PERAN PEMUDA DAN MAHASISWA DALAM MEMPERSIAPKAN GENERASI EMAS INDONESIA YANG BERAKHLAQ LOKAL DAN BERFIKIRAN GLOBAL

PERAN PEMUDA DAN MAHASISWA DALAM MEMPERSIAPKAN GENERASI EMAS INDONESIA YANG BERAKHLAQ LOKAL DAN BERFIKIRAN GLOBAL 

Oleh    :

MOH. GUFRON

Duta Mahasiswa GenRe Putra Kab. Lombok Tengah 2014

Dipresentasikan pada :

Lomba Pemilihan Duta Mahasiswa GenRe Tingkat Provinsi NTB Tahun 2014

 

BAB I

PENDAHULUAN

Mahasiswa adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani berbagai macam harapan, dan diatas pundaknyalah sebuah amanat besar untuk memimpin bangsa ini diletakkan. Hal ini dapat dimengerti karena mahasiswa diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang mengisi dan melanjutkan estafet pembangunan.

Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun yang sudah menyelesaikan pendidikannya adalah aktor-aktor penting yang sangat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita pencerahan kehidupan bangsa kita di masa depan. “The founding leaders” Indonesia telah meletakkan dasar-dasar dan tujuan kebangsaan sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Kita mendirikan negara Republik Indonesia untuk maksud melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut, bangsa kita telah pula bersepakat membangun kemerdekaan kebangsaan dalam susunan organisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Hukum yang bersifat demokratis (democratische rechtsstaat) dan sebagai Negara Demokrasi konstitutional (constitutional democracy) berdasarkan Pancasila.

Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, tentu banyak permasalahan, tantangan, hambatan, rintangan, dan bahkan ancaman yang harus dihadapi. Masalah-masalah yang harus kita hadapi itu beraneka ragam corak dan dimensinya. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, banyak pula masalah-masalah baru yang terjadi sekarang ataupun yang akan datang dari masa depan kita, selain itu, mahasiswa dan pemuda sekarang juga harus mampu beradaptasi dengan dunia global yang semakin modern. Dari pandangan mata telanjang kita, memang fenomena-fenomena tersebut bukanlah suatu permasalahan berat yang harus dan mesti ditakuti. Namun yang perlu diwaspadai adalah virus-virus yang ditimbulkan oleh fenomena sosial abstrak tersebut, sehingga mahasiswa dan pemuda tidak hanya menjadi pemuda yang cerdas, berkualitas dan tanggguh, tetapi juga menjadi mahasiswa yang kuat, yang mampu bertahan ditengah derasnya arus kebobrokan moral yang disebabkan oleh menduanianya pengaruh barat atau westernisasi.

Dalam menghadapi beraneka persoalan tersebut, selalu ada kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan-ketakutan sebagai akibat kealfaan atau kesalahan yang kita lakukan atau sebagai akibat hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan kita, seperti karena terjadinya bencana alam atau karena terjadinya krisis keuangan di negara lain yang berpengaruh terhadap perekonomian kita di dalam negeri. Dalam perjalanan bangsa kita selama 105 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 88 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 68 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 18 tahun terakhir sejak reformasi, banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. Saking banyaknya permasalahan yang kita hadapi, terkadang orang cenderung larut dalam keluh kesah tentang kekurangan, kelemahan, dan ancaman-ancaman yang harus dihadapi yang seolah-olah tidak tersedia lagi jalan untuk keluar atau solusi untuk mengatasi keadaan. Perkembangan kegiatan berpemerintahan dan bernegara setelah sepuluh tahun terus menerus bergerak cepat, memerlukan langkah-langkah konsolidasi yang tersistematisasikan. Berbagai fungsi yang bersifat tumpang tindih perlu ditata ulang. Berbagai kegiatan yang alfa dikerjakan, perlu ditangani dengan cara yang lebih baik. Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Kata Mahasiswa dibentuk dari dua kata dasar yaitu “maha” dan “siswa”. Maha berarti besar atau agung, sedangkan siswa berarti orang yang sedang belajar. Kombinasi dua kata ini menunjuk pada suatu kelebihan tertentu bagi penyandangnya. Di dalam PP No. 30 Tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi tertentu (Bab I ps.1 [6]), yaitu lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau kesenian. (Bab II ps. 1 [1]).

Dengan demikian, mahasiswa adalah anggota dari suatu masyarakat tertentu yang merupakan “elit” intelektual dengan tanggung-jawab terhadap ilmu dan masyarakat yang melekat pada dirinya, sesuai dengan “tri dharma” lembaga tempat ia bernaung.  Mahasiswa adalah anggota masyarakat yang berada pada tataran elit karena kelebihan yang dimilikinya, yang dengan demikian mempunyai kekhasan fungsi, peran dan tanggung-jawab. Dari identitas dirinya tersebut, mahasiswa sekaligus mempunyai tanggung jawab intelektual, tanggung jawab sosial, dan tanggungjawab moral.

Generasi Emas.

Generasi emas  yang diharapkan  yaitu generasi yang cerdas komprehensif, antara lain produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul.  Kenapa disebut Generasi Emas, karena emas adalah logam mulia, yang tak lekang oleh zaman.  Kemajuan bangsa ini akan ditentukan dengan adanya generasi penerus yang  bersifat mulia baik secara intelektual ataupun moral. Membentuk atau mencetak generasi emas tentulah tak semudah membalik telapak tangan. Perlu proses panjang yang bertumpu pada pembangunan karakter anak bangsa.

Peran Mahasiswa.

  • Mahasiswa Sebagai “Iron Stock”

Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.

Dalam konsep Islam sendiri, peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam Al-Maidah:54, yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai, lemah lembut kepada orang yang beriman, dan bersikap keras terhadap kaum kafir.

Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, hingga reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa.

Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran Iron Stocktersebut? Jawabannya tak lain adalah dengan memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya.

Kata iron stock sendiri mengacu pada sifat dan kodrat dari besi itu sendiri, yakni berkarat seiring dengan berjalannya jam waktu. Sehingga diperlukan pengganti dengan besi-besi baru yang lebih kuat dan kokoh. Begitulah juga dengan mahasiswa sebagai iron stock, yang suatu saat nanti akan digantikan dengan generasi penerusnya. Hal ini juga sesuai dengan kodrat manusia yang fana, yang memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran.

  • Mahasiswa Sebagai “Guardian of Value”

Mahasiswa sebagai Guardian of Value berarti mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai di masyarakat. Lalu sekarang pertanyaannya adalah, “Nilai seperti apa yang harus dijaga ??” Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus melihat mahasiswa sebagai insan akademis yang selalu berpikir ilmiah dalam mencari kebenaran. Kita harus memulainya dari hal tersebut karena bila kita renungkan kembali sifat nilai yang harus dijaga tersebut haruslah mutlak kebenarannya sehingga mahasiswa diwajibkan menjaganya.

Sedikit sudah jelas, bahwa nilai yang harus dijaga adalah sesuatu yang bersifat benar mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Nilai itu jelaslah bukan hasil dari pragmatisme, nilai itu haruslah bersumber dari suatu dzat yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.

Selain nilai yang di atas, masih ada satu nilai lagi yang memenuhi kriteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, nilai tersebut adalah nilai-nilai dari kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran ilmiah tersebut merupakan representasi dari kebesaran dan keberadaan Allah, sebagai dzat yang Maha Mengetahui. Kita sebagai mahasiswa harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan dan jaga di masyarakat.

Pemikiran Guardian of Value yang berkembang selama ini hanyalah sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada sebelumya, atau menjaga nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesigapan, dan lain sebagainya. Hal itu tidaklah salah, namun apakah sesederhana itu nilai yang harus mahasiswa jaga? Lantas apa hubungannya nilai-nilai tersebut dengan watak ilmu yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa? Oleh karena itu saya berpendapat bahwa Guardian of Value adalah penyampai, dan penjaga nilai-nilai kebenaran mutlak dimana nilai-nilai tersebut diperoleh berdasarkan watak ilmu yang dimiliki mahasiswa itu sendiri. Watak ilmu sendiri adalah selalu mencari kebanaran ilmiah.

Penjelasan Guardian of Value hanya sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada juga memiliki kelemahan yaitu bilamana terjadi sebuah pergeseran nilai, dan nilai yang telah bergeser tersebut sudah terlanjur menjadi sebuah perimeter kebaikan di masyarakat, maka kita akan kesulitan dalam memandang arti kebenaran nilai itu sendiri.

  • Mahasiswa Sebagai “Agent of Change”

Mahasiswa sebagai Agent of Change,,, hmm.. Artinya adalah mahasiswa sebagai agen dari suatu perubahan. Lalu kini masalah kembali muncul, “Kenapa harus ada perubahan ???”. Untuk menjawab pertanyaan itu mari kita pandang kondisi bangsa saat ini. Menurut saya kondisi bangsa saat ini jauh sekali dari kondisi ideal, dimana banyak sekali penyakit-penyakit masyarakat yang menghinggapi hati bangsa ini, mulai dari pejabat-pejabat atas hingga bawah, dan tentunya tertular pula kepada banyak rakyatnya. Sudah seharusnyalah kita melakukan terhadap hal ini. Lalu alasan selanjutnya mengapa kita harus melakukan perubahan adalah karena perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak dan pasti akan terjadi walaupun kita diam. Bila kita diam secara tidak sadar kita telah berkontribusi dalam melakukan perubahan, namun tentunya perubahan yang terjadi akan berbeda dengan ideologi yang kita anut dan kita anggap benar.

Perubahan merupakan sebuah perintah yang diberikan oleh Allah swt. Berdasarkan Qur’an surat Ar-Ra’d : 11, dimana dijelaskan bahwa suatu kaum harus mau berubah bila mereka menginginkan sesuatu keadaan yang lebih baik. Lalu berdasarkan hadis yang menyebutkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, sedangkan orang yang hari ini tidak lebih baik dari kemarin adalah orang yang merugi. Oleh karena itu betapa pentingnya arti sebuah perubahan yang harus kita lakukan.

Mahasiswa adalah golongan yang harus menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan dikarenakan mahasiswa merupakan kaum yang “eksklusif”, hanya 5% dari pemuda yang bisa menyandang status mahasiswa, dan dari jumlah itu bisa dihitung pula berapa persen lagi yang mau mengkaji tentang peran-peran mahasiswa di bangsa dan negaranya ini. Mahasiswa-mahasiswa yang telah sadar tersebut sudah seharusnya tidak lepas tangan begitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bangsa ini melakukan perubahan ke arah yang salah. Merekalah yang seharusnya melakukan perubahan-perubahan tersebut.

Perubahan itu sendiri sebenarnya dapat dilihat dari dua pandangan. Pandangan pertama menyatakan bahwa tatanan kehidupan bermasyarakat sangat dipengaruhi oleh hal-hal bersifat materialistik seperti teknologi, misalnya kincir angin akan menciptakan masyarakat feodal, mesin industri akan menciptakan mayarakat kapitalis, internet akan menciptakan menciptakan masyarakat yang informatif, dan lain sebagainya. Pandangan selanjutnya menyatakan bahwaideologi atau nilai sebagai faktor yang mempengaruhi perubahan. Sebagai mahasiswa nampaknya kita harus bisa mengakomodasi kedua pandangan tersebut demi terjadinya perubahan yang diharapkan. Itu semua karena kita berpotensi lebih untuk mewujudkan hal-hal tersebut.

Sudah jelas kenapa perubahan itu perlu dilakukan dan kenapa pula mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam perubahan tersebut, lantas dalam melakukan perubahan tersebut haruslah dibuat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri, lalu menyebar terus hingga akhirnya sampai ke ruang lingkup yang kita harapkan, yaitu bangsa ini.

