TOLERANSI DAN ETIKA PERGAULAN

TOLERANSI DAN ETIKA PERGAULAN

 

  1. PERGAULAN SESAMA MUSLIM.

 

QS. AL-HUJURAT : 10 – 13

Terjemahan      :

 

“ (10) Sesungguhnya Orang-orang yang mu’min itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu ( yang berselisih ) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (11) Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah suatu kaum mengolok –   olok kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diperolok lebih baik dari mereka yang mengolok dan jangan pula perempuan-perempuan ( mengolok-olok ) perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diolok itu lebih baik dari pada perempuan yang mengolok itu. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar  yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk fisik setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (12) Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka makan daging saudaramu yang sudah mati.? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha penerima Taobat dan Maha Penyayang. (13) Wahai manusia, sungguh kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsadan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Alllah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

 

Penjelasan       :

Dalam ayat 10 Surat Al-Hujurat diatas, Allah SWT Menjelaskan bahwa walaupun orang-orang mu’min itu berbeda-beda bahasa, warna kulit dan adat kebiasaannya, namun mereka adalah satu. Oleh karena itu, sesama mu,min harus ada rasa persaudaraan yang kokoh dan rasa saling mendamaikan dalam segala hal.

            Al-Qur’an menganggap persaudaraan dalam satu agama bagaikan persaudaraan dalam satu Nasab.

Dalam ayat 11, Allah menegaskan bahwa sesama orang mu’min dilarang saling mengolok, karena barang kali orang yang diolok itu lebih baik dari pada yang mengolok. Penghinaan kepada orang lain pada dasarnya hanyalah merupakan penghinaan terhadap diri sendiri, yang dalam hal ini adalah sesama umat islam. Kita juga dilarang untuk memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang buruk,yaitu gelar yang tidak disenangi oleh yang kita panggil. Apalagi kalau kita memanggil dengan menggunakan kata-kata seperti : kafir, pasik,munafik,dsb padahal orang yang kita panggil itu telah mukmin. Oleh karena itu,kita dituntut untuk memanggil sesama orang mukmin dengan mengunakan nama pangilan yang paling disenanginya.

            Dalam ayat 12, Allah melarang orang mukmin untuk berpraduga terhadap orang lain, karena memang kebanyakan dari praduga itu menjurus kepada segi yang negative dalam hadis Nabi disebutkan  : artinya, “Allah benar-benar mengharamkan darah dan kehormatan seorang muslim dan mengharamkan pula berpraduga atau berburuk sangka”. dialam ayat tadipun disebutkan bahwa sebagian praduga itu adalah dosa. Itu  memang benar karena praduga itu ada yang menjurus kepada yang negative dan ada pula yang positif atau dalam istilah agama su’uzhan dan husnuzhan. Su’ uzhanlah yang dilarang dalam agama, unpamanya seseorang melihat tetangganya setelah beberapa lama pulang dari Jakarta kehidupannya sejahtera lalu ia menerka-nerka mungkin orang itu di Jakarta menjadi copet atau pengedar barang-barang terlarang  hingga mudah mendapat uang. Nah, dugaan semacam ini kalau tidak ada bukti yang menguatkan termasuk su’uzhan dan dihukumi dosa.

            Larangan berikutnya dalam ayat itu adalah mencari-cari kesalahan orang atau menceritakan keburukan orang lain ( ghibah ). Allah mengabarkan orang  yang suka berbuat seperti ini bagaikan orang yang suka memakan daging mentah saudara nya yang hal itu sebetulnya tidak disukai. Sifat-sifat diatas, yaitu su’suzhan, mencari kesalahan orang lain dan menceritakan kekurangan  orang lain  dapat menimbulkan ketidak  harmonisan  hubungan antara sesama muslim bahkan dapat membawa kepada permusuhan diantara mereka, sebab seperti disebutkan dalam hadis diatas bahwa jiwa dan kehormatan merupakan hak asasi setiap muslim yang wajib di hormati. Oleh karena itu, dalam akhir ayat Allah menganjurkan untuk bertakwa kepada kepanya.artiya menjauhi larang-larangan itu.

            Dalam ayat 13, secara garis besar Allah menggambarkan bahwa kedudukan manusia itu sama di sisi allah meskipun berbeda jenis, suku,bangsa, dan ras. Ayat ini diturunkan kepada rasulallah sehubungan dengan peristiwa yang disebutkan bahwa pernah memerintah bani bayyadhah untuk mengawinkan hind ( tukang bekam rasulallah ) kepada seorang wanita dari kelompok mereka. Kemudian mereka beraksi dan berkata kepada rasulallah” mana mungkin kami mengawinkan putrid-putri kami kepada para hamba.”  Akhirnya Allah Menurunkan ayat diatas.

