Urgensi Kepemimpinan Kaum Muda

Urgensi Kepemimpinan Kaum Muda
Isu kepemimpinan kaum muda selalu menarik dan menyedot perhatian publik dan tokoh-tokoh yang berada di pemerintahan, partai politik, dan dunia kemasyarakatan. Tidak saja harus diakui bahwa kepemimpinan muda politik di Indonesia pernah ada ketika era kepemimpinan Presiden Soekarno berhasil menjadi presiden pertama negeri ini saat usianya masih sekitar 44 tahun.
Presiden Soeharto pun masih dipandang muda ketika ditunjuk lembaga MPRS menjadi presiden kedua, saat usianya menginjak 46 tahun.
Memang betul usia muda tua tidak bisa dijadikan alat ukur untuk menilai kepantasan menjadi seorang pemimpin negeri ini. Dikotomi usia tua muda tidak bisa dijadikan cermin yang menggambarkan prestasinya.
Tokoh yang berusia sudah tua bukan berarti tidak punya semangat “muda” dan bukan pula tidak bisa seagresif anak muda dalam mengabdi dan membangun negeri ini. Begitu juga tokoh yang dipandang berusia muda bukan berarti juga dipandang tidak mampu, belum mampu, tidak berprestasi, apalagi dipandang tidak berpengalaman untuk menjadi calon pemimpin negeri ini.
Karena itu, nilai kepantasan seorang calon pemimpin negeri ini dan yang teramat dibutuhkan negeri ini di antaranya soal track record, integritas, kemampuan manajerial, dan komitmen. Esensi isu kepemimpinan muda adalah tentang regenerasi kepemimpinan.
Pentingnya terjadi sirkulasi dan pengalihan kepemimpinan dalam berbagai bidang kehidupan dan profesi. Atau tentang isu pentingnya dipersiapkan munculnya generasi-generasi muda yang siap meneruskan estafet kepemimpinan.
Anak muda harus lebih banyak tampil dan ditampilkan dalam berbagai kesempatan dan tantangan sehingga dia akan lebih banyak menimba pengalaman dan terasah terus naluri kepemimpinannya.
Generasi tua dengan “pikiran tua” sudah terlalu banyak di negeri ini. Aura kebijaksanaannya tidak muncul karena terbungkam oleh nafsu kekuasaan. Persoalannya sekarang, apakah pencapaian sirkulasi elite kepemimpinan tersebut bisa diraih dengan cek kosong? Apakah sirkulasi elite kepemimpinan itu diraih dengan mudah tanpa proses bargaining position dan pencapaian jenjang karier politik yang prosedural dan “berkeringat” dari level tangga yang paling bawah?
Jika pendapat ini mendekati kebenaran historis di mana para founding fathers bangsa ini justru terlahir dari dinamika dan karut-marut kehidupan sosial-politik-ekonomi masyarakat terjajah, kelahiran pemimpin harus melewati pahit perihnya proses tersebut.
Atau dalam konteks yang lain, seorang pemimpin tersebut harus mampu melewati tangga estafet organisasi politik dan pengalaman mengelola manajerial konflik-konflik organisasi yang akan mematangkan emosi diri dalam menghadapi badai-badai tantangan kehidupan bangsa yang lebih luas dan lebih ganas.
Barangkali harus kita camkan bersama bahwa tantangan menghadapi hegemoni kekuatan bangsa lain yang sudah maju dengan serbuan produk-produknya dan hegemoni kepentingan politik kawasan bangsa-bangsa lain adalah tantangan tersendiri yang membutuhkan seorang calon pemimpin bangsa ini yang kuat, tegas, dan teruji.
Belum lagi dinamika aspirasi dan harapan besar masyarakat yang menginginkan perubahan yang cepat meniscayakan hadirnya seorang pemimpin yang tangkas dan cepat bergerak menyelesaikan setiap permasalahan.
Jika kita tidak bisa mampu menghadirkan karakteristik kepemimpinan seperti disebutkan di atas, bisa jadi negeri ini akan dengan mudah “ditekuk” dan disetir kepentingan bangsa lain. Bangsa ini akan semakin “hanyut” dalam hiruk-pikuk globalisasi di mana kita hanya akan menjadi penonton dan menjadi captive market atau lautan pasar serbuan hegemoni ekonomi-politik negara lain.
Solusi Kepemimpinan: Pencitraan “Berisi”
Soal urgensitas kepemimpinan muda tidak lepas dari fakta bahwa memang kita membutuhkan “semangat muda”,pemimpin yang agresif merespons aspirasi masyarakat, bertindak cepat dan tegas di dalam mengelola dan merespons konflik-konflik yang terjadi,serta merupakan tokoh yang dilahirkan dari dinamika sosial, politik, ekonomi yang terjadi di negeri ini.
Pun demikian seorang calon pemimpin bangsa ke depan adalah seorang yang mempunyai performanceyang baik, track record yang positif, berkarakter kuat, dan tentu diterima semua kalangan, terutama semua kalangan masyarakat.
Bisa jadi seorang tokoh yang diusulkan, diputuskan, dan diterima secara aklamasi oleh internal para pengurus, anggota, dan simpatisan partai belum tentu akan diterima secara luas oleh khalayak banyak masyarakat. Artinya calon presiden harus diuji tingkat keterpilihan, popularitas, kemampuan, dan tentu loyalitasnya atas pengabdian terhadap negeri ini.
Begitu juga seorang tokoh yang kerapkali “digadang- gadang” representatif untuk dicalonkan khalayak ramai bisa jadi karena popularitas menjadi calon presiden belum tentu diterima secara masif dan bisa men-drive mesin partai agar bisa bergerak menyolidkan dukungan dan pilihan.
Setiap partai politik tentu mencari tokoh populer, tetapi tetap memiliki kapasitas yang mumpuni sehingga euforia politik popularitas tidak berhenti hanya di politik pencitraan.
Bagaimana sebuah politik pencitraan tidak hanya cukup puas dengan memakai tool slogan iklan, promosi foto calon di baliho dan spanduk yang bertebaran di mana-mana, dan politik charity atau politik belas kasih di era prakampanye atau era kampanye.
Politik karakter pribadi harus tetap terjaga baik karena track record-nya maupun karena kepentingan dan kebutuhan untuk pencitraan. Pencitraan harus tetap dikontrol agar tetap tidak terkesan sebagai politik “memoles sesuatu yang tidak patut dipoles”.Tidak terkesan membohongi dan memberikan angin surga kepada masyarakat.
Pencitraan justru harus tetap sepadan dengan realitas dan fakta-fakta lapangan saat program-program yang ditawarkan bersifat realistis dan mudah untuk dilaksanakan. Jika kemudian seorang figur terus menerus terjebak ke dalam kubangan pencitraan, bisa–bisa hal demikian ini hanya akan menyimpan tabungan “bom waktu” yang suatu saat akan  meledakkan ketidak puasan publik kembali.
Euforia masyarakat mencari calon pemimpin yang kelihatan populer dan terkesan prowong cilik hanya akan berakhir dengan keluh kesah yang tetap tidak bisa menghadirkan perubahan-perubahan yang signifikan dalam kehidupan masyarakat.
Jika hal demikian kembali adanya, proyek mencari signifikansi kepemimpinan muda yang populer dan “berisi” bisa berantakan. Apa yang dicitrakan, apa yang dijanjikan, dengan apa yang dilaksanakan dalam program-program yang dikampanyekan tidak pernah selaras untuk dilaksanakan. Semoga tidak terjadi demikian.
(SAAN MUSTOPA )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s