 

Urgensi penyikapan generasi muda yang kontekstual dengan permasalahan bangsa sekarang antara lain yaitu :

  • Meningkatkan integritas moral dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam kerangka membangun ketahanan mental dan nilai-nilai budaya bangsa dari ancaman pengaruh budaya asing (westernisasi) yang semakin menggejala.
  • Memupuk idealisme, patriotisme, cinta tanah air, persatuan dan kesatuan serta solidaritas pemuda untuk memperkokoh tetap tegaknya Negara Kesatuan RI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
  • Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui penguasaan IPTEK memasuki era Globalisasi yang diwarnai dengan tingginya tingkat kompetitif antar bangsa.
  • Membangun motivasi wirausaha (entrepreneurship) pemuda dalam rangka menumbuhkan kepeloporan dan kemandirian pemuda secara sosial ekonomi.
  • Membangun tatanan kehidupan sosial budaya menuju terwujudnya masyarakat madani, yakni masyarakat yang tertib, demokratis, adil, berperadaban dan sejahtera lahir batin.

Karakteristik Pemuda dalam Perspektif Islam.

Sebagai sumber ilmu dan rujuan terbaik, al-Qur`an tidak hanya menyebutkan para pemuda tersebut sebagai sebuah kisah yang indah, tapi juga menjelaskan karakteristik sosok pemuda ideal bagi generasi berikutnya. Ia tak cukup untuk dikenang saja tapi nilai yang paling utama adalah meniru perilaku dan akhlak mereka sebagai teladan-teladan terbaik yang pernah ada.

Pertama, memiliki syaja’ah (keberanian) dalam menyatakan yang haq (benar) itu haq (benar) dan yang bathil (salah) itu bathil (salah). Karakter utama pemuda Muslim adalah siap bertanggung jawab dan menanggung risiko dalam mempertahankan keyakinannya. Teladan spektakuler telah dicontohkan oleh pemuda Ibrahim pada masa Raja Namrudz, penguasa tirani ketika itu. Dengan gagah berani Ibrahim menghancurkan sekumpulan berhala kecil, lalu menggantung kapaknya ke leher berhala yang paling besar. Ibrahim ingin memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Kisah heroik ini dikisahkan secara bertutur dalam surah Al-Anbiya [21]: 56-70.

Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Seorang pemuda Muslim tak mengenal kata berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Semakin banyak ilmu yang dimilikinya, akan menghantarkan ia menyadari betapa banyak ilmu yang belum diketahui. Firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (Al-Baqarah [2]: 260)

Ketiga, sosok pemuda Muslim selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus. Sikap mereka layaknya pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang dikisahkan Allah dalam surah al-Kahfi. Mereka berkumpul untuk merencanakan sebuah kebaikan dan saling menguatkan di dalamnya. Bukan berkelompok untuk mengadakan konspirasi jahat atau merencanakan suatu keburukan. Jadi, para pemuda Muslim berkelompok bukan sekadar untuk huru-hara, kongkow-kongkow yang tidak jelas. Tetapi mereka berkelompok dalam kerangka ta’awun ala al-birri wa at-taqwa, bukan berkerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Keempat, selalu berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada perbuatan asusila. Dalam kondisi sekarang, hal ini menjadi suatu hal yang sangat berat. Dekadensi moral yang mendera masyarakat khususnya para pemuda. Belum lagi dominasi budaya Barat yang begitu menggila di tengah masyarakat menjadikan pergaulan islami menjadi sesuatu yang sangat mahal saat ini. Kisah kepribadian Nabi Yusuf sangat layak dijadikan teladan bagi para pemuda. Kala itu Yusuf digoda oleh Zulaikha di dalam ruangan tertutup. Tak ada seorang pun yang tahu perbuatan mereka selain mereka berdua saja. Namun dengan akhlak yang terjaga serta pertolongan Allah tentunya, akhirnya sang pemuda tampan itu bisa lolos dari jeratan bujuk rayu Zulaikha yang dibisikkan oleh setan laknatullah. Allah berfirman, “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (Yusuf [12]: 22-24).

Kelima, memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi. Jati diri pemuda Muslim terlihat pada sikap tidak pernah menyerah pada rintangan dan hambatan. Ia memandang berbagai kesulitan hidup adalah peluang untuk mengukir prestasi dan sarana kematangan jiwa. Kekurangan materi yang melilit kehidupan sehari-hari, kesusahan hidup yang terus melekat erat tak jarang menjadikan seseorang kehilangan semangat hidup. Alih-alih berpikir positif untuk orang lain, seringkali orang seperti ini hanya bisa berpikir pragmatis saja. Sebaliknya, orang yang punya etos kerja tinggi akan berusaha terus. Meski duka lebih sering menyapa, tapi hal itu tak menyurutkan ghirah hidupnya. Ia tetap memiliki visi yang tajam serta himmah aliyah (tekad yang tinggi). Hal itu diperagakan oleh sosok pemuda Muhammad yang menjadikan tantangan sebagai peluang untuk sukses hingga ia tumbuh menjadi pemuda yang bergelar Al-Amin (terpercaya) dari masyarakat. Segala rintangan dan kesulitan hidup hanya menjadi batu loncatan bagi pemuda Muhammad meraih kesuksesan hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Rekontruksi Gerakan Pemuda dalam Upaya mengembalikan masa depan bangsa yang di nantikan keberadaanya dalam perwujudan kehidupan bangsa dan Negara Indonesia karena pemuda merupakan pewaris sejarah Bangsa yang mempuyai kesempatan dan kemamuan yang sangat tinggi yang memiliki peran sentralnya dalam berbangai bidang untuk kemajuan  antara lain :

  • Pemuda dan Mahasiswa harus sebagai agen perubahan
  • Pemuda harus bersatu dalam kepentingan yang sama.
  • Mengembalikan semangat nasionalisme dan partriotisme di kalalangan generasi muda
  • Menguatkan semangat nasionalisme tanpa harus tanpa harus meninggalkan jati diri daerah.
  • Perlunya kesepahaman bagi pemuda atau generasi muda dalam melaksanakan agenda-agenda perubahan.
  • Pemuda menjadi aktor untuk mewujudkan demokrasi politik dan ekonomi yang sebenarnya.
  • Pemuda atau generasi muda harus dapat memaikan perannya sebagai kelompok penekan atau pressure group.

Mahasiswa memiliki peran sosial yang tercermin dalam kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan. Pemikiran politik kritis mahasiswa terhadap pemerintahan sangat didambakan oleh rakyat. Di mata masyarakat umumnya, mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change) tatkala masyarakat terkungkung oleh tirani kebodohan. Demikian juga dengan potensi mahasiswa. Potensi itu dipergunakan untuk menjunjung tinggi kebaikan, namun bisa juga untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan. Demikianlah keadaan dan peran mahasiswa. Kiprah mahasiswa memang sangat didambakan dalam mengukir peradaban bangsa ini. Peranan mereka sangat didambakan oleh masyarakat sebagai pionir perubahan ke arah yang lebih baik.

 

 

Daftar Pustaka

http://www.slideshare.net

ekhfr.blogspot.com/201011peran-mahasiswa-sebagai-generasi.html

edukasi.kompasiana.com

http://ekhafr.blogspot.com/2010/11/peran-mahasiswa-sebagai-generasi.html

http://seputarkuliahan.blogspot.com/2010/10/peran-mahasiswa-sebagai-penerus-bangsa.html

http://saripedia.wordpress.com/tag/pemuda-ashabul-kahfi/

http://peran-mahasiswa.blogspot.com/

http://henydwi.wordpress.com/2012/05/02/bangkitnya-generasi-emas-indonesia-cita-cita-dalam-dunia-pendidikan/

http://rajabulgufron.wordpress.com/2014/04/06/pemuda-mahasiswa-dan-perubahan/

Pemuda, Mahasiswa dan Perubahan

Pemuda dan mahasiswa sama-sama diidentikkan dengan “agent of change”. Kata-kata perubahan selalu menempel dengan erat sekali sebagai identitas para mahasiswa yang juga dikenal sebagai kaum intelektualitas muda. Dari mahasiswalah ditumpukan besarnya harapan, harapan untuk perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang yang ada di negeri ini. Tugasnyalah melaksanakan dan merealisasikan perubahan positif, sehingga kemajuan di dalam sebuah negeri bisa tercapai dengan membanggakan.

Peran sentral perjuanganya sebagai kaum intelektualitas muda memberi secercah sinar harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi perubahan-perubahan positif di negeri ini. Tidak dipungkiri, bahwa perubahan memang tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi sinkronisasi yang mendarah daging dari tubuh dan jiwa para mahasiswa. Dari mahasiswa dan pemudalah selaku pewaris peradaban munculnya berbagai gerakan-gerakan perubahan positif yang luar biasa dalam lembar sejarah kemajuan sebuah bangsa dan negara.

Sejarah telah menorehkan dengan tinta emas, bahwa pemuda khususnya mahasiswa selalu berperan dalam perubahan di negeri kita, berbagai peristiwa besar di dunia selalu identik dengan peran mahasiswa didalamnya.

Berawal dari gerakan organisasi mahasiswa Indonesia di tahun 1908, Boedi Oetomo. Gerakan yang telah menetapkan tujuannya yaitu “kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa” ini telah lahir dan mampu memberikan warna perubahan yang luar biasa positif terhadap perkembangan gerakan kemahasiswaan untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Gerakan kemahasiswaan lainnya pun terbentuk, Mohammad Hatta mempelopori terbentuknya organisasi kemahasiwaan yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar di Belanda yaitu Indische Vereeninging (yang selanjutnya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia). Kelahiran organisasi tersebut membuka lembaran sejarah baru kaum terpelajar dan mahasiswa di garda depan sebuah bangsa dengan misi utamanya “menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan”.

Gerakan mahasiswa tidak berhenti sampai disitu, gerakannya berkembang semakin subur, angkatan 1928 yang dimotori oleh beberapa tokoh mahasiswa diantaranya Soetomo (Indonesische Studie-club),Soekarno (Algemeene Studie-club), hingga terbentuknya juga Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang merupakan prototipe organisasi telah menghimpun seluruh gerakan mahasiswa ditahun 1928, gerakan mahasiswa angkatan 1928 memunculkan sebuah idieologi dan semangat persatuan dan kesatuan diseluruh pelosok Indonesia untuk meneriakkan dengan lantang dan menyimpannya didalam jiwa seluruh komponen bangsa, kami putra putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu yaitu tumpah darah Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia , dan menjunjung bahasa satu yaitu bahasa Indonesia dan hingga kini kita kenal sebagai sumpah pemuda.

Gerakan perjuangan mahasiswa sebagai kontrol pemerintahan dan kontrol sosial terus tumbuh dan berkembang, hinggalah gerakan perjuangan mahasiswa sampai pada terjadinya peristiwa 10 tahun yang lalu yaitu tragedi trisakti mei 1998.

Lagi-lagi mahasiswa menjadi garda terdepan didalam perubahan terhadap negeri ini, gerakan perjuangan ini menuntut reformasi perubahan untuk mengganti rezim orde baru yang korupsi, kolusi, dan nepotisme serta tidak berpihak kepada rakyat dan memaksa turun presiden soeharto dari kursi kekuasaannya yang telah digenggamnya selama hampir 32 tahun.

Gerakan perjuangan mahasiswa tidak semudah yang kita bayangkan, perubahan ini harus dibayar mahal dengan meninggalnya empat mahasiswa universitas trisakti oleh timah petugas aparat yang tidak mengharapkan perubahan itu terjadi.

