Awas Bahaya Judi dan Minuman Keras

Image

“AWAS BAHAYA JUDI DAN MINUMAN KERAS”

 

  1. Bahaya Minuman Keras.

 

Rasulullah saw. bersabda:

 “Sesungguhnya dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan itu semuanya berada dalam satu rumah, dan kuncinya adalah meminum minuman keras.”

 

             Usman bin Affan ra. pernah mengatakan dalam khotbahnya, “Wahai segenap manusia, jauhilah minuman keras, karena sesungguhnya minuman keras itu adalah induk dari segala perbuatan keji. Dahulu pernah ada seorang ahli ibadah yang biasa pergi ke masjid. Di tengah jalan ia bertemu seorang perempuan pelacur dan perempuan itu menyuruh pelayannya untuk mengajak orang yang ahli ibadah itu masuk ke rumahnya. Setelah ia masuk, maka perempuan itu menutup pintu, dan disisinya ada segelas minuman keras dan ada seorang anak. Perempuan itu berkata padanya,’Kamu tidak boleh meninggalkan aku sebelum meminum minuman keras, menyetubuhi aku, atau membunuh anak ini. Jika kamu tidak mau, aku akan berteriak sekeras-kerasnya dan aku akan mengatakan bahwa ada orang jahat masuk kerumahku, sehingga tak akan ada seorangpun yang percaya padamu.’ Mendengar ucapan perempuan tadi, orang itu tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya berkata,’Aku tidak mau bersetubuh dan aku juga tidak mau membunuh.’ Kemudian ia memilih meminum minuman keras, dan berkata pada perempuan itu, ‘Beri lagi aku minuman keras.’ Perempuan itupun memberinya lagi sampai ia mabuk lantas berzina dan membunuh anak yang telah melihat perbuatannya itu.”  Usman ra. lalu berkata, ”Demi Allah, sungguh iman dan minuman keras itu tidak akan bisa berada dalam diri seseorang. Salah satunya akan mendesak untuk menghilangkan yang lain.”

 

            Saat ini, dengan berbagai jenis dan namanya, minuman keras dan zat yang memabukkan melanda umat Islam, khususnya generasi muda Islam. Dengan dalih sebagai minuman kesehatan atau penyedap masakan, masyarakat kita mulai mewajarkan minuman ini. Padahal, tindak kejahatan, tawuran pelajar dan perilaku maksiat lainnya, seringkali merupakan dampak dari hilangnya kesadaran akibat meminum minuman keras.

 

            Maka, menjauhi minuman keras adalah wajib. Hendaknya kita selalu ingat peringatan Rasulullah saw yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud: “Dalam masalah minuman keras, ada sepuluh pihak yang berdosa, yaitu orang yang (1)memerasnya, (2)minta diperaskan, (3)meminumnya, (4)memberikan minuman, (5)membawanya, (6)dibawakannya, (7)menjualnya, (8)menyediakan tempat untuk menjual, (9)menjualkannya, dan (10)menanamnya.”Wallahu alam bishawab.

 

Sumber : http://unirab.multiply.com/reviews/item/35 (ada sebagian tulisan yang dihilangkan)

  1. BAHAYA JUDI

 

Judi di dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah al-maysir, yakni mengambil hak orang lain dengan jalan yang bathil serta zhalim. Biasanya perbuatan judi didasarkan pada ketentuan adanya pemenang dan yang kalah dalam suatu kegiatan dimana pemenang dapat mengambil sesuatu dari yang kalah dengan cara yang dilarang oleh Allah SWT. Perbuatan judi merupakan suatu bentuk aktifitas yang didasari keinginan untuk memperoleh sesuatu dengan mempertaruhkan hak milik secara mengundi nasib atau dengan kata lain secara untung-untungan. Agama Islam tidak melarang bentuk-bentuk transaksi perpindahan kepemilikan antara sesama manusia dengan cara-cara yang dibenarkan, yakni dengan jual-beli, sewa menyewa, pinjam meminjam dan lain sebagainya. Perpindahan kepemilikan yang dipersyaratkan atas nama judi dilarang karena dapat menyebabkan mudharat bagi salah satu pihak yang terlibat dalam perjudian.

