Moammar Emka (Quotes)

Kubela rindu, itu saja
Posted on April 29, 2010

“Kurengkuh senja, kupinang damba. Kepada kamu, rindu itu. Kujaga dan kubela, tanpa harus ku bertanya-tanya,” ujarku dalam nada lirih yang kutitipkan via angin dan kualamatkan, untukmu.

“Beriku satu senyummu, usai sudah gelisahku.”

Harapanku seperti mengecup puncak muaranya.

“Cukup bahagiakah kamu hari ini?” tanyamu menyelinap manja di telingaku, tiba-tiba.

“Lebih dari cukup! Karena kudapat sepatah sapa manja dan sepotong rindu untuk tidurku, darimu.”

Kau tahu rindu itu apa…
Posted on April 30, 2010

Kau tahu apa yang aku cium sekarang? Kerinduan. Rindu yang terjaga rapih dalam bejana keakuan —perasaan, dan setia merunut jalan menuju rumah hatimu.

Kau tahu apa yang aku inginkan sekarang? Menunggu hadirmu. Mencari muara waktu bersenggama di sepotong senja dan meninabobokan kegelisahan. Lalu, mata kita beradu dalam kepolosan.

Menunggumu, selalu membuat jantungku berdegub kencang. Seperti menabuh genderang. Hingar suaranya kudengar, dan bisa kuhirup napasmu dalam kejauhan. Menunggumu…berjalan mendekat ke pangkuan.

Dan menangislah…
Posted on May 4, 2010

Tak selamanya, pedih itu berarti sakit. Kadang, tangis yang mengiring adalah bahagia yang tak kita sadari. Paling tidak, kita jadi mengerti apa sesungguhnya sakit ketika kita merasakan air mata mengalir. Inilah kebahagiaan sesungguhnya.

Betapa tidak ada makna hidup ketika kita tak pernah punya air mata. Tawa, mungkin, tak pernah terselami arti sejatinya saat mata kita kering dari air mata. Menangislah sejadi jadinya jika itu yang menjadi apa yang paling kita inginkan saat ini, detik ini.

-Buku SMS LOVAHOLIC by Moammar Emka-

tak perlu tanya, jika itu cinta
Posted on May 4, 2010

Lebih karena mencintai itu adalah karunia, aku menanggalkan seribu alasan mengapa memilihmu, saat ini atau nanti.

Tak ingin kubertanya, mengapa aku selalu ingin pulang dan rebah manja di dadamu. Kutiadakan tanya, kusemaikan damba untuk setia dalam payung mata beningmu.

Jika cara yang kujalani masih menyisakan tanya, ajari aku bagaimana mencintaimu, seharusnya. Biar bebas kutapaki, jalan menuju rumah hatimu, —satu-satunya.

begitu beda, tanpamu
Posted on May 8, 2010

Begitu beda, tanpamu.

Begitu sepi, tanpamu.

Begitu tak bisa dan tak terbiasa aku tanpamu.

Yang aku tahu…

begitu bahagia aku denganmu. Titik!

Isyarat tanpa jawab
Posted on May 11, 2010

Aku pikir, semuanya memang sudah hampir berakhir.

Pohon yang tumbang itu sudah rebah ke tanah. Hanya akarnya yang masih tinggal. Baik akarnya yang masih tegar dan menghujam ke bumi atau batang pohon yang tumbang itu, tak menunjukkan isyarat untuk bersatu lagi; menegakkan “janji pepohonan” untuk saling melengkapi diri dan hidup meneduhi alam.

Padahal, siapa yang tak ingin bertahan dalam keharmonisan hidup?! Tak tahukah kita bahwa akar yang tertebas dan pohon yang tercerabut itu masih punya dan sama-sama menginginkan untuk bersatu kembali?!

Tetapi, entah kapan. Entah di musim semi atau musim gugur atau tidak sama sekali.

Tetapi terkadang, musim suka membawa sesuatu yang tak terduga. Menggelitik dedaunan itu menghijau kembali dan tunas-tunas muda tumbuh lagi, untuk kita tebas lagi (?).

Harapan yang terbelah
Posted on May 11, 2010

Haruskah kita menyalahkan nurani kita yang telah mengempaskan napas kegelisahan untuk setiap acuh yang telah terpendam sekian lama?

Nurani adalah diri kita. Kita tidak dapat berdusta dan membohongi diri kita sendiri.

Biarkan ia mengalir dan mengalir, berkelok dan menyimpan keteduhannya. Keteduhan yang melelapkan, sampai ia tiada.

Mungkin lebih baik dengan melenyapkannya. Saling membenci dengan mengingkari nurani kita.

Apakah aku terlambat? Ini memang tampak lebih baik. Kita mengakhirinya tapi tidak untuk memaksa kita mengakhirinya.

Biarlah ia hilang dalam kesenyapan masa dengan sendirinya. Seperti harapan itu dulunya tidak ada!

Kecuali rindu, selebihnya…
Posted on May 15, 2010

Maaf, jika tak kubiarkan kau mengepang rambutmu di balik cahaya matahari senja yang menembus jendela kamarmu.

Biarkan, biarkan rambutmu terurai menjuntai melambai-lambai. Kuingin rasakan syahdunya hati ini, menghidupkanku.

Begitu sering aku memandangmu, dan selalu kuulang-ulang lagi.

Detik ini, apalagi yang bisa kureka-reka tentangmu kecuali rindu dan selebihnya, udara yang diam.