Sejarah panjang gerakan mahasiswa merupakan salah satu bukti, kontribusinya, eksistensinya, dan peran serta tanggungjawabnya mahasiswa dalam memberikan perubahan dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Peran mahasiswa terhadap bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu kaum, sebagai generasi pengganti yang menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu kaum.

Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri didalam dada mahasiswa Indonesia baik yang ada didalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar diluar negeri. Apabila peran ini bisa dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, “ruh perubahan” itu tetap akan bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia.

Gerakan perjuangan Mahasiswa Indonesia tidak boleh berhenti sampai kapanpun, gerakan perjuangan mahasiswa saat ini tidak hanya dengan bergerak bersama-sama untuk berdemonstrasi dan berorasi dijalan-jalan saja, akan tetapi wahai para “agent of change”, cobalah untuk bertindak bijak dengan intelektualisme, idealisme, dan keberanian mu untuk bisa senantiasa menanamkan ruh perubahan yang ada dalam dirimu untuk bisa memberi kebaikan dan berperan besar serta bertanggung jawab untuk memberikan kemajuan bangsa dan Negara Indonesia, sehingga seperti Hasan al Banna katakan “goreskanlah catatan membanggakan bagi umat manusia”.

Peran Pemuda dan Mahasiswa sebagai Tokoh Sentral Pembangunan Suatu Bangsa

Sejarah negara kesatuan Republik Indonesa telah membuktikan bahwa pemuda adalah tokoh utama dalam menentukan jalannya sejarah perjuangan bangsa. Sumpah pemuda yang dideklarasikan pada 28 Oktober 1928 di Jakarta merupakan bukti nyata dari peran pemuda dalam menyusun cikal bakal berdirinya republik yang kita cintai ini. Selanjutnya pemuda jugalah sebagai salah satu komponen besar bangsa yang mendesek Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam hal ini, sangat perlu bagi generasi muda Indonesia untuk menjadikan sejarah sebagai refleksi guna memupuk semangat dalam rangka pengambilan peranan dalam membentuk karakter bangsa yang berdaulat dan bermartabat serta berperadaban tinggi.

Pemosisian peranan dalam pembinaan generasi muda sangat penting dilaksanakan dengan melalui usaha-usaha meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa; menanamkan dan menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara, mempertebal idealisme, semangat patriotisme dan harga diri, memperkokoh kepribadian dan disiplin, mempertinggi budi pekerti dan akhlak mulia, memupuk kesadaran daya kreasi, mengembangkan jiwa kepemimpinan, kecintaan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, kepeloporan, mendorong partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam pelaksanaan pembangunan nasional.

Pemuda sebagai generasi penerus bangsa harus benar-benar berpegang teguh pada prinsip Pancasila dan UUD 1945. Generasi muda harus terus menghayati semangat Sumpah

Pemuda sebagai modal pembinaan jati diri bangsa dan negara. Jati diri bangsa Indonesia adalah Pancasila dan UUD 1945 dimana di dalamnya memuat segala aspek dalam upaya menumbuhkan sikap toleransi, gotong-royong dan tenggang rasa sebagai modal menciptakan masyarakat yang damai dan harmonis. Jati diri bangsa kita adalah budaya relegius, jujur, santun, ramah, disiplin dan gotong-royong. Inilah yang harus kita tanamkan pada setiap diri generasi muda agar terciptanya Indonesia yang berdaulat dan bermartabat. Generasi yang memiliki karakter jati diri bangsa yang demikian, adalah generasi emas bangsa yang dapat menjadi pilar penyanggah keutuhan, integritas, dan martabat bangsa dan negara Indonesia.

Adanya bonus demografi Indonesia saat ini, sepatutnya dijadikan sebagai momentum awal pembentukan semangat baru dalam diri kita untuk terciptanya generasi mendatang yang lebih cemerlang, yaitu “generasi emas Indonesia”. Generasi emas yang ingin dibangun atau dibangkitkan dalam konteks ini, adalah genarasi yang memiliki karakter kuat yang memegang teguh prinsip-prinsip jati diri bangsa yang dilandasi dengan semangat nasionalisme yang tinggi dan rasa integritas serta solidaritas yang kokoh dalam membangun negara dan bangsa yang bermartabat, berkeadilan, dan berperadaban.

“Bangkitkan Generasi Emas Indonesia” merupakan sebuah tema yang dicetuskan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, karena melalui pendidikan kita mampu membentuk karakter bangsa yang lebih berkualitas. Maka pendidikan sekarang harus benar-benar dirancang untuk menciptakan anak bangsa yang cerdas, sehingga pendidikan menjadi ujung tombak terciptanya generasi emas bangsa. Tema ini dipilih karena sebuah keinginan membangun dan memperkokoh kesadaran bangsa akan pentingnya pendidikan bermutu bagi masa depan bangsa dan memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan tentang pentingnya atau strategisnya untuk membangun grand desain pendidikan bagi kebangkitan Indonesia modern.

Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik di mana mahasiswa selalu menjadi motor penggerak perubahan. Namun hanya sedikit rakyat Indonesia yang dapat merasakan dan mempunyai kesempatan memperoleh pendidikan hingga ke jenjang ini karena system perekomian di Indonesia yang kapitalis serta biaya pendidikan yang begitu mahal sehingga kemiskinan menjadi bagian hidup rakyat ini . Adapun peran mahasiswa dalam kehidupan sosial mastarakat yaitu :

Peran moral

Mahasiswa yang dalam kehidupanya, tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik dan telah meninggalkan amanah dan tanggung jawabnya sebagai kaum terpelajar. Jika hari ini kegiatan mahasiswa berorientasi pada hedonisme (hura – hura dan kesenangan), lebih suka mengisi waktu luang mereka dengan agenda rutin pacaran tanpa tahu tentang peruban di negeri ini, dan jika hari ini mahasiswa lebih suka dengan kegiatan festival musik dan kompetisi (entertainment) dengan alasan kreatifitas, dibanding memperhatikan dan memperbaiki kondisi masyarakat dan mengalihkan kreatifitasnya pada hal – hal yang lebih ilmiah dan menyentuh kerakyat, maka mahasiswa semacam ini adalah potret “generasi yang hilang “yaitu generasi yang terlena dan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemuda dan mahasiswa.

Peran sosial

Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan. Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat poenderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan di biarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya. Betapa peran sosial mahasiswa jauh dari pragmatisme ,dan rakyat dapat merasakan bahwa mahasiswa adalah bagian yang tak dapat terpisahkan dari rakyat, walaupun upaya yang sistimatis untuk memisahkan mahasiswa dari rakyat telah dan dengan gencar dilakukan oleh pihak – pihak yang tidak ingin rakyat ini cerdas dan sadar akan problematika ummat yang terjadi.

Peran Akademik

Sesibuk apapun mahasiswa, turun kejalan, turun ke rakyat dengan aksi sosialnya, sebanyak apapun agenda aktivitasnya jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa mahasiswa adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Setiap orang tua pasti ingin anaknya selesai kuliah dan menjadi orang yang berhasil. Maka sebagai seorang anak berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan keinginan itu, untuk mengukir masa depan yang cerah .
Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita, dan inilah yang membedakan kita dengan komonitas yang lain ,peran ini menjadi symbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita. Jika memang kegalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit,”nasi sudah jadi bubur maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi “ bubur ayam spesial “. Artinya jika sudah terlanjur gagal maka tetaplah bangkit seta mancari solusi alternatif untuk mengembangkan kemampuan diri meraih masa depan yang cerah di dunia dan akhirat.

Peran politik

Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena disini mahasiswa berfungsi sebagai presseur group ( group penekan ) bagi pemerintah yang zalim. Oleh karena itu pemerintah yang zalim merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran yang satu ini. Pada masa ordebaru di mana daya kritis rakyat itu di pasung, siapa yang berbeda pemikiran dengan pemerintah langsung di cap sebagai kejahatan terhadap negara. Pemerintahan Orba tidak segan-segan membumi hanguskan setiap orang-orang yang kritis dan berseberangan dengan kebijakan pemerintah yang melarang keras mahasiswa beraktifitas politik. Dan kebijakan ini terbukti ampuh memasung gerakan – gerakan mahasiswa yang membuat mahasiswa sibuk dengan kegiatan rutinitas kampus sehinngga membuat mahasiswa terpenjara oleh system yang ada.Mahasiswa adalah kaum terpelajar dinamis yang penuh dengan kreativitas. Mahasiswa adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari rakyat. Sekarang mari kita pertanyakan pada diri kita yang memegang label Mahasiswa, sudah seberapa jauh kita mengambil peran dalam diri kita dan lingkungan.

Sabar Itu Akan Selalu Indah

Kehidupan manusia di dunia ini tidak akan terlepas dari dua hal, yaitu nikmat dan musibah. Begitu banyaknya nikmat yang diberikan oleh Allah, namun terkadang datang musibah yang berupa kesusahan dan kesedihan dan kedua hal ini (nikmat dan musibah) membutuhkan kesabaran dalam menerima dan menyikapinya. Sabar merupakah salah satu pilar kebahagiaan bagi seseorang yang akan memberikan ketenangan dan ketentraman di dalam jiwa manusia. 

  • Pengertian Sabar

Syaikh Salīm ibn ‘Īd al-Hilālī dalam kitabnya, dalam bab ‘aṣ-Ṣabru al-Jamīl’ mendefinisikan sabar dalam tiga perkara. Pertama, sabar adalah memelihara (menetapkan) jiwa pada ketaatan kepada Allah dan selalu menjaganya, dan memeliharanya dengan keikhlasan serta memperbaikinya atau memperbagus dengan ilmu. Kedua, sabar adalah menahan jiwa dari maksiat dan keteguhannya dalam menghadapi syahwat dan perlawanannya terhadap hawa nafsu. Ketiga, sabar adalah keridhaan kepada qada’ dan qadar yang telah ditetapkan oleh Allah tanpa mengeluh di dalamnya dan keputusasaan. 

  • Sabar dalam Ketaatan Kepada Allah

Jalan menuju Allah adalah jalan yang penuh dengan rintangan. Sedangkan jiwa itu tidak dapat istiqamah di atas perintah Allah dengan mudah. Maka barang siapa yang ingin menundukkan dan mengekangnya maka di harus bersabar. 

Sabar dalam ketaatan kepada Allah meliputi tiga hal, yaitu, 

  • Sabar sebelum melakukan ketaatan tersebut, yaitu dengan niat yang benar, ikhlas dan bersih dari riya’.
  • Sabar ketika menjalankan ketaatan, yaitu dengan tidak lalai dalam melakukannya dan juga tidak bermalas-malasan.
  • Sabar setelah beramal, seseorang tersebut hendaknya tidak menjadi ta’jub dengan dirinya dan menampakkan apa yang ia punya dalam rangka sum’ah dan riya`. Karena hal tersebut hanya akan menghapus amalan, pahala dan pengaruh-pengaruh yang seharusnya dia dapatkan. (Naḥwu Akhlāqi as-Salāfi : 105)

Sabar dalam ketaatan kepada Allah diantaranya adalah sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam mengamalkan dan sabar dalam mendakwahkannya. Tiga hal ini tercakup ke dalam firman Allah ta’ālā, (yang artinya) : ‘Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran’ (Q.S al-‘Asr: 1-3). Dalam surat tersebut Allah menyatakan bahwa seluruh manusia itu berada dalam kerugian, kecuali manusia-manusia yang disifati dengan empat sifat, 

  • Beriman kepada perkara-perkara yang diperintahkan oleh Allah. Keimanan ini tidak akan terwujud dengan tanpa adanya ilmu.
  • Beramal shalih, mencakup seluruh amal kebaikan, dhahir maupun batin, berkaitan dengan hak-hak Allah ataupun hak-hak seorang hamba, ataukah itu amalan wajib atau sunnah.
  • Saling menasehati dalam kebenaran (iman dan amal shalih), saling menasehati dalam keimanan kepada Allah dan beramal shalih, bersemangat kepadanya dan mencintainya.
  • Saling menasehati untuk menetapi kesabaran. Bersabar dalam ketaatan kepada Allah, bersabar dalam menjauhi maksiat kepadaNya, dan bersabar terhadapt takdir yang telah ditetapkanNya.

