TOLOK UKUR KEBENARAN ADALAH AL-QUR’AN DAN AL-HADITS BUKAN PANCASILA

TOLOK UKUR KEBENARAN ADALAH AL-QUR’AN DAN AL-HADITS BUKAN PANCASILA

Manifestasi keimanan seorang Muslim kepada Kitabulloh adalah meyakini dan menerapkan seluruh apa yg termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak hanya itu, keimanan seorang Muslim kepada Al-Qur’an juga mewajibkan dirinya untk menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah serta apa yg di tnjukkan oleh keduanya sebgai satu2ny tolok ukur dalam berfikir dan berbuat. Seorang Muslim tidak dibenarkan meyakini dan mengadopsi pemikiran, keyakinan, maupun hukum yg bertentangan dgn Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di samping itu, tuntutan Aqidah Islam juga untk hanya menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber hukum (juga Ijma’ dan Qiyas), maka dari itu, selain dari itu maka haram hukumnya dijadikan sumber hukum semisal pancsila dan UUD 1945. Karna keduanya bukanlah wahyu yg diturunkan Al-Kholik untk manusia. Al-Qur’an dan As-Sunnah wajib dijadikan sumber dari segala sumber hukum untk menetapkan kebenaran. Dimanapun dan kapanpun. Ketetapan ini tidak berubah karna adanya perbedaan waktu dan tempat. Al-Qur’an telah menjelaskan dg sangat gamblang di dalam ayat-ayatnya:
“Dan bhw (yg Kami perintahkan) ini adalah jalan_Ku yang lurus, maka ikutilah ia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan2 (yang lain), karena jalan2 itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang dmikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu Bertaqwa”. (QS. Al-An’am, 153) 

sangat jelas sekali bhw Selain petunjuk dari Allah, maka petunjuk2 itu tidak lain hanya akan membuat Kaum Muslim terpecah dan tercerai berai.

Di dalam ayat lain Allah menyebutkan:
“Katakanlah: “sesungguhny aku (berada) di atas yang nyata (Al-Qur’an) dari Tuhan ku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untk menurunkan azab) yg kamu tuntut untk disegerakan kedatangannya. MENETAPKAN HUKUM ITU HANYALAH HAK ALLAH. Dia menerangkan yg sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yg paling baik”. (QS. Al-An’am, 57)

Kita mengetahui, hukum2 yg (konon) dihasilkan dari pengkajian pancsila tidak sedikit yg tidak sesuai dan bhkan bertentangan dg Al-Qur’an, dari itulah seharusnya Umat Islam di Indonesia harusny menyadari bhw merupakan kesalahan besar ketika mereka menjadikan dan ridlo pancsila sbg dasar negara dan sumber dari segala sumber hukum mereka. Disamping itu hukum2 yg dihasilkan pancsila dan UUD 45 adalah hukum hasil otak manusia yg rentan dg kesalahan, sedangkan dalam ayat itu, Hanya Allah lah yg berhak membuat hukum. Jadi hukum yg dibuat oleh selain Allah, haram muthlak untk di taati.

“Maka patutkah aku mencri hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yg telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dg terperinci?….”. (QS. Al-An’am: 114)

Iman Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat ini: “Maka patutkah aku mencri hakim selain Allah, padahal Dialah yg memberi perlindungan kepadamu, padahal Dia telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dg rinci dan jelas”

Dalam ayat lain:
“Apakah kamu Tidak memperhatikan orang2 yg mengaku diriny telah beriman kepada apa yg diturunkan kepadamu dan kepada apa yg telah diturunkan sebelum kamu? MEREKA HENDAK BERHAKIM KEPADA THOGUT, PADAHAL MEREKA TELAH DIPERINTAHKAN UNTK MENGINGKARI THOGUT ITU. Dan syaithon bermaksud menyesatkan mereka (dgn) penyesatan yg sejauh2nya. APABILA DIKATAKAN KEPADA MEREKA: “MARILAH KAMU (TUNDUK) KEPADA HUKUM YANG TELAH ALLAH TURUNKAN DAN KEPADA HUKUM RASUL”., Niscya KAMU MELIHAT ORANG2 MUNAFIK MENGHALANGI (MANUSIA) DG SEKUAT2NYA DARI (MENDEKATI) KAMU”. (QS. An-Nisá’, 60-61)

Imam Ibnul Arabiy menjelaskan: “Ayat ini turun berkenaan dg perselisihan antara orang munafik dan yahudi, lalu mereka menympaikan masalah mereka kepada Rasululloh saw. Perkara itu diputskan oleh Rasululloh saw. akan tetapi orang munafik itu tidak rela. Selanjtny mereka mengajukan perkaranya kepada Abu Bakar, namun orang munafik itu juga tidak rela. Mereka menympaikan perkarany kepada Umar ra. Lalu Umar ra masuk kerumahnya dan mengambil pedangnya. Orang munafik itu di penggal kepalany hngga mati. Keluarga si munafik melaporkan perkara itu kpd Rasululloh saw. Umar ra. Berkata, “Wahai Rasululloh, ia telah menolak keputusanmu”. Rasululloh menjawab, “engkau adalah Al-Faruuq”. Lalu turunlah ayat ini.
Atas dasar itu, siapa saja yg menolak ketetapan Rasululloh, maka ia keluar dari Islam dan halal darahnya.

dari penjelasan diatas, maka selayakny mereka yg telah membela Pancasila sebagai sumber hukum yg sejatinya hukum2 yg di hasilkan oleh pancsila itu adalah hasil karya manusia, kepala mereka harus di penggal. Karna telah nyata pertentangan antara Hukum Allah yg disebutkan dalam Al-Qur’an dan hukum yg di hasilkan pancasila.

dalam Ayat tsbt pun terdapat perintah untk mengingkari Thogut. 
dalam hal ini, thogut disini adalah semua aturan atau hukum selain hukum Allah. Imam Malik sebgaimana dikutip olh Ibunul Arabiy menyatakan, “Thagut adalah semua hal selain Allah yg disembh manusia. Semisal berhala, pendeta, ahli sihir, atau semua yg menyebbkn Syirik”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s