Dan, tiba-tiba kau kutemui lagi.

Begitulah cinta, beginilah kita.
Posted on May 17, 2010

—Begitu sederhana, kita memulakan

Perjumpaan sesaat yang menyekat tatap, menggelitik getarku seketika. Menghadirkan bilur senyum yang menyepuh pagi dan malamku. Tanpa ragu, kucetak prasasti cinta di atas keakuan perasaanku. Begitupun dirimu.

—Begitu bermakna, kita jalani kebersamaan

Selain bahagia, apalagi yang bisa kureka-reka saat bersamamu. Selebihnya adalah damba untuk segera bisa mengukir janji suci dalam doa-doa yang ditasbihkan. Menjadi dua manusia yang hidup dengan dan atas nama cinta saja, lain tidak. Membela cinta tanpa harus bertanya-tanya.

—Begitu lelah, kita mencari arti

Betapa susah memahami maunya hati. Betapa sulit mengerti cinta yang menancapkan napas kegelisahan di setiap jejak yang kita pijak. Kau hidup dalam adamu, begitu pun aku. Titik temu dua hati yang kita iba-iba dengan peluh dan doa, tak jua bersambut nyata. Tawa, tangis dan amarah mencetak warna-warni nyata dalam barisan cinta yang kita coba endapkan, tanpa lelah. Tanpa kita sadari lajunya, tahu-tahu lelah itu tiba-tiba menciumi tapal batas pencapaiannya.

—Begitulah cinta, beginilah kita

Cinta memang tak pernah salah. Cinta yang semestinya menuntun kita menjadi tiang dan jembatan yang saling seia tanpa syarat, ternyata belum juga mengewantah utuh, lebur dalam diri kita. Selain bersandar pada apa yang kita yakini sebagai cinta, selebihnya kita hanya bisa jalani dan berpasrah dalam doa. Berharap cinta dan penyatuan setia berjalan beriringan di akhir cerita. Tapi jika tidak? Mungkin, semestinya biarkan cinta dan perpisahan bergandengan dengan rahasianya.

Merapal Hampa
Posted on May 20, 2010

SEPI LAGI

Sepertinya, kini tak ada yang tersisa dariku selain rasa yang menjerit dalam bejana asa yang merapal hampa.

Mata terantuk kosong, bibir kelu tanpa sapa. Dan sekujur tubuh lunglai dalam dalam kepasrahan pilu.

Mungkinkah semua akan menciumi kefanaan dan berakhir sia-sia? Jika iya, lebih aku pergi dan memuja sepi untuk kesekian kalinya.

(Saatnya Bercinta & Bersedih : CINTA ITU, KAMU.)

Menggelitik getar itu, lagi.
Posted on May 23, 2010

Menggelitik getar itu untuk bangkit lagi. Di batas ragu yang mengulum damba dan memuja hampa, kucoba lagi mengais serpihan hatiku —yang tersembunyi, untukmu.

Demimu, semestinya aku mau. Demimu, semestinya aku mampu untuk terus mencari titik temu warna-warni adaku dan adamu dalam satu ruang toleransi. Meninabobokan tangis semalaman, berganti senyum yang menyepuh pagi.

Semoga semua menjadi nyata, dan bukan sia-sia yang mengecup dalam alurnya.

Enggan tidak cinta (lovetweets#1)
Posted on June 5, 2010

1# Kadang, cinta dan kehilangan berjalan beriringan. “Jadi cintamu hilang?” BUKAN. Hanya bersembunyi, diam. “Lalu, apa yg hilang?” KEBERANIAN.

2# Seorang teman berujar : “Jalani kesendirian dengan sehat, biar bisa mendapatkan cinta yang sehat.”

3# Inginku terus berlari ke arahmu. Tapi, maafkan, jejak langkahku harus tertunda dalam perjalanannya.

4# “Apa yg kini kau cari?” “Jejak kaki yg dulu setia mengiringi langkahmu.” “Untuk apa?” “Biar ku tak salah langkah, lagi. Menuju rumah hatimu.”

5# “Demam kesendirian tengah berkacak pinggang d kaki langit pengharapanku. Menghasut sepi meraja.”

6# Dear You : “Maafkan untuk setiap inci kesedihan yang tak sengaja kucetak pada bening dua bola matamu.”

7# “Terjaga demi sepotong tanya —untuk hati, yang tak juga menemui abjad jawabannya. Keruh, tak kuasa menyepuh sabda.”

8# Dear You : “Seberapa jauh kau ingin berlari ke arahku?” “Sampai kau ijinkan aku berhenti!”

9# “Apa yang kini tersisa?” “Selain tanya, selebihnya hanya kosong. Bisu membungkam maya.”

10# “Terbangun dari mimpi dan —tiba-tiba, ku ingin kau ada.”

11# Dear You : “Bagaimana bisa percaya kalau harapan itu hilang…”

12# “Apa pilihanmu kini?” “Inilah pilihanku : mengingkari cinta dengan membiarkan kecewa membentur tanya —meski tanpa jawab.”

13# Back to Reality : “Menjamu kesedihan di batas getar yang lemah menampar keakuan hati. Sendiri menelan sepi —tanpamu lagi.”

14# “Ada rasa enggan untuk mengatakan: aku tak cinta lagi. Entahlah! Segalanya tampak tak pasti. Samar kupandang, jejakmu menilas di jemari pagi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s