Dengan kedua perkara pertama seorang hamba akan menyempurnakan dirinya, dan dengan dua perkara selanjutnya dia akan menyempurnakan orang lain. Maka ketika empat hal ini telah sempurna seorang hamba itu akan terselamatkan dari kerugian dan akan meraih kemenangan yang besar (Taisīru Karīmi ar-Raḥmāni: 1102). 

  • Sabar Menjauhi Maksiat

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
Hujibat Al-Na’aaru Bialsya’ahawati Wahujibat Al-Jana’atu Bialmakarihi

“Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu).”

Oleh karena itu barang siapa yang menginginkan surga, maka dia harus bersiap untuk bersabar karena surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh hawa nafsu. Terkadang seseorang itu merasa bersabar menjuhi maksiat itu lebih berat daripada bersabar menjalankan ketaatan. Mungkin seseorang bisa bersabar melaksanakan shalat malam semalam suntuk, namun dia tidak bisa bersabar jika diminta meninggalkan perkara-perkara yang disenanginya yang tidak diperbolehkan oleh syari’at. 

  • Sabar Menerima Takdir

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab beliau yang sangat agung, menyusun bab khusus mengenai sabar terhadap takdir, yaitu bab ‘minal īmāni billāhi aṣ-ṣabru ‘alā aqdārillāhi’ (salah satu ciri (bagian) dari keimanan kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah). 

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17).

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikhhafizhahullahuta’alamengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran. 

Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya. 

Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allahjalla wa ‘alauntuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdirNya. (artikel muslim.or.id ‘Hakikat Sabar 1’) 

Sabar adalah pedang yang tidak akan tumpul, tunggangan yang tidak akan tergelincir dan cahaya yang tidak akan padam. Akan tetapi sabar tidaklah semudah ketika kita mengucapkannya. Jika tidak, Allah tidak akan memberikan pahala yang besar untuk orang-orang yang bersabar, seperti dalam firmanNya, yang artinya “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Rabb-mu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S az-Zumār:10). Allah tidak akan memberikan kecintaan dan ma’iayyahNya (kebersamaanNya) seperti dalam firmanNya, yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S al-Baqarah : 153), “. . . Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (Q.S ali-‘Imran :146). Allah memberikan kebersamaan yang bersifat khusus kepada orang-orang yang bersabar, dan Allah akan menghilangkan kesusahan darinya dan akan memudahkan setiap kebaikan bagi orang-orang yang bersabar. Akan tetapi sabar tidak bisa kita lakukan dengan mudah, kita memerlukan pertolongan dari Allah.

Betapa perkara ini merupakan perkara yang tidak mudah karena hidup ini pada hakikatnya adalah untuk bersabar. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk bisa bersabar di setiap perkara yang kita hadapi. Baik itu dalam ketaatan kita kepada Allah dan menjauhi maksiat kepadaNya, juga dalam menetapi taqdirNya yang tidak pernah kita dapat mengira dan menyangkanya. Allāhu a’lam. 

Sumber:Muslimah.or.id
Penulis: Ummu Ahmad Rinautami Ardi Putri
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits 

Courtesy of :

http://www.mencintaisederhana.com/2013/04/sabar-itu-akan-selalu-indah.html#.Uq1l3dIW38Y

Memaknai “KEGAGALAN”

Oleh : Asep Sapa’at (Praktisi Pendidikan, Direktur Sekolah Guru Indonesia)

ImageMengapa Bangsa Asia Kalah Kreatif dari Barat.?” judul buku karya Prof. Ng Aik Kwang (University of Queensland – Australia) sangat menarik untuk ditelaah. Mungkinkah bangsa Asia bisa kalahkan tingkat kreativitas bangsa Barat di masa mendatang?

Nothing impossible. Yang jadi pertanyaan, apa yang harus diubah dari budaya bangsa Asia agar bisa jadi lebih kreatif? Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (uang, mobil, rumah, dan harta lain).

Rasa kecintaan terhadap suatu bidang (passion) kurang dihargai. Apa akibatnya? Bidang kreativitas kalah populer oleh profesi yang dianggap cepat mendatangkan kekayaan semisal profesi dokter dan pengacara. 
Di sisi lain, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara memperoleh kekayaan tersebut. Tak heran jika orang suka sekali cerita, novel, film yang memperlihatkan orang miskin kaya mendadak dengan berbagai sebab, bisa karena menemukan harta karun atau dinikahi pangeran kaya raya. Bahkan, perilaku koruptif pun dianggap hal wajar. Hal menarik lainnya untuk dicermati, orang Asia takut salah dan takut kalah. Sifat eksploratif kurang difasilitasi. 
Keberanian untuk melakukan kegagalan dan mengambil resiko menjadi kurang dihargai. Gagal itu memalukan. ‘Nggak boleh gagal, kita harus selalu sukses’, pameo yang bisa merusak alam bawah sadar kita.
“Gagal dan bangkit lagi”, proses alamiah untuk membuat anak belajar dari pengalaman. Bukankah pengalaman itu adalah guru terbaik dalam proses pendewasaan dalam kehidupan? Maka, beranilah mencoba. Takut gagal hanya akan membuat kita miskin pengalaman hidup. 
Bagi para ilmuwan zaman dahulu, pengalaman ‘gagal – coba – gagal lagi – coba lagi’ sebagai cara untuk menemukan hal-hal besar yang bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia. Gagal itu sunnatullah, begitulah hukum alamya. Perjalanan yang wajib dilakoni sebagai proses pendewasaan diri. Maka, tak pernah berani berbuat dan gagal, itulah kegagalan yang sesungguhnya.
Mari telisik siklus kehidupan keluarga kaya. Kita mulai sejak kelahiran anak. Anak yang lahir, ditangani dokter spesialis kebidanan di RS mewah. Pulang dijemput dan dibawa dengan mobil mulus. Sampai di rumah, kamar bayi pun telah dihias apik. Hadiah-hadiah jangan tanya karena begitu banyaknya. Jika tak cukup satu, baby sitter bisa ditambah. 
Apapun kebutuhan si kecil dipenuhi segera. Jangan sampai si kecil jatuh hingga menangis. Orang tua bakal marah besar. Masuk play group, TK hingga SLTA merupakan sekolah favorit. Kursus bahasa disiapkan agar segera bisa kuliah di luar negeri. Di USA atau di Eropa, perguruan tinggi terkenal pun dimasuki. Singkat kata anak ini lulus dan segera kerja. Bila sudah kerja, ternyata gaji teramat sedikit dibanding uang saku bulanan. Karena tak tega, orang tua segera membuat perusahaan. Sang anak pun duduk jadi direktur, bahkan langsung melonjak jadi presiden direktur. 
Dari segi jenjang pendidikan dan jabatan, perjalanan anak kaya begitu linear. Dari satu sukses, menuju ke tangga sukses yang lebih atas. Tetapi dari segi mentalitas, apa yang terjadi sesungguhnya. Dari segi halal, bisa dipastikan karena orang tuanya merupakan saudagar kaya. Namun dari segi kethayiban, ternyata kehalalannya tak beriring. Perhatikan sejak lahir, tumbuh balita, sekolah hingga bekerja, sang anak tak pernah terlatih jatuh. Segala sesuatu disiapkan sukses. Padahal dalam setiap kegagalan, ada hikmah yang harus dipelajari. Tiap kegagalan pasti menyakitkan. Yang sukses, pasti berkali-kali jatuh dan harus menyiasati diri agar bisa bangun lagi. 
Anak kaya yang terpenuhi segala kebutuhannya, juga tak merasakan betapa sulitnya naik kendaraan umum. Dia sulit membayangkan bisa berdesak-desakan di bus dan kereta api. Berjuang berdesakan untuk mengantri di loket pembelian tiket kendaraan. Tak pernah dia menyiasati diri bagaimana masuk kantor dengan sepatu kotor terinjak, atau coba mengatasi bajunya yang kusut. Juga tak pernah harus berlari-lari menghindari genangan air becek atau hujan yang mengguyur. Dan pernahkah merasakan betapa sakitnya dompetnya dicuri? Padahal kekayaannya tinggal beberapa lembar ribuan saja di dompet itu. Bus, pasar, kereta api, terminal dan kehidupan jalanan, itulah sesungguhnya sebuah hidup. 
Artinya apa? Artinya, anak-anak kaya itu merupakan kelompok eksklusif. Anak-anak yang tak pernah sulit ini, sesungguhnya sedang dirancang untuk jadi manusia gagal. Mereka belum pernah hidup menderita seperti rakyat banyak. Mereka hidup dengan segala proteksi dan kemudahan. Kegagalan yang mereka alami, dengan segera dicari solusi oleh lingkungannya. Baik oleh orang tuanya, oleh pembantu, oleh supir dan oleh siapapun yang punya kepentingan. Seolah-olah persoalan begitu mudah selesai, dan mereka taken for granted saja. 
Masih ingat budaya apa yang harus diubah bangsa Asia agar bisa lebih kreatif dari bangsa Barat? Ya, orangtua dan guru yang ada di bangsa Asia harus tempa mentalitas anak-anaknya agar berani gagal, siap tanggung resiko, dan selalu bisa bangkit dari kegagalan. Ada cara berpikir yang mesti diubah. Ukuran sukses bukan lagi berapa banyak harta yang dimiliki, tapi berapa banyak kegagalan yang wajib dialami agar anak-anak punya mentalitas pemenang dalam kehidupan. Perasaan takut salah dan takut kalah akan hilang dengan sendirinya jika anak-anak diberi keleluasaan untuk berkreasi dan bereksplorasi dalam ketatnya kompetisi hidup. 
Jika masih ada orangtua yang beri izin anak di bawah umur dan tak punya SIM tunggangi kendaraan bermotor, itulah perilaku tak bertanggung jawab. Batas antara sayang dan gengsi begitu sangat tipis. Karena anak tetangga bersekolah naik motor, atas nama rasa sayang yang absurd, kita segera belikan motor meski pilihan untuk berhutang mesti ditempuh. Demi prestise dan kehormatan orang dewasa yang ambigu, anak-anak sekolah diberi contekan dan kemudahan untuk menjawab soal. Semua anak diluluskan meski nilai kemampuan belajar mereka ada yang masuk kategori gagal. 
Sadarilah, jika kita menutup ruang-ruang kehidupan bagi anak-anak kita untuk berjibaku menghadapi kesulitan hidup, maka kita sedang merancang kelahiran generasi instan yang tak bisa pahami makna kegagalan dan kesuksesan yang hakiki. Bukankah setelah kesulitan itu ada kemudahan? Maka, biarkanlah anak-anak kita bercengkrama dengan kesulitan hidup mereka. Apa peran orangtua dan guru? Berikan keteladanan soal ketangguhan hati, kesabaran, dan kesetiaan menjalani kesulitan hidup.  
Orangtua bisa wariskan hartanya. Jabatan presiden direktur bisa disiapkan untuk sang buah hati. Mobil mewah hadiah ulang tahun anak tinggal dipesan, langsung diantar ke rumah. Kemudahan yang berujung kesulitan hidup bagi kehidupan sang anak di masa depan.