            Jelas,ayat tadi membantah adanya system kelas dalam masyarakat. Islam tidak mengenal status social, ada Tuan dan ada budak sebab semua manusia dilahirkan dalam keadaan sama yaitu, meraka merdeka. Yang ada menurut ayat itu adalah perbedaan taqwa dan tidak taqwa.dan derajat ini hanya diketahui.

 

Sari Makna       :

  1. 1.       Kesatuan dan persatuan sesama mu’min agar tetap dijaga, karena sesama mu’min  adalah saudara.
  2. 2.       Tidak dibenarkan sesama mu’min  saling mengolok-olok, memanggil dengan panggilan yang buruk, berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, bergunjing dan perbuatan lain yang merugikan sesama mu’min.
  3. 3.       Sesama umat manusia agar saling mengenal meskipun berbeda jenis kelamin, suku, dan bangsa. Karena ukuran kemuliaan disisi Allah hanyalah taqwa.

 

 

 

Dalam hadits Rasulallah SAW menjelaskan bahwa ada lima hak bagi seorang muslim terhadap muslim lainnya :

  1. Kewajiban seorang muslim untuk menjawab salam.
  2. Kewajiban memenuhi undangan.
  3. Kewajiban menyaksikan dan mengantarkan jenazah saudara seagamanya sampai kekubur.
  4. Kewajiban menengok orang yang sakit.
  5. Mendo’akan sudaranya yang bangkis kemudian memuja Allah.

 

  1. PERGAULAN DENGAN NON MUSLIM.

 

QS. AL-MUMTAHANAH : 8 – 9.

 

Terjemahan      :

“ (8) Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan beragama dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu, Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (9) Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampong halamanmu dan membantu ( orang lain ) untuk mengusirmu barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang dzalim.”

 

            Umat islam tidak dilarang berbuat baik dan berlaku adil serta berteman dengan non muslim selama mereka tidak menyarang dan mengusir orang muslim.

 

  1. LARANGAN MENUKAR AGAMA.

 

QS. ALI IMRON : 19 DAN 85.

 

Terjemahan       :

“ (19) Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian diantara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

 

“ (85) Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima , dan di akhirat termasuk orang yang rugi.”

 

            Allah mensyari’atkan agama untuk dua macam tujuan :

1)       Membersihkan jiwa manusia dan akalnyadari kepercayaan yang tidak benar, seperti mengakui adanya kekuatan ghaib pada makhluk Allah.

2)       Memperbaiki jiwa manusia dengan amal perbuatan yang baik dan memurnikan keikhlasan kepada Allah.

 

Agama yang diakui kebenarannya disisi Allah hanyalah agama islam. Dan pada hakikatnya semua agama yang dibawa oleh para Rasul adalah sama, yaitu agama tauhid dan dinamakan agama islam.

 

RANGKUMAN

 

ü  Walaupun orang-orang mu’min berbeda-beda bahasa,bangsa, warna kulit dan ada kebiasaannya, namun mereka adalah satu. Oleh karena itu, diantara mereka harus ada rasa persaudaraan yang kokoh danm rasa saling mendamaikan dalam segala hal.

ü  Al-qur’an menganagap persaudaraan dalam satu agama, bagaikan persauadaraan dalam satu nasab, dan islamlah sebagai orang tuanya.

ü  Untuk menjaga keharmonisan hubungan sesama muslim, maka harus dijauhi sikap-sikap yang dapat menimbulkan perasaan sakit orang lain.

ü  Rasulallah saw, menggambarkan hubungan antara sesama orang mu’min dalam sama-sama merasakan kebahagiaan dan kesedihan, kasih saying dsb, bagaikan Anggota-anggota dalam tubuh manusia.

ü  Tidak ada larangan bagi kaum muslim untuk bergaul dan berbuat baik serta berlaku adil terhadap orang-orang muslim, apabila orang0-orang non-muslim tidak melakukan penyerangan terhadap orangf islam karena keislamannya.

ü  Allah mensyriatkan agama untuk dua macam tujuan: 

  1. Membersihkan jiwa manusia dan akalnya dari kepercayaan tidak benar, seperti mengakui adanya kekuatan gaib pada makhluk Allah.
  2. Memperbaiki jiwa manusia dengan amal perbuatan yang baik dan memurnikan keikhlasan kepada Allah.

ü  Agama yang diakui kebenarannya disisi allah hanyalah agama islam. Dan pada hakikatnya semua agama yang dibawa oleh para rasul adalah sama, yaitu agama tauhid dan dinamakan agama islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s