Dengan demikian unsur-unsur yang menyebabkan suatu perbuatan dianggap sebagai judi adalah sebagai berikut:

1. Adanya unsur mengundi nasib antara menang atau kalah, hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.(al-Maidah:90)

Kalah dan menang dalam perbuatan judi berbeda dengan kegiatan perlombaan ataupun pertandingan. Dalam perlombaan ataupun pertandingan, menang dan kalah ditentukan berdasarkan kemampuan atau keterampilan melakukan suatu kegiatan, misalnya dalam olah raga, kreatifitas seni ataupun ilmu pengetahuan. Kegiatan ini tidak dapat dikategorikan sebagai perbuatan judi karena kemenangan harus diperoleh dengan latihan dan persiapan yang cukup sehingga secara jelas dapat menentukan keunggulan dibandingkan pihak yang kalah. Berbeda dengan judi, berbagai bentuk kegiatan atau permainan yang digunakan dalam berjudi lebih banyak bergantung pada peruntungan nasib sedangkan keterampilan ataupun persiapan tidak menentukan pemenang dalam permainan judi.

2. Adanya unsur perpindahan harta dari yang kalah kepada yang menang secara bathil, dengan menetapkan perjanjian adanya keharusan pihak yang kalah memberikan harta miliknya kepada yang menang. Hal inilah yang dilarang Allah dalam al-Quran yang berarti ”Janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan jalan yang bathil”

3. Perbuatan judi diharamkan dalam Islam meskipun dalam hukum fiqh perbuatan ini tidak termasuk dalam bagian hukum hudud. Perbuatan hudud yang berkenaan dengan harta adalah pencurian atau perampokan yang memenuhi persyaratan tentang jumlah harta yang diambil secara zhalim yang diancam dengan hukuman potong tangan. Sedangkan pencurian dan perampokan yang tidak memenuhi ketentuan tersebut diancam dengan jarimah ta`zir atau penjara. Termasuk dalam kategori ini adalah perbuatan judi yang pada sifatnya sama dengan mencuri atau merampok dengan adanya unsur mengambil hak orang lain secara paksa. Dengan demikian perbuatan judi termasuk perbuatan yang diharamkan dengan ancaman hukum ta`zir atau penjara.

Perbuatan judi mengandung berbagai bahaya tidak hanya bagi pelakunya tetapi juga bagi masyarakat pada umumnya. Bahaya judi antara lain dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Bahaya judi dalam perekonomian

Roda perekonomian secara makro juga akan hancur disebabkan judi karena sesungguhnya kegiatan perekonomian ditopang oleh aktifitas transaksi secara riil, sedangkan judi merupakan perputaran harta secara tidak riil karena tidak didasarkan pada hukum ekonomi yang benar. Kegiatan judi yang dilakukan pada mulanya merusak sistem perekonomian individu mulai dari tingkat keluarga, lingkungan masyarakat hingga ke dalam sistem ekonomi yang lebih besar.

2. Bahaya judi dalam merusak akhlak

Judi menyebabkan seseorang menjadi pemalas dan suka berkhayal Judi juga dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak jujur karena biasanya kegiatan judi sering dipenuhi dengan tipu daya dengan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kemenangan

3. Bahaya judi terhadap ketentraman dan persatuan

Dalam permainan judi, kekalahan biasanya mendatangkan permusuhan terutama bagi yang kalah kepada yang menang. Tipu daya yang dilakukan dalam permainan judi juga menyebabkan orang menjadi dendam dan sering menjadi akar dalam pertikaian yang terjadi. Hal inilah yang diingatkan Allah dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).(al-Maidah: 91)

(http://yusufwibisono.multiply.com/journal/item/37)

Oleh     : M. Rajabul Gufron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s