Tapi mohon maaf, bicara soal mentalitas sebagai pejuang kehidupan, memang takkan pernah bisa diwariskan orangtua kepada anak. Anak-anak harus terlibat intens secara langsung dalam setiap detik kehidupan yang berjalan. Kegagalan, cara terbaik untuk memahami esensi kehidupan. Never give up, karena tak ada kegagalan yang abadi. Episode kesuksesan dan kegagalan akan dipertukarkan, itulah warna warni kehidupan. 
“Gagal dan bangkit lagi”, itulah seni kehidupan. Beranilah mencoba dan nikmati sakitnya kegagalan. Kegagalan tak usah ditakuti. Setiap anak berhak mengalami kegagalan. Tugas kita adalah memastikan anak bisa belajar dari pengalaman gagal dan memaknai kegagalan itu untuk kehidupan di masa depan.  Memang, menjadi orangtua dan guru itu adalah sebuah pilihan.

Tapi menjadi orangtua dan guru yang baik dalam mengarifi makna kehidupan itu butuh kerja keras. So, jangan takut gagal sebagai orangtua dan guru. Teruslah berkarya dalam kehidupan. Karena bisa jadi, apa yang Anda lakukan bisa membuat bangsa Asia lebih kreatif dari bangsa Barat. Aaamiiinnn…!!!

Courtesy of http://madrasah.kemenag.go.id

UPAYA ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN MINAT ANAK MELAKSANAKAN IBADAH DI DUSUN PRINGGARATA BARAT UTARA DESA PRINGGARATA, KEC-PRINGGARATA-LOMBOK TENGAH

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang.

Ibadah (عبادة) secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain:

  • Ibadah : taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya, (yang digariskan) melalui lisan, contoh dari para Rasul-Nya.
  • Ibadah : merendahkan diri kepada Allah, tingkatan ketundukan yang tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang tinggi pula.
  • Ibadah :  sebutan yang mencakup seluruh yang dicintai dan diridhai Allah, berupa: ucapan, perbuatan, yang dzahir maupun bathin. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Ibadah terbagi menjadi ibadah: hati, lisan, anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan): ibadah qalbiyah (berkaitan dengan hati). Sedangkan: shalat, zakat, haji, dan jihad: ibadah badaniyah (fisik), masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan dan badan.

Ibadah, menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah. Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya. Karena ketergantungan mereka kepada Allah, mereka menyembah-Nya sesuai dengan aturan syari’at-Nya (Qur’an dan Hadits). Siapa yang menolak beribadah kepada Allah: sombong. Siapa yang menyembah-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya: mubtadi’ (pelaku bid’ah), pelaku tambahan, memalsu. Dan siapa yang hanya menyembah-Nya dan dengan syari’at-Nya, dia adalah mukmin muwahhid (yang meng-Esa-kan Allah).

Ibadah adalah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, dengan jalan mentaati segala perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diinginkan Allah. Ibadah itu ada yang umum dan ada khusus; yang umum ialah segala amalan yang diizinkan Allah. Yang khusus ialah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah dan cara-caranya yang tertentu. Allah  berfirman.

Pada masa sekarang, masa dimana globalisasai tidak bisa dihindari, akan
tetapi adanya perkembangan zaman itulah yang harus diterima dengan cara
memfilter apa yang seharusnya dipilih untuk maslahah bersama.

Belakangan ini banyak ditemukan pendidikan yang bobrok, realita ini
banyak ditemukan di wilayah kota-kota besar. Memang dalam keilmuan non
agama bisa dikatakan unggul, akan tetapi nilai spiritual yang ada sangatlah tidak
cocok bila dikatakan sebagai seorang muslim.

Pendidikan Islam adalah salah satu cara untuk merubah pola hidup
mereka. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah pendidikan Islam itu seperti apa.

Ilmu Pendidikan Islam  Ilmu Pengetahuan  Perbedaan dengan Ilmu pengetahuan yang lain  penggongan-penggolongan suatu masalah dan pembahasan masalah demi masalah di dalam pendidikan.  pendidikan Islam memerlukan beberapa metodologi pengembangan, antara lain ;

Test, pendidik memberikan test kepada anak didiknya untuk mengetahui perkembangan anak didik.

Dari berbagai literatur terdapat berbagi macam pengertian pendidikan
Islam. Menurut Athiyah Al-Abrasy, pendidikan Islam adalah mempersiapkan
manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap
jasmaninya, sempurna budi pekertinya, pola pikirnya teratur dengan rapi,
perasaannya halus, profesiaonal dalam bekerja dan manis tutur sapanya.

Sedang Ahmad D. Marimba memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.

Sedangkan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan adalah
suatu proses penamaan sesuatu ke dalam diri manusia mengacu kepada metode
dan sistem penamaan secara bertahap, dan kepada manusia penerima proses dan
kandungan pendidikan tersebut.

Jadi definisi pendidikan Islam adalah, pengenalan dan pengakuan yang
secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia, tentang tempat-
tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga
membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di
dalam tatanan wujud dan kepribadian. Jadi pendidikan ini hanyalah untuk
manusia saja.

Pendidikan keluarga merupakan bagian integral dari sistem Pendidikan Nasional Indonesia. Oleh karena itu norma-norma hukum yang berlaku bagi pendidikan di Indonesia juga berlaku bagi pendidikan dalam keluarga.

Dasar hukum pendidikan di Indonesia dibagi menjadi tiga dasar yaitu dasar hukum Ideal, dasar hukum Struktural dan dasar hukum Operasional. Dasar hukum ideal adalah Pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum. Oleh karena itu landasan ideal pendidikan keluarga di Indonesia adalah Pancasila. Tiap-tiap orang tua mempunyai kewajiban untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila pada anak anaknya.

Landasan Struktural pendidikan di Indonesia adalah UUD 1945. Dalam pasal 31 ayat 1 dan 2 dijelaskan bahwa setiap warga berhak mendapatkan pengajaran dan pemeritah mengusahakan sistem pengajaran nasional yang diatur dalam suatu perundang-undangan. Berdasarkan pasal 31 UUD 1945 itu maka ditetapkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendldikan NasionaL Berdasarkan Bab IV, pasal 9 ayat 1 disebutkan bahwa satuan pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan di sekolah dan di luar sekolah meliputi keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan yang sejenis. Dari kutipan ini dapat disimpulkan bahwa orang tua itu mempunyai wajib hukum untuk mendidik anak-anaknya. Kegagalan pendidikan yang merupakan kegagalan dalam pendidikan. Keberbasilan anak dalam pendidikan yang merupakan keberhasilan pendidikan dalam keluarga.

Berdasarkan Tap MPR No. II/MPR/1988 seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan itu berdasarkan atas Pancasila dasar dan fa]safah negara. Di samping itu dijelaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu secara operasional pendidikan anak yang berlangsung dalam keluarga, masyarakat dan sekolah merupakan tanggung jawab orang tua juga. Pendidikan dalam keluarga berlangsung karena hukum kodrat. Secara kodrati orang tua wajib mendidik anak. Oleh karena itu orang tua disebut pendidikan alami atau pendidikan kodrat.

Sebagai wadah yang akan mempersiapkan peserta didik menjadi muslim, maka lembaga pendidikan Islam memberikan peran yang tidak dapat dianggap ringan dalam membentuk kecerdasan spiritual sebagai salah salah satu unsur yang akan mengantarkan seseorang menjadi muslim. Hal ini tentu saja sejalan dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri, yaitu membentuk pribadi muslim kaffah atau insan kamil. Untuk itulah bagi suatu lembaga pendidikan Islam, baik itu keluarga, sekolah maupun masyarakat sebagai wadah dan sarana yang memberikan bekal dan arahan kepada seseorang, memegang peran yang strategis dalam mengembangkan spiritual pada diri manusia.

Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama pada hakekatnya merupakan wadah yang tepat bagi seseorang untuk memperoleh pembinaan mental dan pembentukan kepribadian yang kemudian ditambah dan disempurnakan oleh sekolah. Dalam hubungannya dengan kecerdasan spiritual, keluargalah yang seyogyanya dapat membiasakan mendidik anak-anaknya dengan ajaran-ajaran agama dan menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini. Hal inilah yang akan berpengaruh pada tingginya kecerdasan spiritual anak.

Dari itu pulalah maka peran keluarga dalam mengembangkan kecerdasan spiritual sangat dinantikan. Apalagi orang tua sebagai keluarga terdekat mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap seorang anak di dunia dan akherat. “hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.(QS. At-Tharim : 6). Dan jika kita berangkat dari akar kata spiritual yang memiliki arti kejiwaan, maka tidak salah kiranya kalau faktor kejiwaan ini kita hubungkan pula dengan makna jiwa keagamaan. Sebab tidak jarang orang kerap mengidentikan masalah spiritual dengan keagamaan. Ini tak dapat dipungkiri karena memang spiritual yang ada pada diri manusia timbul karena dalam diri manusia itu terdapat potensi untuk mengakui satu kekuatan lain di luar dirinya yang jauh lebih besar.

Maka itulah, dalam diri manusia tidak dapat tidak- harus diakui jiwa keagamaan harus melekat pada setiap insan agar apapun langkah yang harus ditempuhnya sejalan dengan nilai-nilai ilahiah. Dan untuk penanaman jiwa keagamaan pada diri manusia ini, sulit rasanya mengabaikan peran keluarga di dalamnya. Makanya tak mengherankan jika Gilbert Highest menyatakan bahwa kebiasaan yang dimiliki anak sebagian besar terbentuk oleh pendidikan keluarga. Sejak dari bangun tidur hingga tidur kembali, anak-anak menerima pengaruh dan pendidikan dari lingkungan keluarga. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan. Untuk itulah tidak mengherankan jika Rasul menekankan tanggung jawab itu kepada orang tua. Ada semacam rangkaian ketentuan yang dianjurkan kepada kedua orang tua, yaitu mengazankan ke telinga bayi yang baru dilahirkan, mengakikahkan, memberi nama yang baik, mengajarkan membaca al-Qur`an dan shalat lima waktu. Inilah dasar bagi perkembangan jiwa keagamaan anak. Oleh karena itu tidaklah tepat jika para orang tua menggantungkan harapan penuh kepada kepala sekolah yang merupakan lembaga pendidikan formal untuk menghasilkan anak-anak yang cerdas secara intlektual, emosional, dan spiritual secara menyeluruh. Apalagi mengingat saat ini, sebagian besar lembaga pendidikan lebih menekankan pentingnya nilai sebagai prestasi akademik atau IQ saja, sehingga pendidikan tentang kecerdasan spiritual yang akan membentuk karakter dan kualitas sumber daya manusia yang handal hanyalah sekedar impian.

Dalam Alquran, anak dapat dikelompokkan kepada lima tipologi, yaitu anak sebagai ujian (QS. Al-Anfal [8]:28), anak sebagai perhiasan hidup dunia (QS. Al-Kahfi [18]:46), anak sebagai cahaya mata (QS. Al-Furqan [24]:74), anak sebagai musuh (QS. At-Taghabun [64]:14) dan anak sebagai amanah (QS.At-Tahrim [66]:6).

Hubungannya dengan tugas dan kewajiban orangtua, maka tipologi di atas menunjukkan besarnya peranan dan tanggung jawab orang tua (ibu dan bapak) dalam mengasuh dan mendidik anak, terutama agamanya sehingga terbentuk sebuah keturunan yang ideal (zurriyah thayyibah) atau anak saleh.

Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras; mereka tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka  dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]:6).

