meja Guru

10 buah

 

6

Meja Siswa

101 buah

 

7

Almari

4 buah

 

8

Rak Buku

2 buah

 

9

Toa/ Speaker

1 buah

 

10

Taperecorder

2 buah

 

11

Papan Tulis

5 buah

 

12

Ruang MCK

3 buah

 

13

Computer

11 buah

 

14

Lap Top

2 buah

 

 

5.      Kegiatan Belajar Mengajar

            Kegiatan Belajar Mengajar di MA NW Pringgarata, di laksanakan pada pagi hari yaitu mulai paukul 07.00 s/d 12.30. Dan dalam kegiatan belajar mengajar tersebut menggunakan system mata pelajaran , dengan setiap satu mata pelajaran dengan seorang atau lebih guru.

            Dan untuk mencapai hasil yang di harapkan dalam kegiatan belajar mengajar harus memnuhi beberapa komponen yang harus di tempuh oleh seorang guru, dengan tujuan agar siswa saling berinteraksi, kreatif, aktif sehingga mendapatkan berbagai konsep atau pengetahuan yang di transformasikan oleh seorang guru. Dalam hal ini MA NW Pringgarata

 

 

BAB V
PENUTUP

  1. A.     Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana di bahas di muka, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Upaya guru pembimbing dalam mendeskripsikan bentuk dan jenis-jenis kenakalan siswa secara kualitatif dan kuantitatif terlihat cukup berhasil. Klasifikasi bentuk dan jenis kenakalan siswa telah dapat dikategorikan kedalam kategori kenakalan ringan, kenakalan sedang, dan kenakalan berat.
2. Upaya guru pembimbing dalam menanggulangi kenakalan siswa tampak lebih komprohensif dibanding dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh guru PAI. Tetapi, upaya yang dilakukan oleh guru pembimbing tidak akan berhasil tanpa disertai oleh upaya yang sejalan sebagaimana dilakukan oleh guru PAI.
3. Upaya guru pembimbing dapat dikatakan sebagai dua upaya yang saling terkait dan bersinambungan satu sama lain dalam upaya menanggulangi kenakalan siswa.
4. Upaya penanggulangan siswa di MA NW Pringgarata tampaknya menjadi wewenang dan tanggung jawab utama guru pembimbing. Kondisi ini membuat komponen-komponen lain di sekolah sebagai bagian dari keseluruhan terkesan hanya sebagai kepanjangan tangan dari keputusan dan kebijakan guru pembimbing. Tetapi di satu sisi kondisi ini memotivasi guru pembimbing untuk melaksanakan tugas-tugas yang diamanatkan dalam menanggulangi kenakalan siswa.

  1. B.     Saran-saran

1. Kerjasama yang baik antar guru dengan kepala sekolah, guru dengan personil sekolah lainnya hendaknya lebih dapat diintensifkan lagi, sehingga dapat meningkatkan kemajuan sekolah secara bersama-sama.
2. Hendaknya pihak sekolah mengadakan kegiatan pembinaan bagi orang tua/wali agar mereka lebih menyadari akan pentingnya perhatian dalam mendidik putra-putrinya, sehingga dapat meminimalisir kenakalannya.
3. Para siswa hendaknya dapat menyadari bahwa melakukan kenakalan dan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah, di rumah dan di masyarakat adalah merupakan tindakan yang tidak terpuji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s