Dalam hadis sahih yang sudah begitu populer, Rasulullah SAW menegaskan, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Kepala Negara adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab terhadap nasib rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah tangganya dan dia bertanggung jawab terhadap keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab terhadap rumah tangganya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta benda majikannya dan ia bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih).

Intinya, anak merupakan bagian dari amanah Allah, di mana kalangan orangtua tidak dibenarkan melalaikannya, apalagi lari dari memikul amanah besar tersebut.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat keras terhadap orangtua yang lari dari tanggung jawab ini. “Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang tidak akan diajak berbicara pada hari kiamat, tidak disucikan dan tidak dilihat.” Lalu beliau ditanya: “Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Anak yang berlepas diri dari orangtuanya dan membencinya serta orangtua yang berlepas diri dari anaknya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Imam Ibn Qayyim al-Jauziyah pernah mengatakan, “Barang siapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi anaknya dan menelantarkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orangtua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama termasuk sunnah-sunnahnya.”

Di zaman sekarang ini, orang tua pada umumnya nampak tidak mengalami banyak kesulitan dalam menyekolahkan putra-putrinya, khususnya dari segi peluang.  Lembaga pendidikan sekolah dan pesantren banyak berdiri di hampir merata tempat, pemerintah dan lembaga swasta pun banyak yang menyediakan beasiswa pendidikan. Banyak yang memperoleh semua peluang itu.

Akan tetapi, tidak sedikit orang tua yang lepas kontrol, bahkan ada yang sama sekali tidak peduli terhadap bimbingan agama dan karakter kepribadian anaknya. Akibatnya, terjadi kerusakan pada diri anak yang ditandai dengan sifat dan tingkah laku yang tidak terpuji. Nauzubillahi Min Dzalik.

Oleh sebab itu, agar dapat dianugerahi keturunan yang baik, baik dari segi intelektualitas mahupun moralitas, maka terdapat sejumlah ayat alQuran yang penting untuk dibaca dan diamalkan. Sekurang-kurangnya selepas shalat wajib lima waktu.

Di antaranya adalah surah Ali Imran ayat 38 sebagaimana berikut, “Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.” (QS. Ali Imran [3]: 38).

Menurut Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyah, nikmat terbagi dua; nikmat yang bersifat muthlak dan nikmat yang bersifat muqayyad (mengikat). Nikmat yang bersifat muthlak adalah nikmat yang akan mengantarkan seseorang pada kebahagiaan abadi, seperti kebahagiaan seseorang dalam berislam dan mengikuti sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Ta’ala berfirman;

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا.

“Dan barang siapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman sebaik-baiknya.” (An-Nisa:69).

Adapun nikmat kedua yang bersifat terikat/terbatas adalah nikmat yang digambarkan dalam bentuk kesehatan, anak, kekayaan, dan istri shalehah. Menurut Ibnu Qoyyim rahimahullah, anak merupakan bentuk nikmat. Anak merupakan pemberian dari Allah Ta’ala. Pemberian ini merupakan amanah. Karenanya, setiap orang tua yang dikaruniai anak harus berusaha mengarahkan anak agar tetap terjaga fithrahnya. Yaitu, tetap terjaga tauhid atau keislamannya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

    كُلُّ مَوْ لُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَة فَأبَوَاهُ  يُهَوِّدَانِهِ أَوْ  يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan diatas fithrah (bertauhid). Maka, kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR.Bukhori, no.1384 dan Muslim, no.2658, Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Pengertian fithrah adalah tahuhid, Seperti diungkapkan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, bahwa penetapan kerububiyahan Allah adalah bersifat fithrah. Pendidikan yang salah akan menyebabkan perubahan arah pada anak. (lihat Aqidah At-Tauhid, hal:28).

Maka, menjaga agar fithrah itu tetap ada merupakan kewajiban orang tua muslim. Inilah amanah terbesar yang harus ditunaikan para orang tua. Mengawal tauhid anak agar selamat, untuk hal ini para orang tua dituntut berusaha membekali anak dengan pendidikan islam yang baik dan benar. Ditengah pertarungan budaya yang teramat tajam, mendidik anak kearah yang dicitakan tentu tak mudah, memohon kepada Allah Ta’ala, berdo’a dengan kesungguhan seraya terus berusaha tentu sebuah langkah bijak.

Menyadari anak sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya adalah langkah awal menuju pendidikan yang baik dan benar. Tanpa kesadaran ini orang tua akan semaunya dalam mendidik anak. Tentunya, di iringi dengan kejahilannya, anak akan diantarkan pada taraf pendidikan yang sekedar bertujuan pragmatis, Cuma sekedar untuk duniawinya. Adapun akhirat, terlalaikan, tidak tersentuh sama sekali.

Dan jika dilihat secara lebih seksama akan sistem pendidikan yang ada di negara kita ini, akan dijumpai adanya gejala sekularisasi pendidikan dan dikotomisasi pendidikan yang semakin tumbuh subur. Kedua hal inilah yang sesungguhnya mendesak bagi sistem pendidikan diadakan peninjauan kembali. Peninjauan untuk mengetahui, apakah unsur spiritualitas dalam sebuah sistem pendidikan yang ada masih tetap eksis? Atau justru telah jauh ditinggalkan. Sistem pendidikan di Indonesia menjurus ke arah sekularisasi pendidikan tampak dari sistem dan orientasi belajar siswa di sekolah yang sepenuhnya diarahkan untuk mengejar kesuksesan secara fiskal dan material, seperti karir, jabatan, kekuasaan dan uang. Sehingga out put generasinya pun menjadi serba materialistik, konsumeristik, dan bahkan tidak jarang menjurus ke arah hedonistik.

Ini terbukti dengan munculnya berbagai krisis di negara ini. Dan juga tidak dapat dipungkiri semua ini berawal dari krisis moral dan buta hati yang terjadi di mana-mana. Meskipun memiliki pendidikan yang sangat tinggi dan gelar-gelar kesarjanaan di depan dan di belakang namanya, mereka hanya mengandalkan logika dan membunuh suara hati yang sebenarnya dapat memberikan informasi untuk mencapai kebenaran. Kemudian hal kedua yang mewarnai sistem pendidikan kita yaitu dikotomisasi pendidikan. Ini tampak misalnya dari adanya pandangan pendidikan yang begitu dikotomis; satu sisi ada “pendidikan umum” di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional, sementara di sisi lain ada “pendidikan agama” dibawah naungan Kementerian Agama. Bahkan tidak hanya itu, materi kurikulum pun telah terjadi dikotomi yang begitu ketat. Di satu sisi jalur pendidikan agama sangat minim akan muatan IPTEK dan jalur pendidikan umum sebaliknya lebih menekankanIPTEK. Selain itu, pendidikan agama yang diberikan baik pada jalur pendidikan agama maupun umum, yang mestinya dapat diandalkan dan diharapkan bisa memberi solusi bagi permasalahan yang ada saat ini, ternyata lebih diartikan sebagai ajaran fiqih. Tidak dipahami dan dimaknai secara mendalam, lebih pada pendekatan ritual dan simbol-simbol serta pemisahan atara kehidupan dunia dan akherat. Bahkan di bangku Sekolah Dasar, Rukun Iman dan Islam diajarkan dengan cara sederhana, hanyalah sebentuk hapalan, tanpa dipahami maknanya. Padahal justru disinilah letak rahasia pembentukan kecerdasan emosional dan spiritual sebenarnya. Padahal sesungguhnya lembaga pendidikan bersama-sama keluarga dituntut untuk melihat setiap individu sebagai manusia yang memiliki potensi-potensi dimana potensi-potensi tersebut harus dikembangkan secara seimbang. Jika manusia memiliki fisik, berarti pendidikan harus mampu mengolah fisik untuk mencapai kondisi yang kuat, sehat dan terampil. Jika manusia memiliki otak, maka pendidikan harus mewujudkannya agar cerdas. Jika manusia memiliki hati, maka pendidikan harus menuntun hati untuk menjadi bersih, lembut dan peka terhadap kebaikan dan keburukan. Jika manusia memiliki ruh, maka pendidikan harus menjaga ruh tersebut agar tetap dalam keadaan fitrah-hanief sebagaimana awal penciptaanya dahulu.

Berdasarkan pemikiran diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang upaya orang tua dalam memberikan bimbingan kepada anak agar menjalankan aktifitas ibdah kepada Allah SWT serta akhlaq karimah anak di Dusun Pringgarata Barat Utara dengan judul : “UPAYA ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN MINAT ANAK MELAKSANAKAN IBADAH DI DUSUN PRINGGARATA BARAT UTARA DESA PRINGGARATA, KEC-PRINGGARATA-LOMBOK TENGAH.”

B.     Identifikasi Masalah.

  1. Kurangnya bimbingan yang diberikan oleh orang tua agar anaknya melaksanakan ibadah dan bertutur kata yang baik.
  2. Kesibukan orang tua yang mengakibatkan kurangnya waktu untuk memperhatikan anak dalam beribadah.
  3. Perubahan perkembangan zaman serta kemajuan tekhnologi dan perubahan budaya yang ada di masyarakat, mengakibatkan berubahnya pola kehidupan pada anak seperti tata cara bergaul dan bertutur kata.

C.    Pembatasan Masalah.

Dari beberapa permasalahan, penulis hanya membatasai pada permasalahan bagaimana upaya orang tua dalam membimbing anak melaksanakan ibadah. Anak yang dimaksud disini ialah anak usia Sekolah Dasar, yaitu yang berusia enam sampai dua belas tahun. Ibadah yang penulis maksudkan dalam skripsi ini ialah ibadah madlah dan ghairu madlah. Ibadah madlah yaitu shalat dan puasa sedangkan ibdah ghairu madlah yaitu tadarus Al-Qur’an, berbicara dengan tutur kata yang baik (akhlaq karimah) di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.

D.    Perumusan Masalah.

  1. Upaya orang tua dalam membimbing anak dalam melaksanakan ibadah.
  2. Hambatan-hambatan yang dihadapi orang tua dalam membimbing anak melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.
  3. Upaya orang tua dalam mengatasi hambatan-hambatan yang dialami dalam membimbing anak melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.

E.     Tujuan dan Manfaat Penelitian.

1)      Tujuan Penelitian.

  1. Untuk mengetahui bagaimana upaya orang tua dalam membimbing anak.
  2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi orang tua dalam membimbing anak melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.
  3. Untuk mengetahui bagaimana upaya orang tua dalam mengatasi hambatan-hambatan yang dialami dalam membimbing anak melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.

2)      Manfaat Penelitian.

  1. Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya bagi orang tua sekaligus penulis sendiri dalam mendidik seorang anak untuk lebih mendekatkan diri dengan Sang Khaliq.
  2. Sebagai bahan informasi mengenai upaya apa saja yang dilakukan orang tua dalam membimbing anak melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.
  3. Untuk masyarakat atau orang tua di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah, agar dapat mengetahui sejauh mana keefektifitasan upaya yang telah dilakukan dalam membimbing anak dalam melaksanakan ibadah.
  4. Sebagai bahan evaluasi, perbaikan, serta masukan bagi orang tua dalam meningkatkan minat anak dalam melaksanakan ibadah di Dusun Pringgarata Barat Utara, Desa Pringgarata, Lombok Tengah.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan    : SMP

Kelas/Semester          : VII/1

Mata Pelajaran           : Bahasa Inggris

Topik                         : Greeting and Introduction

Pertemuan Ke-           : 1

Alokasi Waktu           : 2 x 40 menit

  1. A.  Kompetensi Dasar

2.1    Menunjukkan perilaku jujur dan percaya diri dalam berkomunikasi dengan lingkungan sosial sekitar rumah dan sekolah

3.1. Mengenal berbagai cara berbeda dalam membuka percakapan (menyapa, memperkenalkan diri, menginisiasi topik percakapan)

1.1.  Membuka dan menutup percakapan interpersonal dengan ungkapan bervariasi melalui kegiatan menyimak dan berbicara

  1. B.  Indikator Pencapaian Kompetensi

Menggunakan (Kata Kerja Operasional/Operational Verb)

  1. Menunjukkan motivasi untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris.
  2. Mengidentifikasi ungkapan yang digunakan untuk menyapa dalam bahasa Inggris(Greeting)
  3. Melakukan tindak tutur menyapa dalam bahasa Inggris dengan percaya diri
  4. Mengidentifikasi ungkapan yang digunakan untuk memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris (Introduction)
  5. Melakukan tindak tutur memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris
  6. Melakukan percakapan interpersonal dengan menggunakan ungkapan sapaan melalui kegiatan terintegrasi menyimak dan berbicara bahasa Inggris.
  7. Melakukan percakapan interpersonal dengan menggunakan ungkapan perkenalan diri melalui kegiatan terintegrasi menyimak-berbicara bahasa Inggris dengan percaya diri.
  1. C.  Tujuan Pembelajaran

Menggunakan (Kata Kerja Operasional/Operational Verb)

  1. Melalui contoh, peserta didik dapat menggunakan ungkapan sapaan ke dalam praktik berbicara bahasa Inggris.
  2. Melalui contoh, peserta didik dapat menggunakan ungkapan perkenalan diri ke dalam praktik berbicara bahasa Inggris.
  1. D.  Materi Pembelajaran
  2. Ungkapan sapaan : Hello/Hi,  How are you?, How’s life?, Good morning/afternoon/evening/night.

     Nice to meet you.

  1. Ungkapan perkenalan diri: my name is _____, you can call me ____,
  2. 3.    Kosakata yang berhubungan dengan aktivitas sapaan dan perkenalan diri: thank you, I am fine, thanks, nice to meet you too.

 

  1. E.  Model/Metode Pembelajaran
  2. Pendekatan: scientific
  3. Strategi: observe – practice.
  4. Metode: Inquiry/Experiencial learning.
  1. F.   Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan

Deskripsi Kegiatan

Alokasi Waktu

Pendahuluan

  • Guru masuk ke kelas dan langsung menyapa menggunakan bahasa Inggris agar English Environment dapat langsung tercipta di pertemuan pertama.
  • Guru dapat menggunakan kaliamat “Good morning, students”.
  • Pastikan peserta didik merespon dengan menjawab kembali “Good morning, Teacher/ Sir/Mam”.
  • Jika peserta didik belum merespon, jangan dulu melanjutkan pelajaran.
  • Jika memungkinkan, guru dapat bertanya
ke beberapa anak secara individual untuk
memastikan bahwa peserta didik dapat merespon perkataan guru.

10 menit

Inti

Observing

  • Guru menjelaskan bahan ungkapan yang dapat disampaikan ketika menanyakan kabar tentang seseorang adalah “How are you?”
  • Saat ini pertanyaan “How are you?” terbiasa dijawab dengan kata-kata “I’m fine, thank you.” “What about you?”, “What about yourself?”, atau “And yourself?”
  • Oleh karena itu, diperkenalkan bahwa pertanyaan “How are you?” dapat dijawab dengan “I’m feeling great.”

Communicating

  • Peserta didik mengulang-ulang pengucapan “How are you?” hingga pengucapannya benar.
  • Peserta didik berlatih melakukan percakapan bersama rekan sebangkunya.
  • Guru dapat menjelaskan mengenai penggunaan kalimat-kalaimat yang dapat 
digunakan ketika bertemu dengan orang lain. “How are you?”“I’m fine, thank you. And you?”“I’m fine too. Thank you.”
  • Kalimat-kalimat tersebut merupakan kalimat dasar yang dapat digunakan ketika menyapa seseorang.
  • Kata “Sir”, yang menandakan kita berbicara kepada seorang pria yang lebih dewasa, dalam hal ini guru laki-laki.
  • Untuk guru laki-laki, selain kata “Sir”, kita pun dapat menggunakan kata “Mister” 
yang diikuti nama keluarga, misalnya Mr. Suparlan untuk Agus Suparlan.
  • Sedangkan untuk guru perempuan, kita dapat menggunakan kata “Mam”, atau 
“Mrs”.
  • Dalam penggunakan kata sapaan untuk guru perempuan, kita dapat memberikan 
sedikit penjelasan bahwa untuk panggilan kepada perempuan yang masih single atau belum menikah, biasa kita sebut dengan panggilan “Miss”. Sedangkan
  • untuk wanita yang telah menikah kita dapat memanggilnya dengan kata “Mrs”. Sedangkan untuk wanita yang masih belum diketahui status pernikahannya, kita dapat menggunakan kata sapaan “Ms”.
  • Di beberapa daerah yang sudah terbiasa dengan “Bapak” maupun “Ibu”, ungkapan-ungkapan ini tidak salah tentunya. Penggunaan kata “Mister” maupun “Miss” digunakan dalam usaha untuk memunculkan English environment. Namun secara umum, panggilan yang digunakan untuk menyapa guru adalah “Mister” atau “Miss”.

Experimenting

  • Guru mengenalkan ragam ungkapan-ungkapan salam baik dalam situasi formal maupun situasi informal.
  • Dalam bagian ini, guru menjelaskan bahwa pertanyaan “How are you?” tidak harus selalu dijawab dengan “I’m fine”.
  • Sebagian pendapat mengatakan bahwa jawaban “I’m fine” merupakan salah satu bentuk motivasi diri untuk selalu merasa sehat dan menularkan semangat yang ada ke setiap orang, walaupun mungkin kondisinya sedang tidak terlalu baik.
  • Percakapan pertama bercerita tentang
kondisi anak yang merasa sakit kepala (headache).
  • Percakapan kedua bercerita tentang kondisi anak yang merasa flu.
  • Beberapa jenis penyakit umum yang dapat diperkenalkan di antaranya: stomachache, toothache, backache, flu/cold, cough

30 menit

30 menit

Penutup

  • Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran pada pertemuan ini, siswa ditanya bagaimana perasaannya (REFLEKSI)
  • Guru memberikan pertanyaan untuk mengetahui apakah siswa sudah memahami topik tentang “Greeting and Introduction”
  • Siswa diminta membuat kesimpulan pembelajaran pada pertemuan ini
  • Siswa diberi tugas kelompok untuk pembelajaran minggu depan untuk penilaian projek

10 menit

G. Sumber/Media Pembelajaran

  1. Sumber: Buku Paket Siswa
  2. Media: Audio/video, White board, board marker
  1. H.  Penilaian

 Image

 

Image

 

Image

 

Courtesy of file:///D:/SEMESTER%20V/ELT%20MATERIALS%20DEV/RPP%20SMP_BING.docx%20-%20Google%20Drive.html

KETULUSANMU

KETULUSANMU

-M. Rajabul Gufron-

IMG_1780Dikala waktu itu aku menangis,

Meninggalkan alam pertamaku selama sembilan bulan,

Ku melihat sesosok wajah asing dengan raut penuh gembira

Senyumannya merekah dengan tetesan air mata dipipinya

Lalu Ia berkata “Selamat Datang ke Dunia Anakku”

Nanda yang waktu itu masih polos nan lugu

Dengan tiada sungkan menangis sekeras-kerasnya diatas buaian wanita itu

Belum ku kenal siapa dia

Tapi Ia tak menanyakan siapa saya

 

Ananda dilahirkan

Ananda disusui

Ananda dirawat

Dan ananda dibesarkan

Ku berjalan melewati hari-hariku tumbuh dewasa

Seiring sapaan sang fajar menyambut pagi

Ananda pun mulai mengenal satu kata “Ibu” di alam duniaku

Kata yang selalu terucap dari bibir ini

Setiap ku sedih, setiap ku gembira, setiap ku meraju

Dan setiap-setiap hariku katakan kata itu

Banggaku katakan akan kata itu “Ibu”

Kau suapiku dengan penuh cinta kasih

Kau rajutiku dengan penuh rasa sayang

Kau pelukku dengan penuh kehangatan

Lalu kau besarkanku dengan keikhlasan

Tangisan, laku nakal, dan penuh keluh tak kau hiraukan

Tak membuatmu menjauhiku

Tak membuatmu meninggalkanku

Dan tak membuatmu memutuskanku sebagai anakmu

Anandapun tahu kau ikhlas akan hal itu

Ku bilang pada mereka

Cita-citaku menjadi seorang Dokter, Polisi dan Presiden

Tapi saat ku bertanya padamu

“Apa cita-cita wahai Ibuku?”

Dengan lugu kau katakan padaku

“Membesarkan dan mendidikmu pahlawan kecilku”

Lalu ku bertanya lagi, “Hanya itu Ibu?”

“Itulah cita-cita terbesar Ibu”

Kasih sayang dan ketulusanmu itu

Tak mampu ananda bayarkan

Pengorbanan keikhlasanmu itu

Tak mampu ananda gantikan

Engkaulah Ibuku, wanita yang dulu pertama ku kenal

Dengan penuh senyuman dan ketulusan di wajahmu

Ibuku…

Sifat dan Karakter Seseorang

Image

1. JANUARI

Suka mendidik dan dididik.
Sangat mudah melihat kelemahan orang lain dan suka mengkritik
Rajin dan setiap yang dibuat selalu menghasilkan keuntungan.
Suka berbenah atau bersih-bersih dan hal-hal yang serba teratur.
Bersifat sensitif, berpikiran mendalam.
Pandai mengambil hati orang lain.
Pendiam kecuali telah dirangsang.
Agak pemalu dan mendambakan tumpuan yang bisa dipercaya.
Mudah mendisiplinkan diri sendiri.
Badannya sehat tetapi mudah diserang flu.
Bersikap romantik tetapi tidak pandai memamerkannya atau memperhatikannya.
Cukup sayang pada anak-anak.
Suka berdiam di rumah.
Setia pada segala-galanya.
Perlu belajar untuk hidup bersosialisasi.
Mempunyai rasa cemburu yang sangat tinggi.

2. FEBRUARI

Berpikir abstrak.
Suka pada benda yang real dan abstrak.
Inteligent, bijak dan jenius.
Memiliki kepribadian yang mudah berubah.
Mudah menawan hati orang lain.
Agak pendiam, pemalu dan rendah diri.
Jujur dan setia pada segalanya.
Keras hati untuk mencapai tujuan.
Tidak suka dikekang.
Mudah memberontak apabila dikekang.
Emosinya mudah terluka dan sangat sensitif.
Mudah memamerkan dan memperlihatkan amarahnya.
Suka berkawan tapi kurang memamerkannya.
Sangat berani dan suka berangan-angan.
Optimis untuk merealisasikan impiannya.
Pemerhati yang tajam.
Suka hiburan dan suka akan benda yang bersifat seni.
Sangat romantik pada dalamannya tetapi tidak pada luarannya.
Berkecenderungan pada benda yang tahyul.
Amat mudah dan boleh menjadi terlalu boros.
Harus belajar untuk memamerkan emosi.

3. MARET

Berkepribadian yang menarik dan menawan.
Mudah didampingi.
Sangat pemalu dan pemendam rasa.
Sangat baik, jujur dan mudah simpatik.
Sangat sensitif pada perkataan yang dituturkan dan alam sekitar.
Suka pada kedamaian.
Sangat peka kepada orang lain.
Sesuai dengan kerjanya yang memberi khidmat kepada orang lain.
Tidak cepat marah dan sangat baik hati.
Tahu membalas dan mengenang budi orang.
Pemerhatian dan penilaian yang sangat tajam.
Kecenderungan untuk mendendam jika tidak dikontrol.
Suka berangan-angan.
Suka melancong.
Sangat manja dan suka diberi perhatian yang sangat tinggi.
Kelam kabut dalam memilih pasangan.
Suka dengan hiasan rumah tangga.
Punya bakat seni dalam bidang musik.
Kecenderungan kepada benda yang istimewa dan bagus.
Terlalu moody.

4. APRIL

Sangat aktif dan dinamik.
Cepat bertindak buat keputusan tetapi cepat menyesal.
Sangat menarik dan pandai memanjakan diri.
Punya daya mental yang sangat kuat.
Suka diberi perhatian.
Sangat diplomatis (pandai membujuk, berkawan dan pandai menyelesaikan masalah orang).
Sangat berani dan tidak ada perasaan takut.
Suka petualangan, pengasih, penyayang, sopan santun dan pemurah.
Emosi cepat terusik, try to control the emotion.
Kecenderungan bersifat dendam.
Agresif, kelam kabut untuk membuat keputusan.
Kuat daya ingatan.
Gerak hati yag sangat kuat.
Pandai mendorong diri sendiri dan memotivasikan orang lain.
Berpenyakit di sekitar kepala dan dada.
Sangat cemburu dan terlalu cemburu.

5. MEI

Kekerasan hati dan degil.
Kuat semangat dan bermotivasi tinggi.
Pemikiran yang tajam.
Mudah marah apabila tidak dikontrol.
Pandai menarik hati orang lain dan menarik perhatian.
Perasaan yang amat mendalam.
Cantik dari segi mental dan fisik.
Tidak perlu dimotivasikan.
Tetap pendirian tetapi mudah dipengaruhi orang lain.
Mudah dibujuk.
Bersikap sistematik (otak kiri).
Suka berangan-angan.
Kuat daya firasat, memahami apa yang terlintas di hati orang lain tanpa diberitahu.
Bagian telinga dan leher mudah diserang penyakit.
Daya khayal yang tinggi.
Pandai berdebat.
Fisik yang baik.
Kelemahan sistem pernafasan.
Suka sastra, seni dan musik serta melancong.
Tidak berapa suka duduk atau diam di rumah.
Tidak punya banyak anak.
Rajin dan bersemangat tinggi.
Agak boros.

6. JUNI

Berfikiran jauh dan berwawasan.
Mudah digunakan atau dimanfaatkan orang karena sikap baik.
Berperangai lemah lembut.
Mudah berubah sikap, perangai, idea dan mood.
Idea yang terlalu banyak di kepala’
Bersikap sensitif.
Otaknya aktif senantiasa berfikir.
Sukar melakukan sesuatu dengan segera.
Bersikap suka menunda-nunda.
Bersikap terlalu memilih dan selalu mau yang terbaik.
Cepat marah dan cepat sejuk.
Suka berbicara dan berdebat.
Suka membuat lawakan atau lelucon dan bergurau.
Otaknya ceredas berangan –angan.
Mudah dan pandai berkawan.
Orang yang sangat tertib.
Pandai memamerkan sikap.
Mudah terkena influensa.
Cepat merasa bosan.
Sikap terlalu memilih dan cerewet.
Kurang memamerkan perasaan.
Lambat sembuh apabila hatinya terluka.Mudah menjadi eksekutif.
Mempunyai prinsip:siapa yang memuji saya adalah musuh saya tetapi siapa menegur saya adalah kawan saya.

7. JULI

Sangat senang apabila didampangi.
Banyak berahasia dan sukar dimengerti, terutama laki-laki.
Agak pendiam kecuali dirangsang.
Mudah dibujuk.
Sangat menjaga hati atau perasaan orang lain.
Sangat ramah.
Emosi sangat mendalam tapi mudah terluka hatinya.
Berjiwa sentimental.
Jarang mendendam.
Mudah memaafkan tapi sukar melupakan.
Membimbing secara fisik dan mental.
Sangat peka, pengasih serta penyayang.
Melayani semua orang dengan sama.
Daya simpati yang tinggi.
Pemerhatian yang tajam.
Suka menilai orang lain.
Mudah dan rajin belajar.
Suka suka mengenang peristiwa atau kawan lama.
Suka duduk atau diam di rumah.
Suka menunggu kawan tapi tidak mencari kawan.
Tidak agresif kecuali terpaksa.
Lemah dari segi kesehatan perut.
Mudah gemuk apabila tidak mengontrol makanan melalui diet.
Minta disayangi.
Mudah terluka hati tapi lambat pulih.
Rajin dalam bekerja.

8. AGUSTUS

Suka bergurau.
Sopan santun dan perhatian terhadap orang lain.
Berani dan tidak mengenal kata takut.
Orangnya agak tegas dan bersikap kepemimpinan.
Pandai membujuk orang lain.
Terlalu pemurah dan bursikap ego.
Nilai harga diri yang sangat tinggi.
Haus akan pujian.
Semangat juangan yang luar biasa.
Sangat cemburu.
Cepat berpikir.
Pikiran yang berdikari.
Suka memimpin dan dipimpin.
Sifat suka berangan-angan.
Berbakat dalam seni lukis, hiburan dan silat.
Cepat ditimpa penyakit ringan.
Belajar untuk relax.
Sikap kelam kabut.
Romantik, pengasih, penyayang.
Suka mencari kawan.

9. SEPTEMBER

Sangat sopan santun.
Sangat cermat, teliti dan teratur.
Suka menegur kesalahan orang lain dan mengkritik.
Pendiam tapi pandai dalam bercakap – cakap.
Sikap sangat cool, sangat baik dan mudah simpati.
Kerja yang dilakukan sangat sempurna.
Sangat sensitif tetapi tidak diketahui.
Orang yang banyak berfikir.
Otak bijak dan mudah belajar.
Suka mencari maklumat.
Kontrol diri untuk tidak terlalu mengkritik.
Pandai mendorong diri sendiri.
Mudah memahami orang lain (daya firasat yang tinggi ) karena banyak menyimpan rahasia.
Suka akan hiburan dan melancong.
Kurang menunjukan perasaannya.
Luka hatinya sangat lama disimpan.
Terlalu memilih pasangan.
Sistematik.

10. OKTOBER

Menyukai orang yang suka kepadanya.
Suka mengambil jalan tengah.
Sangat sangat menawan dan sopan santun.
Kecantikan luar dan dalam.
Tidak pandai berbohong dan berpura – pura.
Mudah rasa simpati, baik, lebih mementing kan kawan.
Senantiasa berkawan.
Hatinya mudah terusik tetapi merajuknya taklama.
Cepat marah.
Tidak menolong orang kecuali diminta.
Suka meliat dariperspektifnya sendiri.
Tidak suka terima pandangan orang lain.
Emosi yang mudah terusik.
Suka berangan dan pandai bercakap.
Daya firasat yang sangat kuat (terutama perempuan).
Suka melancong , bidang sastra dan seni.
Pengasih, penyayang dan lemah lembut.
Romantik dalam prcintaan.
Mudah terusik hati dan cemburu.
Suka kegiatan luar.
Orang yang adil.
Boros dan mudah dipengeruhi sekitarnya.
Mudah patah semangat.

11. NOVEMBER

Banyak ide.
Sukar untuk dimengerti atau difahami sikapnya.
Berpikiran ke depan.
Berikiran unik dan bijak.
Penuh dengan idea – idea baru yang luar biasa.
Pemikiran yang tajam.
Daya firasat yang sangat halus dan tinggi.
Bagus untuk jadi dokter.
Cermat dan teliti.
Sifat yang berahasia, pandai mengorek dan mencari rahasia.
Banyak berpikir, kurang bicara tetapi mesra.
Berani, pemurah, setia, dan sabar.
Apabila mau akan diusahakan sehingga berhasil.
Tidak suka marah kecuali digugat.
Cara berpikir yang lain dari orang lain.
Otak yang sangat tajam.
Pandai mendorong diri sendiri.
Tidak menghargai pujian.
Kasih sayang dan emosi yang sangat mendalam.
Tidak pasti dengan hubungan kasih sayang.
Sangat rajin dan berkemampuan tinggi.
Amanah, jujur, setia dan pandai berahasia.
Perangai tidak dapat diramal dan mudah berubah-ubah.

12. DESEMBER

Sangat setia dan pemurah.
Bersifat patriotik.
Sangat aktif dalam permainan dan pergaulan.
Sikap kurang sabar dan tergesa-gesa.
Bercita-cita tinggi.
Suka menjadi yang berpengaruh dalam organisasi.
Senang apabila didampingi.
Suka bergaul dengan orang.
Suka dipuji, diberi perhatian dan suka dibelai.
Sangat jujur, tidak pandai berpura-pura, cepat marah.
Perangai yang berubah-ubah.
Tidak ego walaupun harga diri yang sangat tinggi.
Benci apabila dikekang.
Pandai membuat lelucon.
Berpikir dengan logika.

“The Power of Muharram”

Assalamu’alaikum Wr. Wb…!!!

Image

First of all, let’s thanks to Allah SWT who has given us mercies and blessing. So we can gather in this peaceful place within happy condition and good situation. Alhamdulillah (Allahuakbar)

Secondly, may peace and salutation always be given to our top leader Rasulallah SAW. Let’s say shalawat to him with saying “Allahummashalli’ala Sayyidina Muhammad, Wa ‘Ala Alisayyidina Muhammad” (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam)

Month of Muharram, is one of the 4 months glorified by Allah SWT. As has been spoken by Allah in surah At-Tawbah : 36.

“The number of the months, with Allah, is twelve in the Book of Allah, the day when He created the heavens and the earth; of these, four are sacred. That is the right religion. Therefore, do not wrong yourselves in them and fight against the unbelievers all together as they themselves fight against you all together; know that Allah is with the cautious.”

As for the four month reference is: Zulkaidah months, Zulhijjah, Muharram and Rajab.

Maybe we’ve asked in our minds, why does muharram month is said to be one of the most honored by Allah SWT.?

Dear my beloved brothers and sisters who are honored by Allah SWT,,,!!!

The glory of  muharram month is because there was a day we call the day of Ashura ‘ (ten muharram). And on that day many incredible events that occurred, such as          :

  1. Prophet Adam’s repentance is accepted on the 10th of Ashura’.
  2. Noah was saved from the flood sump on this date.
  3. Prophet Abraham was saved from a burning fire.
  4. Prophet Yunus ejected from the belly of the fish.
  5. Allah created heaven and hell on this date.
  6. Allah created the angels Gabriel, Michael, Israfil and Azrael on this date.
  7. And Allah also created His Throne and the Chair on this date. And many other extraordinary events on the 10th of Muharram.

Dear my beloved brothers and sisters who are honored by Allah SWT,,,!!!

Now we have entered the month of muharram, 1435 H. So, how do we have to be better than previous years.?

The best lesson from this time travel was to be aware or introspective ourselves about our step tread along this time, in order to, everything that we will do in this year could be better than a year ago. We have got at least five days that should we fill with good deeds.

  1. The first day is Past, the time period that we have passed, since we are born into this world.
  2. The second day is present, the day we are experiencing now.
  3. The third day is future, we do not know, whether it is mine or not.
  4. The fourth is, a day when we pulled by Izrail, to finalize this mortal life.
  5. The fifth is a calculation day, when our charity and work values​​ has no meaning anymore.

Dear my beloved brothers and sisters who are honored by Allah SWT,,,!!!

Finally, in this new year let us together improve our haliyah, our deeds, our worship, and our spirit in the fight in the way of Allah SWT.

May be until here from me, thank you for giving me a chance to convey these short useful messages, and apologize for all the mistakes I have made.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb…!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.